@sufi.santri3: Satu kalimat Rumi tentang kesepian ini mungkin akan mengubah cara kita memandang waktu sendirian yang selama ini terasa menakutkan. Tetapi kalimat itu bukan tentang bagaimana menemukan seseorang agar kita tidak lagi kesepian. Justru sebaliknya. Rumi mengajak kita melihat kesendirian dari arah yang jauh lebih dalam: sebagai pengalaman keterpisahan yang mungkin sedang menunjukkan kepada kita sesuatu tentang asal-usul kerinduan di dalam diri. Dalam pembukaan *Masnavi*, Rumi menghadirkan metafora yang sangat kuat: seruling buluh yang telah dipisahkan dari rumpunnya. Ia menangis, mengeluh, dan menyanyikan kisah tentang keterpisahan. Bagi Rumi, tangisan seruling bukan sekadar kesedihan karena kehilangan tempat. Ia menjadi simbol manusia yang merasakan adanya sesuatu yang hilang jauh di dalam dirinya, sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh keramaian dunia. Rumi menulis bahwa siapa pun yang jauh dari asalnya akan terus merindukan saat ketika ia kembali bersatu dengannya. Di sinilah kesepian memperoleh makna yang berbeda. Selama ini kita menganggap kesepian sebagai keadaan ketika tidak ada orang di sekitar kita. Kita menyebut diri kesepian ketika tidak ada pesan yang masuk, ketika tidak ada seseorang yang bertanya bagaimana keadaan kita, ketika tidak ada bahu untuk bersandar, atau ketika malam terasa terlalu panjang karena kita harus melewatinya seorang diri. Tetapi Rumi seakan bertanya lebih jauh: Bagaimana jika yang sebenarnya kita rindukan bukan sekadar seseorang? Bagaimana jika ada kerinduan yang lebih tua daripada semua hubungan manusia? Sebab ada orang yang dikelilingi banyak manusia tetapi tetap merasa kosong. Ada seseorang yang memiliki pasangan tetapi tetap merasa tidak dipahami. Ada yang memiliki ribuan pengikut tetapi diam-diam merasa tidak dikenal oleh siapa pun. Dan ada pula seseorang yang duduk sendirian di sebuah kamar, tetapi justru untuk pertama kalinya merasa dekat dengan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya. Maka kesepian tidak selalu berarti kekurangan manusia. Kadang-kadang ia adalah tanda bahwa hati kita sedang mencari sesuatu yang tidak dapat diberikan sepenuhnya oleh manusia. Inilah salah satu kedalaman metafora seruling Rumi. Seruling menghasilkan suara karena ia telah mengalami keterpisahan. Kesedihannya justru menjadi musik. Luka keterpisahannya berubah menjadi bahasa. Bukankah manusia juga demikian? Sering kali kita baru mulai memahami diri sendiri setelah kehilangan seseorang. Kita baru memahami nilai kehadiran setelah mengalami ketidakhadiran. Kita baru belajar melepaskan setelah sesuatu yang kita cintai tidak dapat lagi kita genggam. Dan kita baru bertanya tentang Tuhan ketika semua hal yang selama ini kita jadikan tempat bersandar ternyata tidak mampu menyelamatkan kita dari kesunyian. Karena itu, mungkin tidak semua kesendirian harus segera diobati. Ada kesunyian yang perlu didengarkan. Ada ruang kosong yang tidak harus buru-buru diisi. Ada malam ketika kita tidak perlu mencari siapa pun, melainkan cukup duduk bersama diri sendiri dan membiarkan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kita hindari muncul ke permukaan. Siapa aku ketika tidak ada seorang pun yang sedang melihat? Apa yang sebenarnya kucari dari semua perhatian manusia? Mengapa aku begitu takut tidak dibutuhkan? Mengapa kepergian seseorang membuatku merasa seolah-olah seluruh hidupku kehilangan makna? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang menyakitkan. Tetapi mungkin justru karena itulah ia penting. Sebab sebagian besar hidup kita dihabiskan untuk melarikan diri dari pertanyaan yang paling penting. Kita mengisi setiap jeda dengan suara. Kita membuka ponsel ketika sunyi. Kita mencari percakapan ketika hati gelisah. Kita mengejar perhatian ketika merasa tidak berharga. Kita mencari seseorang untuk mengisi ruang kosong yang bahkan kita sendiri tidak mengerti bentuknya. Padahal bisa jadi, ruang kosong itu bukan kesalahan. Bisa jadi ia adalah pintu. #ribath💫 #ustadzgaul

RIBATH OfficiaL
RIBATH OfficiaL
Open In TikTok:
Region: ID
Friday 25 September 2026 15:51:20 GMT
40369
2016
43
241

Music

Download

Comments

ayah.danay
Ami BERKAHJAYA :
aku MRSA ksepian smnjak suami mninggal ya Allah aku akan sabar aja aku yakin di depan sana ada kebahagiaan
2026-09-26 00:49:53
6
haliah.othman
haliah othman :
Kesepian itu indah sebenarnya...
2026-09-26 01:39:47
2
kacangbotol.77
kacang botol 77🤣 :
🥰🥰apa cuma sy yg menyukai kesepian, kesendirian, tenang, damai ngk suka keramaian,atau mgkin sy SDH berdamai dgn keadaan itu,ngk Ambil pusing, nikmat in aja
2026-09-26 08:03:55
2
cekna0626
cekna06 :
ya Allaah.. Allaahu Akbar.. terima kasih ini smua sebagai motivasi yg terbaik.. terima kasih sahabat.. 🥺💗💗
2026-09-26 02:40:43
1
hazizahizzah
hazizah :
kesepian itu memang menkutkan tapi jika kita terbiasa dan menerima justru dari sepi itu kita jadi lebih mengenal diri dan allah krn sejatinya kita memang sendirian tanpa ada yg menemani kecuali allah dia tidak pernah meninggalkan kita dlm keadaan apapun 😭😭allah allah ♥️♥️
2026-09-26 04:53:04
3
ernypradniparamita
🇮🇩 ERNY_PRADNI 🇮🇩🇵🇸 :
MasyaAllah.. Allohuakbar... 😇😇🥰🥰
2026-09-27 12:35:12
1
octapamuncakchabellen
EDELWEYS :
judul lagunya apa ya guys, bisa tolong spill ! 🙏
2026-09-26 00:25:02
0
azizahazizah509
Azizah Azizah :
dalam sunyi sepi tu lah yang terbaik tuk muhasabah diri sendiri, tuk lebih baik, tuk menerima hakikat hidup yang sebenar,
2026-09-26 09:40:32
1
hanah.mas.raudah
Hanah Mas Raudah :
2026-09-27 04:50:05
0
icharles7266
BAPERAN :
ya Allah,harta gk mnjamin dan gk bisa membeli kesepianku,cinta kluarga lebih dari apapun..andai waktu bisa di putar kembali, 😭😭😭
2026-09-25 22:19:48
1
solihadin1963
Soliha Din :
Ya Allah aku Ikhlas menerima segala kesepian ini.
2026-09-26 08:44:56
0
digdaya.center
erlangga digdaya nuswantoro :
berkah
2026-09-27 06:32:53
0
marciano6730
marciano :
kepanjangan jadi males bacanya.
2026-09-27 22:32:20
0
momvynara
Tri Sulastri :
Aamiin ya Allah 🤲
2026-09-25 21:06:33
0
nur_azahra07
Bunda Rini 🤲💪 :
rasa sunyi sepi itu ada di hati, batin obatnya bukan keramaian, diperhatikan manusia, di pertanyakan manusia tp rasa itu akan hilang saat Dia bertemu dgn pencipta dia sendiri🙏
2026-09-26 22:36:10
0
momtwins195
Mom Twins :
Masya Allah lagunya..🥰..ap ya judulnya..
2026-09-26 14:10:03
0
frantabbhie
Frant Abbhie :
2026-09-27 05:37:21
0
rakel.berutu4
Rakel Berutu :
2026-09-26 18:32:34
0
abdulmadjid08
abah :
dari dulu - sekarang, selalu sepi kesepian menjadi teman seumur hidup
2026-09-26 07:30:48
0
mamahsayem11
Belpin :
menyentuh hati sekali[Menghangatkan hati][Menghangatkan hati]
2026-09-26 06:51:08
0
akuini3006
Nurul Aini :
benar kadang aku juga merasa kesepian tapi setelah shalat serasa tenang dan ada perhatian dr Allah.. ternyata ini bentuk Allah sayang menjaga kita
2026-09-28 10:12:46
0
danisherlangga638
★MAE★ :
hidupku hanya selalu bersyukur..
2026-09-29 00:49:34
0
mamahsayem11
Belpin :
jgn merasa kesepian, tapi menikmati kesepian
2026-09-26 06:53:19
0
radzi907
radzi. :
💯👍
2026-09-26 08:26:05
0
rizal.efendi715
Rizal Efendi :
stay ikhlas, sabar menerima apa yang sudah terjadi
2026-09-25 23:21:12
0
To see more videos from user @sufi.santri3, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

How to build an entire app with AI, the kind a developer charges $10,000 for You don't need to know how to code to build a real app. You need one idea first: every app has two halves. The restaurant: Front end = the dining room. Everything the customer sees and touches: the menu, the buttons, the booking form. In your app, that's the screens. Back end = the kitchen. The customer never walks in, but that's where the work happens: check the time slot is free, take the payment, save the booking, send the text. Database = the pantry. It stores every customer, every dog, every booking. Close the app, come back next week, and it's all still there. API = the waiter carrying orders between them. The screen asks, the back end answers. Most people only describe the dining room when they ask AI to build something. They get a beautiful app that forgets everything the second they hit refresh. The build, in Claude Code (a dog groomer's booking app): Plan: who it's for, the screens, what the kitchen does and what goes in the pantry, written to a plan file before any code. Front end: the booking page and owner dashboard, previewed in your browser. Point at what's off and it fixes it in seconds. Back end: a free Supabase project gives you two things, a web address for your database and a key. Keys go in one private file called .env: the key drawer in your back office. Then Claude Code connects the booking form and builds the tables. Log-in: email and Google, with Supabase handling the passwords. One rule, row level security: every customer only sees their own bookings. Test it by logging in as two different people. Getting paid: Stripe in test mode (play money). Copy the secret key into the drawer, ask for a $25 deposit with Stripe Checkout, test with 4242 4242 4242 4242. A webhook is Stripe calling your kitchen back to say
How to build an entire app with AI, the kind a developer charges $10,000 for You don't need to know how to code to build a real app. You need one idea first: every app has two halves. The restaurant: Front end = the dining room. Everything the customer sees and touches: the menu, the buttons, the booking form. In your app, that's the screens. Back end = the kitchen. The customer never walks in, but that's where the work happens: check the time slot is free, take the payment, save the booking, send the text. Database = the pantry. It stores every customer, every dog, every booking. Close the app, come back next week, and it's all still there. API = the waiter carrying orders between them. The screen asks, the back end answers. Most people only describe the dining room when they ask AI to build something. They get a beautiful app that forgets everything the second they hit refresh. The build, in Claude Code (a dog groomer's booking app): Plan: who it's for, the screens, what the kitchen does and what goes in the pantry, written to a plan file before any code. Front end: the booking page and owner dashboard, previewed in your browser. Point at what's off and it fixes it in seconds. Back end: a free Supabase project gives you two things, a web address for your database and a key. Keys go in one private file called .env: the key drawer in your back office. Then Claude Code connects the booking form and builds the tables. Log-in: email and Google, with Supabase handling the passwords. One rule, row level security: every customer only sees their own bookings. Test it by logging in as two different people. Getting paid: Stripe in test mode (play money). Copy the secret key into the drawer, ask for a $25 deposit with Stripe Checkout, test with 4242 4242 4242 4242. A webhook is Stripe calling your kitchen back to say "paid". The text reminder plugs in the same way with Twilio. Every outside service connects like this: account, key, drawer, sentence. Go live: push to GitHub, import into Vercel, paste the same keys into its settings, deploy. Buy your domain, add it in Vercel, copy two DNS lines into your domain company, and it's live on your own name with the padlock. Before real customers: point the webhook at the new address and swap test keys for live keys. After that, adding more is one sentence: Google Calendar sync, a loyalty card, review requests, or an automation that drops every new booking into your CRM. Your job becomes the owner who tests every button like a customer would. #buildwithai #claudecode #aiagent

About