@taphoaanvatmedau: Chân gà rút xương ăn là tê là mê luôn đây #xuhuongtiktok #anvatmedau🍓 #xuhuong #changa #changarutxuong

taphoaanvatmedau
taphoaanvatmedau
Open In TikTok:
Region: VN
Saturday 26 September 2026 01:23:00 GMT
561
10
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @taphoaanvatmedau, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ketika membicarakan suara klasik Uriah Heep, sulit untuk tidak menyebut satu nama: Ken Hensley. Lahir dengan nama Kenneth William David Hensley pada 24 Agustus 1945 di Plumstead, London, ia mulai belajar gitar sejak usia 12 tahun. Namun perjalanan panjangnya sebagai musisi akhirnya membawanya kepada instrumen yang kemudian menjadi salah satu ciri khasnya: organ Hammond.  Pada 1965, Hensley membentuk The Gods. Di band ini ia bukan hanya bermain musik, tetapi juga banyak menulis materi dan memainkan Hammond B3. Menariknya, The Gods pernah dihuni sejumlah musisi yang kemudian menjadi nama besar rock, termasuk Mick Taylor, Greg Lake, dan Lee Kerslake.  Setelah sempat bermain bersama Toe Fat, perjalanan Hensley mencapai titik penting pada akhir 1969. Ia bergabung dengan Spice, yang kemudian berganti nama menjadi Uriah Heep pada Januari 1970. Di sinilah karakter musik Ken Hensley benar-benar berkembang. Bersama Uriah Heep, ia menjadi salah satu penulis lagu utama sekaligus memainkan keyboard, gitar dan bernyanyi. Dalam satu dekade bersama band tersebut, Hensley ikut membentuk suara Uriah Heep melalui lagu-lagu seperti “Easy Livin’,” “Stealin’,” “Look at Yourself,” “Free Me,” dan “Lady in Black.” Pada lagu terakhir, Hensley bahkan menjadi vokalis utama.  Namun di balik kesuksesan Uriah Heep, Hensley juga memiliki sisi musikal yang lebih personal. Dan salah satu pintunya adalah “When Evening Comes.” Lagu ini menjadi bagian dari album solo pertamanya, Proud Words on a Dusty Shelf, yang dirilis pada 1973. Rekamannya berasal dari periode 1971–1972, ketika Hensley masih berada di era penting bersama Uriah Heep. Lagu tersebut kemudian juga dirilis sebagai single di Amerika Serikat.  “When Evening Comes” memperlihatkan Ken Hensley dari sisi yang berbeda. Jika Uriah Heep sering menghadirkan hard rock yang megah, dramatis dan penuh energi, lagu ini terasa lebih personal—seolah membawa pendengar masuk ke dunia Hensley sendiri. Menariknya, lagu ini tidak hilang begitu saja setelah era 1970-an. “When Evening Comes” terus muncul dalam berbagai kompilasi karya solonya, termasuk The Anthology dan Cold Autumn Sunday. Pada album Cold Autumn Sunday tahun 2005, Hensley bahkan merekam kembali lagu tersebut bersama formasi musisi yang berbeda.  Itulah salah satu hal menarik dari Ken Hensley. Ia tidak hanya dikenal karena berada di belakang keyboard Uriah Heep. Ia adalah songwriter, penyanyi, multi-instrumentalis dan produser yang terus mengeksplorasi musik selama puluhan tahun. Kariernya berlangsung dari 1960 hingga 2020, mencakup Uriah Heep, Blackfoot, berbagai proyek solo dan kolaborasi.  Pada 1980, Hensley meninggalkan Uriah Heep setelah tidak puas dengan arah musikal band tersebut. Ia kemudian melanjutkan perjalanan solonya dan sempat bergabung dengan Blackfoot. Tahun-tahun berikutnya tidak membuatnya berhenti berkarya. Ia terus merekam album, melakukan tur dan tampil bersama berbagai proyek hingga memasuki usia lanjut. Ken Hensley meninggal dunia pada 4 November 2020, di usia 75 tahun, di Agost, Alicante, Spanyol. Namun musiknya terus hidup melalui rekaman-rekaman yang ia tinggalkan.  Dan mungkin, ketika malam mulai datang… “When Evening Comes” adalah salah satu lagu yang paling tepat untuk mengingat kembali sisi lain Ken Hensley. Bukan hanya sang keyboardist Uriah Heep. Bukan hanya pria di balik suara Hammond yang megah. Tetapi seorang musisi yang juga punya ruang personal dalam musiknya sendiri. Dari “Easy Livin’” hingga “When Evening Comes”, dari panggung Uriah Heep hingga karya solonya, Ken Hensley meninggalkan jejak yang sulit dipisahkan dari sejarah rock Inggris. #kenhensley #wheneveningcomes #britishrock
Ketika membicarakan suara klasik Uriah Heep, sulit untuk tidak menyebut satu nama: Ken Hensley. Lahir dengan nama Kenneth William David Hensley pada 24 Agustus 1945 di Plumstead, London, ia mulai belajar gitar sejak usia 12 tahun. Namun perjalanan panjangnya sebagai musisi akhirnya membawanya kepada instrumen yang kemudian menjadi salah satu ciri khasnya: organ Hammond. Pada 1965, Hensley membentuk The Gods. Di band ini ia bukan hanya bermain musik, tetapi juga banyak menulis materi dan memainkan Hammond B3. Menariknya, The Gods pernah dihuni sejumlah musisi yang kemudian menjadi nama besar rock, termasuk Mick Taylor, Greg Lake, dan Lee Kerslake. Setelah sempat bermain bersama Toe Fat, perjalanan Hensley mencapai titik penting pada akhir 1969. Ia bergabung dengan Spice, yang kemudian berganti nama menjadi Uriah Heep pada Januari 1970. Di sinilah karakter musik Ken Hensley benar-benar berkembang. Bersama Uriah Heep, ia menjadi salah satu penulis lagu utama sekaligus memainkan keyboard, gitar dan bernyanyi. Dalam satu dekade bersama band tersebut, Hensley ikut membentuk suara Uriah Heep melalui lagu-lagu seperti “Easy Livin’,” “Stealin’,” “Look at Yourself,” “Free Me,” dan “Lady in Black.” Pada lagu terakhir, Hensley bahkan menjadi vokalis utama. Namun di balik kesuksesan Uriah Heep, Hensley juga memiliki sisi musikal yang lebih personal. Dan salah satu pintunya adalah “When Evening Comes.” Lagu ini menjadi bagian dari album solo pertamanya, Proud Words on a Dusty Shelf, yang dirilis pada 1973. Rekamannya berasal dari periode 1971–1972, ketika Hensley masih berada di era penting bersama Uriah Heep. Lagu tersebut kemudian juga dirilis sebagai single di Amerika Serikat. “When Evening Comes” memperlihatkan Ken Hensley dari sisi yang berbeda. Jika Uriah Heep sering menghadirkan hard rock yang megah, dramatis dan penuh energi, lagu ini terasa lebih personal—seolah membawa pendengar masuk ke dunia Hensley sendiri. Menariknya, lagu ini tidak hilang begitu saja setelah era 1970-an. “When Evening Comes” terus muncul dalam berbagai kompilasi karya solonya, termasuk The Anthology dan Cold Autumn Sunday. Pada album Cold Autumn Sunday tahun 2005, Hensley bahkan merekam kembali lagu tersebut bersama formasi musisi yang berbeda. Itulah salah satu hal menarik dari Ken Hensley. Ia tidak hanya dikenal karena berada di belakang keyboard Uriah Heep. Ia adalah songwriter, penyanyi, multi-instrumentalis dan produser yang terus mengeksplorasi musik selama puluhan tahun. Kariernya berlangsung dari 1960 hingga 2020, mencakup Uriah Heep, Blackfoot, berbagai proyek solo dan kolaborasi. Pada 1980, Hensley meninggalkan Uriah Heep setelah tidak puas dengan arah musikal band tersebut. Ia kemudian melanjutkan perjalanan solonya dan sempat bergabung dengan Blackfoot. Tahun-tahun berikutnya tidak membuatnya berhenti berkarya. Ia terus merekam album, melakukan tur dan tampil bersama berbagai proyek hingga memasuki usia lanjut. Ken Hensley meninggal dunia pada 4 November 2020, di usia 75 tahun, di Agost, Alicante, Spanyol. Namun musiknya terus hidup melalui rekaman-rekaman yang ia tinggalkan. Dan mungkin, ketika malam mulai datang… “When Evening Comes” adalah salah satu lagu yang paling tepat untuk mengingat kembali sisi lain Ken Hensley. Bukan hanya sang keyboardist Uriah Heep. Bukan hanya pria di balik suara Hammond yang megah. Tetapi seorang musisi yang juga punya ruang personal dalam musiknya sendiri. Dari “Easy Livin’” hingga “When Evening Comes”, dari panggung Uriah Heep hingga karya solonya, Ken Hensley meninggalkan jejak yang sulit dipisahkan dari sejarah rock Inggris. #kenhensley #wheneveningcomes #britishrock

About