@khibomedi2026: Noah _ Semua tentang kita live konser dekadeXperience 2022 plus lirik #noah #dekadexperience #arielnoah #konsernoah #semuatentangkita

Khibomedi
Khibomedi
Open In TikTok:
Region: ID
Monday 28 September 2026 10:00:31 GMT
105414
4526
45
319

Music

Download

Comments

sam.andre14
Sam Andre :
pantes banyak wanita yang mau sama Ariel, aura nya gak usah diragukan lagi
2026-09-29 06:23:58
5
arkana.bush
penikmat senja :
Ariel memang ok....
2026-09-29 12:15:43
3
matawayang.03
Mata Wayang :
Lagu pertama yg merobek "Hati begitu Dalam ketika kita mendengarkanya saat kehilangan seseorang.
2026-09-29 13:26:47
6
user2652883751167
boogie :
lukmen....mantap [Kekuatan]
2026-09-29 12:59:54
2
flaminggo883
Menik Manis :
lagu ini mengingatkanku padanya... tuhan itu adil dan juga maha mengetahui mana yg terbaik buat kita 🥰🥰
2026-09-30 12:18:24
3
dondondemitrengas
Arya dwipangga :
Ariel yg nyanyi gue yang merasa keren,,inget masa muda♥️
2026-09-29 13:51:34
3
al.huda258
DA🫂 :
renyah banget
2026-09-29 02:42:39
2
bundranfazzio
B U N D R A N🪽 :
wowww 😎❤best
2026-09-28 15:45:20
2
matchacii1933
Headmaster :
Legend
2026-09-29 07:47:16
2
acilaaja
gembel elit :
ternyata 20 thn lalu itu,terasa singkat yah.
2026-09-29 23:26:50
2
_mnd21
_mnd21 :
kangen ngonser 🥲
2026-09-28 16:03:43
2
adialvian1
bejo77 :
memang beda aura Ariel saat perform di panggung...jos gandos
2026-09-29 06:56:40
2
cu_mik
cumix :
🥶Rindu
2026-09-28 18:33:05
1
durenmanis07
Duren Manis_07 :
Lagu ini adalah kenangan aku pertama kali merasakan patah hati💔🤣😂🤣
2026-09-29 03:12:31
2
holili.holili14
Holili Holili :
Setiap mendengar bawaan mau mwk🥺🥺
2026-09-29 10:54:58
1
wanglin40n9hua
Wanglin :
dulu senang kali dengarnya tp di tahun 2026 baru tahu artinya
2026-09-29 13:31:11
1
dwi.riyyan
Dwi Riyyan Al ghifari :
lagu favorit aku di zamannya waktu masih gadis
2026-09-30 04:48:18
0
alleiaarsyidris
alleiaarsyidris :
2026-09-28 16:31:44
0
kertasputih272
Kertas-Putih :
ingat lagu ini ketika SMA yang asyik"nya latihan band ,rental band sesuai pulang sekolah ,dan ketika paling suka.. ketika kegiatan kampung Pramuka ,tengah malam di tengah hutan ,denger petikan melodi dan lagu ini 24 tahun yang lalu
2026-09-28 14:51:24
5
amirkan0327
Amirkan :
lagu perpisahan jaman sekolah
2026-10-01 21:08:37
0
indah_unyil0
@_I_N_D_A_H🌹🌹 :
lagu dari zaman aku abg sampai mbg🧐🧐 kadang masih rindu dengan yang berlalu
2026-10-01 10:42:32
0
_bot.ai
Z :
Dewa,Slank,SO7,Peterpan/Noah. Band legend yg pasti ramai konsernya hingga saat ini.
2026-10-01 03:37:56
0
jb_18dumai
Jonri18Shop :
asik dengar lagunya
2026-10-01 14:28:29
0
alfriyansyah78
4LFR1Y4N5Y4H :
#tentangkita Nice 😎👌
2026-09-30 14:52:18
0
mouza_ku2
_✨mouza_ku♑✨_ :
2026-09-28 16:52:05
1
To see more videos from user @khibomedi2026, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV: Kembang Raga. Angin sore dari lereng Merapi berhembus lembut melalui halaman Keraton Sukmaningrat, membawa wangi dupa yang menyala di sudut-sudut pendapa. Gamelan mengalun lirih dari balik regol, namun suasana hati sang putra mahkota, Raden Mahesa Adipati, jauh dari kata tenang. Ia adalah putra tunggal Prabu Adiningrat dan Dewi Sekar Wangi, pewaris sah takhta Sukmaningrat. Hari-harinya dipenuhi tugas negara, namun dalam beberapa bulan terakhir, satu desakan terus memenuhi telinganya. Mahesa harus segera menikah. Para pinisepuh, punggawa, bahkan rakyat di luar tembok keraton membicarakan hal itu dengan penuh harap. Namun di balik banyak nama gadis bangsawan yang diusulkan, hanya satu yang diam-diam mengisi batin Mahesa: Y/N Ayu Sarasvati, putri tunggal Keraton Suryanegara. Gadis berparas ayu, bertutur lembut, namun diselimuti aura mistis yang tidak dimiliki putri manapun. Konon ia lahir ketika rembulan purnama tepat berada di tengah langit—tanda seorang anak yang membawa keseimbangan antara alam kasat mata dan alam alus. Banyak yang berkata bahwa Y/N memiliki waskita, mata batin kedua yang terbuka. Tidak mengherankan bila kehadirannya selalu membuat orang lain merunduk hormat, bukan sekadar karena darah biru, tapi karena aura halus yang menyertainya. Dan pada suatu malam penuh cahaya obor, Mahesa akhirnya menghadap kedua orang tuanya. “Ibu, Rama… kawula sampun gadhah pilihan,” ucapnya sambil menundukkan kepala dalam-dalam. “Sinten niku, Le?” tanya Dewi Sekar Wangi, lirih namun menembus hati. Mahesa menarik napas panjang. “Putri Prabu Suryantara… Y/N Ayu Sarasvati.” Keheningan memenuhi pendapa. Namun dalam senyap, Prabu Adiningrat tersenyum kecil. Maka, malam itu juga, Mahesa berangkat ke Keraton Suryanegara untuk menyampaikan niatnya. Keesokan harinya, Y/N menemuinya di sebuah taman penuh bunga sedap malam. Cahaya pagi memantul lembut di kulitnya, membuat aura halus itu semakin terasa. Mahesa menahan degup jantungnya ketika akhirnya bicara. “Dek… kedatengan kulo teng mriki, kulo arepe ngiket sampean.” Y/N menunduk, jemarinya menekan kain jariknya. “Mas… yen panjenengan ajenge ngiket kulo, kulo nyuwun setunggal soko saka panjenengan.” Mahesa mendekat, tatapannya teguh. “Opo sing kok jaluk, dek? Mas siap nuruti.” Y/N mengangkat wajahnya. Tatapannya tenang… namun mengandung beban besar. “Kulo nyuwun mas nggolek kembang tujuh rupa ing Alas Kulon.” Mahesa menelan ludah. Alas Kulon bukan sembarang hutan. Itu adalah gerbang antara dunia manusia dan dunia alus, tempat para penunggu dan makhluk tak bernama tinggal. Namun Y/N belum selesai. Dengan suara yang sedikit bergetar, ia menambahkan. “Mas Mahesa… kulo maringi wektu 7 dinten 7 bengi.
POV: Kembang Raga. Angin sore dari lereng Merapi berhembus lembut melalui halaman Keraton Sukmaningrat, membawa wangi dupa yang menyala di sudut-sudut pendapa. Gamelan mengalun lirih dari balik regol, namun suasana hati sang putra mahkota, Raden Mahesa Adipati, jauh dari kata tenang. Ia adalah putra tunggal Prabu Adiningrat dan Dewi Sekar Wangi, pewaris sah takhta Sukmaningrat. Hari-harinya dipenuhi tugas negara, namun dalam beberapa bulan terakhir, satu desakan terus memenuhi telinganya. Mahesa harus segera menikah. Para pinisepuh, punggawa, bahkan rakyat di luar tembok keraton membicarakan hal itu dengan penuh harap. Namun di balik banyak nama gadis bangsawan yang diusulkan, hanya satu yang diam-diam mengisi batin Mahesa: Y/N Ayu Sarasvati, putri tunggal Keraton Suryanegara. Gadis berparas ayu, bertutur lembut, namun diselimuti aura mistis yang tidak dimiliki putri manapun. Konon ia lahir ketika rembulan purnama tepat berada di tengah langit—tanda seorang anak yang membawa keseimbangan antara alam kasat mata dan alam alus. Banyak yang berkata bahwa Y/N memiliki waskita, mata batin kedua yang terbuka. Tidak mengherankan bila kehadirannya selalu membuat orang lain merunduk hormat, bukan sekadar karena darah biru, tapi karena aura halus yang menyertainya. Dan pada suatu malam penuh cahaya obor, Mahesa akhirnya menghadap kedua orang tuanya. “Ibu, Rama… kawula sampun gadhah pilihan,” ucapnya sambil menundukkan kepala dalam-dalam. “Sinten niku, Le?” tanya Dewi Sekar Wangi, lirih namun menembus hati. Mahesa menarik napas panjang. “Putri Prabu Suryantara… Y/N Ayu Sarasvati.” Keheningan memenuhi pendapa. Namun dalam senyap, Prabu Adiningrat tersenyum kecil. Maka, malam itu juga, Mahesa berangkat ke Keraton Suryanegara untuk menyampaikan niatnya. Keesokan harinya, Y/N menemuinya di sebuah taman penuh bunga sedap malam. Cahaya pagi memantul lembut di kulitnya, membuat aura halus itu semakin terasa. Mahesa menahan degup jantungnya ketika akhirnya bicara. “Dek… kedatengan kulo teng mriki, kulo arepe ngiket sampean.” Y/N menunduk, jemarinya menekan kain jariknya. “Mas… yen panjenengan ajenge ngiket kulo, kulo nyuwun setunggal soko saka panjenengan.” Mahesa mendekat, tatapannya teguh. “Opo sing kok jaluk, dek? Mas siap nuruti.” Y/N mengangkat wajahnya. Tatapannya tenang… namun mengandung beban besar. “Kulo nyuwun mas nggolek kembang tujuh rupa ing Alas Kulon.” Mahesa menelan ludah. Alas Kulon bukan sembarang hutan. Itu adalah gerbang antara dunia manusia dan dunia alus, tempat para penunggu dan makhluk tak bernama tinggal. Namun Y/N belum selesai. Dengan suara yang sedikit bergetar, ia menambahkan. “Mas Mahesa… kulo maringi wektu 7 dinten 7 bengi." "Yen panjenengan mboten bali sakwise wekdal punika… kulo bakal nganggep yen panjenengan mboten diparengake pepadane.” Mahesa tahu, 7 hari 7 malam di Alas Kulon bukan sekadar tenggat waktu. Itu batas antara hidup dan tidak kembali. Namun tanpa ragu, ia berkata: “Nggih dek… kulo sanggup.” Y/N menunduk dalam-dalam. Seolah dalam hatinya terdapat ketakutan besar yang tidak ia ungkapkan. "Semoga berhasil, Mas Raden..." --- Mahesa memasuki hutan itu pada dini hari. Begitu melewati batas Alas Kulon, dunia seakan berubah. Angin lenyap. Burung-burung tak berkicau. Suara gamelan samar terdengar dari kejauhan—namun bukan gamelan manusia. Kabut turun dari segala penjuru. Mahesa mengusap dadanya. “Kulo mlebet kanthi niat suci,” gumamnya. --- Di depan sendang jernih, Mahesa melihat bayangannya. Namun bayangan itu berubah menjadi lelaki tua berbusana jubah putih. Sosok itu berbicara tanpa membuka mulut. “Anak Prabu Adiningrat… elinga. Wektu ora mlaku podo ing kene. 7 dina ing njaba iso dadi sak wulan ing njero.” Mahesa hanya sempat mengangguk sebelum bayangan itu menghilang. --- Saat ia kembali berjalan, tiba-tiba. Tangis bayi terdengar keras. Mahesa menemukan bayi itu, namun saat ia menghampiri, tubuh bayi memanjang, meliuk, dan berubah menjadi raksasa pucat setinggi dua pohon kelapa. (lanjut di komen) ⚠JUST POV⚠ #POV #HEESEUNG

About