@aizhan.montage: «Жырық, кетік кеседен ас ішпе» дегенді сіз де естіп өстіңіз бе? Бұл жай ғана ырым емес, ел аузында оның бір қызық қиссасы айтылады… Сол оқиғаны осы видеода ЖИ арқылы көрініске айналдырып шықтым. Соңына дейін көріп, пікірге жазыңыз: Сіз үйде жырық немесе кетік ыдысты қолданасыз ба? Видео ұнаса, лайк басып, сақтап алыңыз. Жақындарыңызбен бөлісіңіз — олар да осы тыйымның төркінін білсін. 🤍 #рек #рекомендации #fypシ #қазақстан

aizhan.montage
aizhan.montage
Open In TikTok:
Region: KZ
Sunday 27 September 2026 09:18:57 GMT
25675
794
39
1145

Music

Download

Comments

user3139168795888
Слушаш Карасаева :
Керемет рахмет жандарым бақытты болыңыздар
2026-09-27 11:49:36
4
user2961265638807
aiman :
бірақ жоқшылық кезінде ыдыс тапшы кезінде сынық ыдыстарды ұсталарға жаматып ас ішкен.
2026-09-27 15:09:27
2
seralieva.akerke
𓆩♡𓆪Бес ханшайымның анасы𓆩♡ :
мулдем колданбаймын ,сырылып турса да тастаймын .
2026-09-28 10:30:37
0
user3673050598351
user3673050598351 :
Ммкін бұл дұрыс шығар.
2026-09-28 18:14:42
1
erbolatkamelgazy
Erbolat Kamelgazy :
жоқ
2026-09-27 12:10:20
1
userstr0uu9249
A :
Жоқ ұстамаймыз 🤲🤲🤲❤️❤️❤️Алла
2026-09-28 18:03:50
0
sayat8589
Sayat8589 :
менин бир окыганым жырык жеринен ишпе а былай болады деген себеби ысырап болат дит
2026-09-28 16:53:26
0
user16561996196297
Рыскул :
Жок
2026-09-28 02:17:46
0
zhanibekkasymbaev78
Zhoni78 :
иә дұрыс
2026-09-28 02:41:28
0
user36970136619573
Сақыш49 :
Жоқ қолданбаймыз .😊
2026-09-27 15:18:16
0
gfdhgxgfdggf
Gfdhg Xgfdggf :
Әкем марқұм Анам марқұм айтып отыратын еді.Бала кезімде .Сол есімде.Қалған .Содан соң келініме айтып отырамын.
2026-09-28 14:53:37
0
erkenazz19
erkenazz19 :
Қолданбаймыз
2026-09-27 15:50:09
0
user3088503023079
Болат Ибрагимов :
Мен лақтырып тастаған жырық кесе тарелканы.
2026-09-28 02:26:44
0
user1680433032098
Ардақ Дүйісбекова :
қолданбаймын
2026-09-27 19:36:45
0
dyxt3bwo4p0
dyxt3bwo4p0 :
жоқ
2026-09-28 05:37:34
0
gulzhansmagulova3
Gulzhan Smagulova :
Бұл-баршылық пен тоқшылықтың әңгімесі ғой, жоқшылық кезде сол жырық пен сынық ыдысқа да зар болған, жаматып, жасқатып, құрсаулатып қолданған.
2026-09-27 17:54:27
1
user9924379529174
асик :
2026-09-27 10:24:14
0
user2510100021090
user2510100021090 :
Жоқ
2026-09-27 16:52:12
0
user5222631065547
Сайрам Шалабаева :
Жок
2026-09-27 13:38:52
0
user2961265638807
aiman :
Мүмкін бұл дұрыс шығар.
2026-09-27 15:07:25
0
user2354702182825
Давлетпакова Багдат Жаныс Дула :
жок.тастаймыз
2026-09-28 18:29:05
0
gulraikhon28
🇰🇿Генерал Тик тока ❤️🌹 :
Осыны естігем содан бастап келініме немерелеріме айтып Сынған ыдыстарды ұстатпаймын .Оларда үйренді 🙏🙏🙏
2026-09-27 14:32:34
0
ayan.ermekbai50
Ayan Ermekbai :
Алла
2026-09-27 15:12:54
0
nurzia.ospanova
Nurzia Ospanova :
Жооқ,ұстамаймын кетік ыдысты.Лақтыртып жіберемін,естігенмін МЕНде.Түнге айналғанда.ыдыстарды жауып жуылмаған ыдысты қалтырмаймын,сүйек,саяқтыда жоқ қылып тастаймынмүжілген,желінген,шайтан үймелейді деп естігенмін.Оттың басын тазалап,реттеп. жатамын.Білмегендер болса жаст ар, әсіресе,есте ұстандар.
2026-09-27 15:07:58
0
raixan_1962
Райхан :
🥰🥰🥰
2026-09-27 11:17:29
0
To see more videos from user @aizhan.montage, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

yang pernah datang tanpa rencana, lalu menetap di ruang yang bahkan tak kusadari ada. Kau hadir bukan sebagai kebetulan, tapi sebagai doa yang tiba dalam wujud manusia. Kau tahu? Aku tak pernah meminta cinta datang seindah itu, dan aku juga tak pernah siap saat ia harus pergi. Namun begitulah takdir — ia memberi kita rasa yang besar, tanpa memberi waktu yang panjang. Kita berjalan di dunia yang sama, namun arah kita tak lagi sejalur. Kau punya tangan lain yang harus kau genggam, dan aku punya hati sendiri yang harus kubujuk agar tenang. Tapi meski jarak membentang sejauh apa pun, aku tahu — ada sesuatu dari kita yang tak bisa dihapus oleh waktu. Kita adalah rahasia yang hidup di antara doa dan luka. Rahasia yang tak butuh saksi, tak memerlukan penjelasan, karena yang memahaminya hanya dua hati yang pernah saling bergetar dalam sunyi. Malam-malam terasa panjang, dan dalam setiap hembusan udara yang dingin, ada bisik namamu yang menepi di dadaku. Aku berbicara dengan bayanganmu, seolah semesta paham bahwa aku masih di sini — menunggu, meski tanpa janji. Aku menulis namamu di setiap doa, bukan untuk meminta kembali, tapi agar Tuhan tahu bahwa aku masih mengingatmu tanpa dendam, masih merindukanmu tanpa pamrih, dan masih mencintaimu dengan cara yang tenang — seperti angin yang selalu tahu jalan pulang ke pohon yang sama. Kau tahu, cinta? Ada kalanya aku ingin marah pada waktu, karena ia terlalu cepat mempertemukan, dan terlalu kejam memisahkan. Namun di sisi lain, aku bersyukur pernah mengenalmu — sebab di antara banyak luka, kau adalah alasan kenapa aku belajar tentang ketulusan. Kini aku hidup berdampingan dengan kenangan, berteman dengan doa, dan berdamai dengan luka. Namun dalam setiap denyut yang masih berani mengingat, ada keyakinan yang tak bisa kupadamkan: bahwa kita belum selesai. Mungkin semesta hanya sedang menyembunyikan kelanjutan kisah ini, menulis bab selanjutnya di langit yang belum sempat kita baca. Mungkin suatu hari, ketika segalanya telah tenang dan luka telah berubah menjadi cahaya, kau akan kembali — bukan sebagai rahasia, tapi sebagai takdir yang disempurnakan oleh waktu. Aku tidak lagi ingin terburu-buru. Cinta ini tidak menuntut untuk segera bersatu, ia hanya ingin tetap hidup — lembut, sabar, dan setia. Karena yang tumbuh dari doa tidak akan mati, dan yang lahir dari luka tidak akan rapuh. Maka biarlah sekarang aku mencintaimu dari kejauhan, menyebut namamu di antara lirih malam, menitipkan rindu pada angin, dan membiarkan Tuhan yang menerjemahkan segalanya. Sebab aku percaya, bila sesuatu ditulis oleh tangan-Nya, maka tak ada jarak yang terlalu jauh, tak ada waktu yang terlalu lama, dan tak ada luka yang terlalu dalam untuk akhirnya menyatukan dua jiwa yang sejak awal memang diciptakan untuk saling kembali. Dan bila kelak hari itu datang — hari di mana tak lagi ada rahasia, tak lagi ada air mata, tak lagi ada “mungkin”, maka aku akan memandangmu dengan mata yang sama, namun hati yang lebih tenang. Akan kuucap pelan, bukan dengan gemetar, tapi dengan keyakinan: > “Aku menunggumu bukan karena tak bisa melupakan, tapi karena aku percaya — beberapa cinta memang ditakdirkan untuk berputar jauh, hanya agar bisa kembali dengan cara yang lebih indah.” Sampai hari itu tiba, aku akan tetap di sini, menjaga rahasia ini dengan lembut, mendoakanmu dalam diam, dan mencintaimu tanpa batas waktu. Kita adalah rahasia yang hidup di antara doa dan luka — namun juga harapan yang disucikan oleh waktu, yang akan menemukan jalannya sendiri untuk akhirnya bersatu, dalam tenang, dalam cahaya, dalam nama yang sama: kita.
yang pernah datang tanpa rencana, lalu menetap di ruang yang bahkan tak kusadari ada. Kau hadir bukan sebagai kebetulan, tapi sebagai doa yang tiba dalam wujud manusia. Kau tahu? Aku tak pernah meminta cinta datang seindah itu, dan aku juga tak pernah siap saat ia harus pergi. Namun begitulah takdir — ia memberi kita rasa yang besar, tanpa memberi waktu yang panjang. Kita berjalan di dunia yang sama, namun arah kita tak lagi sejalur. Kau punya tangan lain yang harus kau genggam, dan aku punya hati sendiri yang harus kubujuk agar tenang. Tapi meski jarak membentang sejauh apa pun, aku tahu — ada sesuatu dari kita yang tak bisa dihapus oleh waktu. Kita adalah rahasia yang hidup di antara doa dan luka. Rahasia yang tak butuh saksi, tak memerlukan penjelasan, karena yang memahaminya hanya dua hati yang pernah saling bergetar dalam sunyi. Malam-malam terasa panjang, dan dalam setiap hembusan udara yang dingin, ada bisik namamu yang menepi di dadaku. Aku berbicara dengan bayanganmu, seolah semesta paham bahwa aku masih di sini — menunggu, meski tanpa janji. Aku menulis namamu di setiap doa, bukan untuk meminta kembali, tapi agar Tuhan tahu bahwa aku masih mengingatmu tanpa dendam, masih merindukanmu tanpa pamrih, dan masih mencintaimu dengan cara yang tenang — seperti angin yang selalu tahu jalan pulang ke pohon yang sama. Kau tahu, cinta? Ada kalanya aku ingin marah pada waktu, karena ia terlalu cepat mempertemukan, dan terlalu kejam memisahkan. Namun di sisi lain, aku bersyukur pernah mengenalmu — sebab di antara banyak luka, kau adalah alasan kenapa aku belajar tentang ketulusan. Kini aku hidup berdampingan dengan kenangan, berteman dengan doa, dan berdamai dengan luka. Namun dalam setiap denyut yang masih berani mengingat, ada keyakinan yang tak bisa kupadamkan: bahwa kita belum selesai. Mungkin semesta hanya sedang menyembunyikan kelanjutan kisah ini, menulis bab selanjutnya di langit yang belum sempat kita baca. Mungkin suatu hari, ketika segalanya telah tenang dan luka telah berubah menjadi cahaya, kau akan kembali — bukan sebagai rahasia, tapi sebagai takdir yang disempurnakan oleh waktu. Aku tidak lagi ingin terburu-buru. Cinta ini tidak menuntut untuk segera bersatu, ia hanya ingin tetap hidup — lembut, sabar, dan setia. Karena yang tumbuh dari doa tidak akan mati, dan yang lahir dari luka tidak akan rapuh. Maka biarlah sekarang aku mencintaimu dari kejauhan, menyebut namamu di antara lirih malam, menitipkan rindu pada angin, dan membiarkan Tuhan yang menerjemahkan segalanya. Sebab aku percaya, bila sesuatu ditulis oleh tangan-Nya, maka tak ada jarak yang terlalu jauh, tak ada waktu yang terlalu lama, dan tak ada luka yang terlalu dalam untuk akhirnya menyatukan dua jiwa yang sejak awal memang diciptakan untuk saling kembali. Dan bila kelak hari itu datang — hari di mana tak lagi ada rahasia, tak lagi ada air mata, tak lagi ada “mungkin”, maka aku akan memandangmu dengan mata yang sama, namun hati yang lebih tenang. Akan kuucap pelan, bukan dengan gemetar, tapi dengan keyakinan: > “Aku menunggumu bukan karena tak bisa melupakan, tapi karena aku percaya — beberapa cinta memang ditakdirkan untuk berputar jauh, hanya agar bisa kembali dengan cara yang lebih indah.” Sampai hari itu tiba, aku akan tetap di sini, menjaga rahasia ini dengan lembut, mendoakanmu dalam diam, dan mencintaimu tanpa batas waktu. Kita adalah rahasia yang hidup di antara doa dan luka — namun juga harapan yang disucikan oleh waktu, yang akan menemukan jalannya sendiri untuk akhirnya bersatu, dalam tenang, dalam cahaya, dalam nama yang sama: kita.

About