@tomconcept_owner: #tomconcept

tomconcept
tomconcept
Open In TikTok:
Region: ID
Sunday 27 September 2026 11:14:02 GMT
230062
23766
186
1148

Music

Download

Comments

485redboy
LUCKY⚡UPER :
clean concept 🔥
2026-09-27 21:24:03
0
takuzen_060995
Суприанто Бастиан :
kok bisa samaan ya gaya gerak tanganya
2026-09-28 04:14:09
3
paulus.dmk
ALL☆STAR :
kqlo beleh tau ini untuk apq ya?
2026-09-27 11:34:41
53
theonly.doo95
theonlydo :
bukan ga mampu tapi emng ga perlu🔥
2026-09-27 15:27:52
18
mpush_hehe
￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ :
kaca bening = anak soleh
2026-09-28 01:34:40
1
kulkas2pintu172
kulkas2pintu :
2026-09-27 11:43:01
1
ripzz.stecuu
. :
2026-09-27 12:22:52
3
hfdnanda
𝘼𝘾𝙃𝙊𝙉𝙂⚡ :
Bagi rata ya
2026-09-27 12:54:34
0
op_renthal
Aul  :
aww
2026-09-27 12:32:13
0
babywhite28
BABYWHITE.1KR :
2026-09-27 13:05:49
0
daffadillafauzan
᭙ꫀ ᦔꫀꪑ ᥇ꪮꪗ :
2026-09-27 13:12:17
0
kevin_alvino58
𝚅𝚒𝚗𝚗 :
2026-09-27 12:35:16
0
ehsendiiii
•𝕾𝖊𝖓𝖉𝖎𝖎♕_ :
2026-09-27 12:59:02
0
muhamad.khafid3
✧𝖐✧𝖍✧𝖆✧𝖋✧𝖎✧𝖉 :
2026-09-27 12:12:32
0
kaizu.arif
RIF🕷️ :
2026-09-27 11:59:38
0
odybeaja
dyboy.ge8 :
2026-09-27 12:23:35
0
ardnsh1227
F 1935 BU :
2026-09-27 11:58:40
0
asrof0161
Asrof :
2026-09-27 12:43:28
0
ridwannnnn74
ridwannnnn74 :
Combo Ulti
2026-09-27 21:51:23
169
zhask404
GO AHEAD :
info shockbreakernya apa kak kayanya empuk banget
2026-09-27 14:05:02
6
bram.2kd
￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴￴ ￴ ￴ :
2026-09-27 12:07:43
0
lekxi_tipagau
Lekxi_Tipagau :
kaca" anak baik" ini
2026-09-28 02:43:36
0
yellowbee647
YellowBee🐝 :
mau kemana ontyku😆
2026-09-27 15:22:46
0
_rifinnnn
-_-RIFF :
avatar "AVANZA GETAR"
2026-09-27 21:16:09
0
ujaystecue_
trii. :
Gokil brengn
2026-09-27 16:25:51
0
To see more videos from user @tomconcept_owner, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

BUYA HAMKA  ULAMA, SASTRAWAN, DAN PEMIKIR INDONESIA Buya Hamka adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah pemikiran Islam dan sastra Indonesia. Nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah, tetapi masyarakat lebih mengenalnya sebagai Buya Hamka. Ia lahir di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, pada 16 Februari 1908. Hamka berasal dari keluarga ulama. Ayahnya adalah Haji Abdul Karim Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, seorang ulama Minangkabau yang berpengaruh. Sejak kecil, Hamka sudah hidup dalam lingkungan keagamaan. Namun, perjalanan pendidikannya tidak hanya berlangsung di sekolah formal. Ia banyak belajar melalui pesantren, pengajian, membaca buku, berdiskusi, dan perjalanan. Ketika berusia sekitar 16 tahun, Hamka merantau ke Jawa. Di sana ia berkenalan dengan berbagai pemikiran Islam dan gerakan pembaruan. Pengalaman tersebut ikut membentuk cara berpikirnya. Hamka kemudian dikenal bukan hanya sebagai ulama. Ia juga seorang sastrawan, wartawan, penulis, pendidik, dan pemikir Islam. Dalam dunia sastra, namanya dikenal melalui karya seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan Merantau ke Deli. Melalui karya-karyanya, Hamka sering membahas persoalan cinta, agama, adat, pendidikan, kemiskinan, perbedaan sosial, dan kehidupan masyarakat. Salah satu karya terbesarnya adalah Tafsir Al-Azhar. Tafsir ini tidak hanya menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi juga menghubungkannya dengan kehidupan masyarakat dan persoalan yang dihadapi manusia. Corak penafsirannya sering dikategorikan sebagai adabi-ijtima'i, yaitu pendekatan yang memadukan penafsiran dengan persoalan sosial dan kemasyarakatan. Menariknya, sebagian proses penulisan Tafsir Al-Azhar berlangsung ketika Hamka berada dalam tahanan pada masa pemerintahan Orde Lama. Pengalaman hidup tersebut tidak membuatnya berhenti menulis. Justru, tulisan menjadi salah satu cara Hamka menyampaikan pemikiran dan pandangannya. Hamka juga memiliki peran dalam kehidupan organisasi dan masyarakat. Ia aktif di Muhammadiyah dan kemudian menjadi Ketua Umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia memimpin MUI pada periode awal berdirinya organisasi tersebut. Namun, perjalanan Hamka tidak selalu berjalan mudah. Ia pernah menghadapi tekanan politik dan perbedaan pandangan dengan pemerintah. Pada masa hidupnya, ia juga terlibat dalam berbagai perdebatan mengenai agama, politik, kebudayaan, dan kehidupan bangsa. Hamka dikenal memiliki kemampuan menulis yang kuat. Bahasa yang digunakannya dalam banyak karya mampu membawa pembaca pada persoalan agama dan kehidupan sehari-hari tanpa harus menggunakan pembahasan yang terlalu rumit. Karena itu, pengaruh Hamka tidak hanya terasa di kalangan ulama. Karya-karyanya dibaca oleh pelajar, mahasiswa, sastrawan, pendidik, dan masyarakat umum. Hamka meninggal di Jakarta pada 24 Juli 1981, dalam usia 73 tahun. Tetapi setelah kepergiannya, karya-karyanya tetap dibaca. Buku-bukunya terus diterbitkan, Tafsir Al-Azhar terus dipelajari, dan pemikirannya masih menjadi bahan pembicaraan hingga sekarang. Warisan Buya Hamka bukan hanya soal banyaknya buku yang ia tulis. Ia menunjukkan bahwa seorang ulama juga bisa menjadi sastrawan, seorang penulis bisa terlibat dalam persoalan masyarakat, dan ilmu agama dapat dibicarakan melalui bahasa yang dekat dengan kehidupan manusia. Dari Hamka, kita bisa melihat bahwa membaca dan belajar tidak harus membuat seseorang jauh dari kehidupan nyata. Justru, ilmu seharusnya membantu kita memahami kehidupan, berpikir lebih luas, dan mengambil sikap dengan lebih bijak. #Buyahamka#hamka#sastraindonesia#ulamaindonesia#motivasihidup
BUYA HAMKA ULAMA, SASTRAWAN, DAN PEMIKIR INDONESIA Buya Hamka adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah pemikiran Islam dan sastra Indonesia. Nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah, tetapi masyarakat lebih mengenalnya sebagai Buya Hamka. Ia lahir di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, pada 16 Februari 1908. Hamka berasal dari keluarga ulama. Ayahnya adalah Haji Abdul Karim Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, seorang ulama Minangkabau yang berpengaruh. Sejak kecil, Hamka sudah hidup dalam lingkungan keagamaan. Namun, perjalanan pendidikannya tidak hanya berlangsung di sekolah formal. Ia banyak belajar melalui pesantren, pengajian, membaca buku, berdiskusi, dan perjalanan. Ketika berusia sekitar 16 tahun, Hamka merantau ke Jawa. Di sana ia berkenalan dengan berbagai pemikiran Islam dan gerakan pembaruan. Pengalaman tersebut ikut membentuk cara berpikirnya. Hamka kemudian dikenal bukan hanya sebagai ulama. Ia juga seorang sastrawan, wartawan, penulis, pendidik, dan pemikir Islam. Dalam dunia sastra, namanya dikenal melalui karya seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan Merantau ke Deli. Melalui karya-karyanya, Hamka sering membahas persoalan cinta, agama, adat, pendidikan, kemiskinan, perbedaan sosial, dan kehidupan masyarakat. Salah satu karya terbesarnya adalah Tafsir Al-Azhar. Tafsir ini tidak hanya menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi juga menghubungkannya dengan kehidupan masyarakat dan persoalan yang dihadapi manusia. Corak penafsirannya sering dikategorikan sebagai adabi-ijtima'i, yaitu pendekatan yang memadukan penafsiran dengan persoalan sosial dan kemasyarakatan. Menariknya, sebagian proses penulisan Tafsir Al-Azhar berlangsung ketika Hamka berada dalam tahanan pada masa pemerintahan Orde Lama. Pengalaman hidup tersebut tidak membuatnya berhenti menulis. Justru, tulisan menjadi salah satu cara Hamka menyampaikan pemikiran dan pandangannya. Hamka juga memiliki peran dalam kehidupan organisasi dan masyarakat. Ia aktif di Muhammadiyah dan kemudian menjadi Ketua Umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia memimpin MUI pada periode awal berdirinya organisasi tersebut. Namun, perjalanan Hamka tidak selalu berjalan mudah. Ia pernah menghadapi tekanan politik dan perbedaan pandangan dengan pemerintah. Pada masa hidupnya, ia juga terlibat dalam berbagai perdebatan mengenai agama, politik, kebudayaan, dan kehidupan bangsa. Hamka dikenal memiliki kemampuan menulis yang kuat. Bahasa yang digunakannya dalam banyak karya mampu membawa pembaca pada persoalan agama dan kehidupan sehari-hari tanpa harus menggunakan pembahasan yang terlalu rumit. Karena itu, pengaruh Hamka tidak hanya terasa di kalangan ulama. Karya-karyanya dibaca oleh pelajar, mahasiswa, sastrawan, pendidik, dan masyarakat umum. Hamka meninggal di Jakarta pada 24 Juli 1981, dalam usia 73 tahun. Tetapi setelah kepergiannya, karya-karyanya tetap dibaca. Buku-bukunya terus diterbitkan, Tafsir Al-Azhar terus dipelajari, dan pemikirannya masih menjadi bahan pembicaraan hingga sekarang. Warisan Buya Hamka bukan hanya soal banyaknya buku yang ia tulis. Ia menunjukkan bahwa seorang ulama juga bisa menjadi sastrawan, seorang penulis bisa terlibat dalam persoalan masyarakat, dan ilmu agama dapat dibicarakan melalui bahasa yang dekat dengan kehidupan manusia. Dari Hamka, kita bisa melihat bahwa membaca dan belajar tidak harus membuat seseorang jauh dari kehidupan nyata. Justru, ilmu seharusnya membantu kita memahami kehidupan, berpikir lebih luas, dan mengambil sikap dengan lebih bijak. #Buyahamka#hamka#sastraindonesia#ulamaindonesia#motivasihidup

About