@muhammad_sagir: Ka Kiyaye Wanann

Man Sagir
Man Sagir
Open In TikTok:
Region: NG
Sunday 27 September 2026 18:48:15 GMT
592
166
3
4

Music

Download

Comments

ym10009
yahaya@001 :
gsky Kam mlm Allah yakara Tsaremana addininmu
2026-09-27 18:51:42
0
aubakarasunnah
@ABUBAKARAMV❤️💙 :
🥰🥰🥰
2026-09-27 19:01:51
0
yahuz.adam4
YAHUZA ADAM JEGA :
Allah ya karawa mlm lpy da nisan kwana mai albarka 🤲
2026-09-27 19:58:28
0
To see more videos from user @muhammad_sagir, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

⚠️ WARNING ⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL COMIC INI TANPA IZIN UNTUK DI REUP DAN DICROP!! BACA PUNYA MATA KAN?!👀🔪 . PLOT Leassa berdiri sendirian di tengah ruang putih tanpa batas. Tidak ada dinding. Tidak ada lantai. Tidak ada langit. Tidak ada siapa pun. Hanya keheningan. Perlahan, tangannya turun dan menyentuh perutnya dengan lembut. “…Anakku.” Satu kata itu menggema di dalam kehampaan. Kemudian— Bip… bip… bip… Leassa menghentikan gerakannya. Ia mengangkat kepala dan mencari sumber suara tersebut. Namun ruang putih itu tetap kosong. Bip… bip… bip… Suara itu semakin jelas. Tiba-tiba— WUUUM… Kehampaan di kejauhan bergetar. Sebuah gelombang hitam muncul di tengah ruang putih. Perlahan membesar, menyebar, dan menelan cahaya di sekitarnya. Leassa menatapnya dengan dahi berkerut. Lalu terdengar suara tangisan seorang anak. “Bunda…” Leassa membeku. Matanya membesar. “…?” Suara itu kembali terdengar. “Bunda…” Ada sesuatu di dalam suara itu yang terasa begitu familiar. Gelombang hitam semakin besar. Tangisan anak bercampur dengan suara monitor yang terus berdetak. Bip… bip… bip… Kemudian sebuah suara terdengar dari dalam kegelapan. Jelas. Tegas. “KEMBALI.” Leassa terdiam. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap kegelapan itu. Lalu kakinya bergerak. Tap… Satu langkah. Ia berjalan menuju gelombang hitam. Semakin dekat, suara monitor semakin jelas. Bip… bip… bip… “Bunda…” Tangannya masih berada di atas perutnya. “Aku…” Suaranya bergetar. “Aku harus kembali…” Leassa terus melangkah. Cahaya putih di belakangnya perlahan memudar, sementara kegelapan di depannya semakin besar. Untuk pertama kalinya, Leassa tidak lagi berjalan menjauh dari ingatannya. Ia memilih untuk kembali. Di dunia nyata… Malam menyelimuti rumah sakit. Lampu gedung tetap menyala terang di tengah lingkungan yang sunyi. WUUUSH… Di ruang ICU, lampu indikator menyala. Dari balik kaca, beberapa tenaga medis terlihat sedang bekerja. Bip… bip… bip… Seorang dokter berdiri di dekat monitor pasien. “Sudah berbulan-bulan…” Ia menatap layar tanda vital. “Kondisinya masih belum menunjukkan tanda sadar.” Di sisi tempat tidur, Don Vito berdiri diam. Wajahnya tenang, tetapi matanya menyimpan kelelahan dan kekhawatiran. Tatapannya tertuju pada Leassa. “Sudah berbulan-bulan dirimu koma, Leassa…” Tangannya perlahan menggenggam tangan Leassa. Tidak ada respons. Don Vito menundukkan kepalanya. Matanya sedikit berkaca-kaca. “Cepat kembali…” Ia menarik napas pelan. “Anak-anakmu mengkhawatirkanmu.” Hening. “Termasuk aku…” Leassa masih terbaring tidak sadarkan diri. Wajahnya pucat dan tenang. Rambut putihnya terurai di atas bantal. Selang dan kabel medis terpasang pada tubuhnya. Monitor terus menampilkan detak jantung. Bip… bip… bip… Tubuh Leassa masih berada di dunia nyata. Namun kesadarannya masih jauh. Jauh di dalam ingatan. Jauh di dalam ruang hampa. Tangan Don Vito tetap menggenggam tangannya. Tidak ada jawaban. Namun di dalam kegelapan itu, Leassa masih berjalan. Menuju suara yang memanggilnya. Menuju suara kecil yang terus memanggil— “Bunda…” Bip… bip… bip… Suara monitor terus terdengar. Perlahan menembus ruang hampa. Perlahan mendekati kesadarannya. Dan setelah berbulan-bulan berada di antara dua dunia… suara itu akhirnya mulai menemukannya. . . AU COMIC LEASSA MISHIMA  MEMORY LOSS PLOT #leassamishima #donvito #ime #putrirp #plot
⚠️ WARNING ⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL COMIC INI TANPA IZIN UNTUK DI REUP DAN DICROP!! BACA PUNYA MATA KAN?!👀🔪 . PLOT Leassa berdiri sendirian di tengah ruang putih tanpa batas. Tidak ada dinding. Tidak ada lantai. Tidak ada langit. Tidak ada siapa pun. Hanya keheningan. Perlahan, tangannya turun dan menyentuh perutnya dengan lembut. “…Anakku.” Satu kata itu menggema di dalam kehampaan. Kemudian— Bip… bip… bip… Leassa menghentikan gerakannya. Ia mengangkat kepala dan mencari sumber suara tersebut. Namun ruang putih itu tetap kosong. Bip… bip… bip… Suara itu semakin jelas. Tiba-tiba— WUUUM… Kehampaan di kejauhan bergetar. Sebuah gelombang hitam muncul di tengah ruang putih. Perlahan membesar, menyebar, dan menelan cahaya di sekitarnya. Leassa menatapnya dengan dahi berkerut. Lalu terdengar suara tangisan seorang anak. “Bunda…” Leassa membeku. Matanya membesar. “…?” Suara itu kembali terdengar. “Bunda…” Ada sesuatu di dalam suara itu yang terasa begitu familiar. Gelombang hitam semakin besar. Tangisan anak bercampur dengan suara monitor yang terus berdetak. Bip… bip… bip… Kemudian sebuah suara terdengar dari dalam kegelapan. Jelas. Tegas. “KEMBALI.” Leassa terdiam. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap kegelapan itu. Lalu kakinya bergerak. Tap… Satu langkah. Ia berjalan menuju gelombang hitam. Semakin dekat, suara monitor semakin jelas. Bip… bip… bip… “Bunda…” Tangannya masih berada di atas perutnya. “Aku…” Suaranya bergetar. “Aku harus kembali…” Leassa terus melangkah. Cahaya putih di belakangnya perlahan memudar, sementara kegelapan di depannya semakin besar. Untuk pertama kalinya, Leassa tidak lagi berjalan menjauh dari ingatannya. Ia memilih untuk kembali. Di dunia nyata… Malam menyelimuti rumah sakit. Lampu gedung tetap menyala terang di tengah lingkungan yang sunyi. WUUUSH… Di ruang ICU, lampu indikator menyala. Dari balik kaca, beberapa tenaga medis terlihat sedang bekerja. Bip… bip… bip… Seorang dokter berdiri di dekat monitor pasien. “Sudah berbulan-bulan…” Ia menatap layar tanda vital. “Kondisinya masih belum menunjukkan tanda sadar.” Di sisi tempat tidur, Don Vito berdiri diam. Wajahnya tenang, tetapi matanya menyimpan kelelahan dan kekhawatiran. Tatapannya tertuju pada Leassa. “Sudah berbulan-bulan dirimu koma, Leassa…” Tangannya perlahan menggenggam tangan Leassa. Tidak ada respons. Don Vito menundukkan kepalanya. Matanya sedikit berkaca-kaca. “Cepat kembali…” Ia menarik napas pelan. “Anak-anakmu mengkhawatirkanmu.” Hening. “Termasuk aku…” Leassa masih terbaring tidak sadarkan diri. Wajahnya pucat dan tenang. Rambut putihnya terurai di atas bantal. Selang dan kabel medis terpasang pada tubuhnya. Monitor terus menampilkan detak jantung. Bip… bip… bip… Tubuh Leassa masih berada di dunia nyata. Namun kesadarannya masih jauh. Jauh di dalam ingatan. Jauh di dalam ruang hampa. Tangan Don Vito tetap menggenggam tangannya. Tidak ada jawaban. Namun di dalam kegelapan itu, Leassa masih berjalan. Menuju suara yang memanggilnya. Menuju suara kecil yang terus memanggil— “Bunda…” Bip… bip… bip… Suara monitor terus terdengar. Perlahan menembus ruang hampa. Perlahan mendekati kesadarannya. Dan setelah berbulan-bulan berada di antara dua dunia… suara itu akhirnya mulai menemukannya. . . AU COMIC LEASSA MISHIMA MEMORY LOSS PLOT #leassamishima #donvito #ime #putrirp #plot

About