@hi.xanadu: #shortpants #celanapendek #joybasic

suka matcha
suka matcha
Open In TikTok:
Region: ID
Monday 28 September 2026 04:47:43 GMT
124
5
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @hi.xanadu, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pagi itu, Madinah begitu sunyi. Embun masih menggantung di ujung dedaunan. Angin berembus pelan, membawa kesejukan yang menenangkan hati.  Di kejauhan, berdiri sebuah pohon tua yang akarnya mencengkeram bumi, seolah tak akan pernah berpindah dari tempatnya. Di hadapan Rasulullah ﷺ, berdiri seorang lelaki Badui. Baru saja ia memeluk Islam. Namun di dalam dadanya masih ada kegelisahan yang belum menemukan rumahnya. Dengan mata yang penuh harap, ia berkata,
Pagi itu, Madinah begitu sunyi. Embun masih menggantung di ujung dedaunan. Angin berembus pelan, membawa kesejukan yang menenangkan hati. Di kejauhan, berdiri sebuah pohon tua yang akarnya mencengkeram bumi, seolah tak akan pernah berpindah dari tempatnya. Di hadapan Rasulullah ﷺ, berdiri seorang lelaki Badui. Baru saja ia memeluk Islam. Namun di dalam dadanya masih ada kegelisahan yang belum menemukan rumahnya. Dengan mata yang penuh harap, ia berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah memeluk Islam. Tunjukkanlah kepadaku sesuatu yang dapat semakin menenangkan hatiku." Rasulullah ﷺ memandangnya dengan senyum yang begitu lembut. Tak ada celaan karena imannya belum sempurna. Tak ada amarah karena ia meminta bukti. Rasul hanya bertanya, "Apa yang engkau inginkan?" Lelaki itu menunjuk sebuah pohon. "Panggillah pohon itu... suruhlah ia datang kepadamu." Rasulullah ﷺ mempersilahkannya mendatangi pohon itu. Dengan langkah ragu, lelaki itu berdiri di hadapan batang yang kokoh itu. Lalu ia berkata, "Jawablah panggilan Rasulullah." Hening... Sesaat, dunia seolah berhenti bernapas. Lalu, pohon itu perlahan condong. Akar-akarnya yang selama puluhan tahun memeluk bumi mulai terlepas satu demi satu. Tanah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, ia tinggalkan tanpa sedikit pun membangkang. Tidak ada keraguan. Tidak ada penolakan. Karena yang memanggilnya adalah manusia yang paling dicintai Allah. Pohon itu pun berjalan, selangkah demi selangkah... Hingga tiba di hadapan Rasulullah ﷺ. Lalu, dengan izin Allah, pohon itu mengucapkan, "Assalamu'alaika, wahai Rasulullah." Air mata lelaki Badui itu hampir tumpah. Lututnya melemas. Dadanya yang sejak tadi dipenuhi pertanyaan, kini dipenuhi keyakinan. Ia hanya mampu berbisik, "Cukup... demi Allah, ini sudah lebih dari cukup bagiku." Rasulullah ﷺ kemudian berkata kepada pohon itu agar kembali. Maka pohon itu pun kembali ke tempat semula. Akar-akarnya kembali menancap ke bumi, seolah tak pernah meninggalkan rumahnya. Namun ada satu hal yang tak pernah kembali seperti semula. Hati lelaki itu. Ia telah berubah untuk selamanya. Dengan mata yang basah, ia berlari menghampiri Rasulullah ﷺ. "Izinkan aku mencium tanganmu." Rasulullah mengizinkannya. Lalu lelaki itu berkata lagi, "Izinkan aku bersujud kepadamu." Rasulullah ﷺ segera menjawab, "Tidak seorang pun boleh bersujud kepada selain Allah." Bahkan setelah pohon berjalan menghampirinya, Rasulullah tidak mengajarkan manusia untuk mengagungkan dirinya. Ia justru mengembalikan seluruh pengagungan itu kepada Allah. Dan di sinilah hati ini terasa sesak, sebuah pohon yang tak memiliki akal mampu mencabut akarnya demi memenuhi panggilan Rasulullah ﷺ. Sedangkan kita, memiliki telinga untuk mendengar sunnahnya. Memiliki mata untuk membaca kisahnya. Memiliki lisan untuk bershalawat kepadanya. Namun betapa sering hati ini justru mencari alasan untuk menjauh. Barangkali yang paling keras bukan batang pohon. Melainkan hati kita sendiri. Jika rindumu kepada Rasulullah ﷺ semakin bertambah yang setelah membaca kisah ini, titipkan satu shalawat di kolom komentar.

About