nurjanah :
Di ambang pusara waktu, ketika nama-nama menjelma jelaga dan garis wajah memudar jadi abu yang tak lagi bertuan, rindu tetaplah bentala yang menyimpan magma. Ia melipat diri dalam sunyi paling pekat, menjelma retak tanah yang diam-diam mengulum pendar.
Ia bertakhta di balik pekatnya bilik sukma, menyerupai rahasia tanah yang mengulum kilat.
Segala tentang kita itu sesungguhnya telah pupus. Ia menjelma jelaga dingin yang tercecer di balik tirai masa lalu, dibungkus kain kelabu bernama "lupa". Namun, rindu adalah peniup sakral yang terlalu fasih membaca retak. Ia tak butuh keajaiban besar, cukup seberkas pendar yang patah di ranjang malam, atau sesayat bau hujan yang bertandang tanpa kabar, maka sepah masa lalu mendadak menyala menjadi kawah.
Segala yang asing itu mekar kembali bagai bunga-bunga api yang haus darah.
Garis bayangmu yang telah luruh mendadak menikam pandang. Dering tawa yang terasing kembali bergema tajam, merobek dinding sunyi, meremukkan bilah-bilah waktu yang berusaha menyekat kita. Bagaimana mungkin sesuatu yang telah menjadi asing sanggup membakar begitu mahakuasa?
Sebab rindu adalah penyair berdarah dingin. Ia tak pernah sudi menerima kekalahan dari jarak dan masa. Dengan jemari gaibnya, ia memilin kembali jelaga menjadi nyala, memaksa kita berdiri bertelanjang dada di hadapan kobaran bangkai rekam jejak, terpanggang utuh dalam perayaan kisah yang sejatinya tak lagi memiliki tempat untuk pulang.
2026-10-03 05:28:13