@b.roy657: Ada satu hal yang sering kita sadari ketika semuanya sudah terlambat… Kita sering mengira membahagiakan ibu harus dengan uang, rumah yang bagus, atau kehidupan yang berkecukupan. Padahal bagi seorang ibu, yang paling berharga bukanlah apa yang mampu diberikan anaknya. Melainkan melihat anaknya menjadi orang baik dan tahu bahwa anaknya masih menyayanginya. Seorang ibu bahkan rela menyembunyikan rasa sakitnya sendiri. Seperti kisah seorang ibu dan anak berikut ini. Suatu hari, seorang ibu terbaring lemah di rumah. Wajahnya pucat dan tubuhnya semakin tidak berdaya. Ia memanggil anaknya dengan suara pelan. “Nak…” “Iya, Bu?” “Pergilah… belikan Ibu obat.” Anaknya terdiam. “Bu… aku tidak punya uang.” Sang ibu tersenyum lemah. “Tidak apa-apa, Nak. Kamu cari pinjaman dulu.” Anaknya mengangguk lalu keluar rumah. Namun baru beberapa langkah, air matanya mulai jatuh. Ia ingin menyembuhkan ibunya, tetapi ia merasa tidak berdaya. Namun untuk membeli obat saja, ia tidak punya uang. Akhirnya ia berhutang. Setelah mendapat uang, ia segera membeli obat dan pulang. Namun ketika sampai di rumah… Suasana begitu sunyi. “Ibu?” Tidak ada jawaban. “Ibu… aku sudah pulang.” Tetap tidak ada jawaban. Ia berjalan menuju tempat ibunya berbaring. Langkahnya terhenti. Tubuh ibunya sudah tidak bergerak. “Ibu…?” Ia menyentuh tangan ibunya. Dingin. “Bu… bangun, Bu…” Tidak ada jawaban. Air matanya pecah. “Bu… obatnya sudah aku beli…” Ia menggenggam tangan ibunya. “Aku sudah pulang, Bu…” Namun ibunya telah pergi untuk selamanya. Di samping tempat tidur, ia melihat selembar surat. Dengan tangan gemetar, ia mengambilnya. “Anakku… Ibu tahu engkau tidak mempunyai uang. Ibu tahu engkau pasti menangis ketika pergi mencari uang. Tapi sebenarnya, Ibu menyuruhmu pergi bukan karena obat itu. Saat engkau keluar rumah, Ibu mulai merasakan sakratul maut. Ibu tidak ingin engkau melihat Ibu meninggal di hadapanmu. Karena itu Ibu menyuruhmu pergi. Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak bisa meninggalkan harta yang banyak. Tetapi Ibu meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Ibu meninggalkan ridha Ibu untukmu. Ibu ridha kepadamu, Nak. Jika suatu hari engkau merindukan Ibu, jangan hanya menangis. Doakanlah Ibu. Jika hidupmu terasa berat, ingatlah… dahulu ada seorang ibu yang selalu mendoakanmu. Ibu mencintaimu. Dan Ibu pergi dalam keadaan ridha kepadamu.” Surat itu jatuh dari tangannya. Ia menangis sambil memeluk tubuh ibunya. “Bu… kenapa Ibu tidak menungguku? Aku sudah membawa obatnya…” “Aku belum sempat membahagiakan Ibu…” Hari itu ia menyadari sesuatu. Selama ini ia mengira dirinya yang harus menjaga ibunya. Namun sampai detik terakhir… ibunyalah yang masih berusaha menjaga hati anaknya. Ia pergi bukan karena tidak membutuhkan anaknya. Ia pergi karena tidak ingin anaknya menyaksikan kematiannya. Dan sebelum meninggalkan dunia, ia memberikan hadiah terakhir: RIDHO SEORANG IBU Maka jika ibumu masih hidup… Jangan tunggu sampai ia pergi untuk mengatakan bahwa engkau mencintainya. Peluklah ia, cium tangannya, dan mintalah ridha darinya. Sebab ketika ibu telah tiada, kita masih bisa mencari uang dan membangun rumah. Tetapi kita tidak akan pernah bisa membeli kembali kesempatan untuk mendengar suara ibu memanggil nama kita. Dan jika ibumu telah tiada… Jangan hanya menangis. Kirimkan doa untuknya. Salah satu bentuk cinta setelah kematian adalah tidak pernah berhenti mendoakannya. Semoga Allah mengampuni dosa kedua orang tua kita, menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kita ketika kecil. Dan bagi yang telah tiada, semoga Allah menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.# @vlog bangroy #fyppppppppppppppppppppppp #sorotan #renunganislam #nabimuhammad #RenunganIslam
Bang roy
Region: ID
Monday 28 September 2026 18:22:54 GMT
Music
Download
Comments
There are no more comments for this video.
To see more videos from user @b.roy657, please go to the Tikwm
homepage.