@n.a..m0: @- عبـوﯡډي ااݪـ سوﯡݛي ١. #تقبر_قلبي #عمري_وحياـپـüـ💕😩

بنوﯡتهه عبوﯡډي 𝐀
بنوﯡتهه عبوﯡډي 𝐀
Open In TikTok:
Region: SE
Tuesday 29 September 2026 18:30:47 GMT
34651
3575
70
1399

Music

Download

Comments

user15476583998694
زينو :
هاذا حرفي [قلب أحمر][قلب أحمر]
2026-09-30 21:25:49
1
aoi___io
- عبـوﯡډي ااݪـ سوﯡݛي ١. :
امواااااح مرتي[شفاه حمراء][عيون دامعة]
2026-09-30 12:29:50
4
ali.madi7341
Ali Madi :
جمعتكمباركهوتحيهصباحيهاقولك صباحالخير يااهل الخير احي فيك الوفاء[قلب أحمر]
2026-10-02 04:36:05
2
user79071171358255
AHmD :
A[قلب أحمر][قلب أحمر]
2026-10-03 15:43:58
2
user435182267
Ahmed Ahmed :
وماذا بعد ذالك.......
2026-10-01 11:54:49
1
abv2358074132
احبك احبك احبك A :
آه آه آه
2026-09-30 09:44:36
3
eslam.farok13
🐬Eslam Farok🐬🐋 :
الحمد لله
2026-10-02 16:19:31
1
salamgsm863
💚عروس💚الشام💚 :
🥺🥺🥺🥺♥️عمري
2026-09-30 01:45:27
1
aahgjkkl
😭😭😭😭😭😭 :
والله صح
2026-09-30 20:42:46
0
user9152797396
Djamel :
A 😳v 😳A 😳e78 😁
2026-09-29 19:21:51
0
ibrahim.mht013
Ibrahim Mht :
2026-09-30 08:26:45
2
user7652707838650
ابو شريف :
🌹❤️🤟
2026-09-30 21:53:36
1
user6012915402276
امر الطويسي :
🥰🥰🥰🥰
2026-09-30 17:53:29
1
ahmadalimrd59
꧁𝑨𝒉𝒎𝒆𝒅🔥꧂ :
🌺
2026-10-11 15:41:26
0
amor.benjileni
Amor Benjileni :
💋💋
2026-10-02 22:12:46
1
adeladel9012
adeladel9012 :
2026-10-02 19:09:21
0
ali.abdullah7587
Ali abdullah :
2026-09-30 20:28:38
0
vinsiaa8
شاشوم :
2026-10-03 22:14:02
1
abdelaziz.ismail
Abde laziz Ismail :
ولن قسما بالله العظيم احببتك اكثر من نفسي[Réconfortant][Réconfortant][Réconfortant][Cœur brisé][Cœur brisé][Cœur brisé]
2026-09-30 05:50:22
0
ahmety461i
Mahir can :
🥰🥰🥰🥰
2026-09-30 08:09:19
0
hassan.el.shahat3
el jan :
تسلمي
2026-09-30 14:45:55
0
user584404873772
ورده 🌷❤🫀 :
قلبي قلبي ❤
2026-10-11 18:01:05
1
on.the.basis.of.t
On the basis of the role :
قلبي
2026-09-30 12:20:40
0
userebmad6q3ja
xdjfjxjccrhh :
كل شي 🥰
2026-09-30 12:48:42
0
amin.belkadi
Amin Belkadi :
fian hanya hobi cava kabida😎🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩
2026-09-30 00:27:37
0
To see more videos from user @n.a..m0, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengenai percakapan politik di media sosial layak dibaca bukan sekadar sebagai polemik komunikasi politik, melainkan sebagai persoalan epistemologi publik: bagaimana sebuah kekuasaan menentukan mana suara rakyat, mana suara mesin, dan atas dasar apa klasifikasi tersebut dibuat? Dalam pernyataannya, Sudaryono menyebut “mungkin 60 persen lebih” isi media sosial bukan berasal dari manusia. Ia kemudian mengaitkan akun-akun robot tersebut dengan oligarki dan koruptor yang disebutnya tidak menginginkan Prabowo terus memimpin.  Secara teoritis, keberadaan social bots bukanlah fiksi. Literatur mengenai computational propaganda telah menunjukkan bahwa bot, algoritma, akun palsu, dan otomatisasi dapat digunakan untuk memperkuat narasi tertentu, membentuk persepsi popularitas, bahkan menciptakan ilusi konsensus publik.  Namun, persoalan ilmiahnya justru terletak pada angka dan hubungan kausal yang dikemukakan. Klaim “60 persen” bukan sekadar opini biasa. Ia merupakan klaim kuantitatif yang secara metodologis menuntut penjelasan: 60 persen dari apa? Seluruh unggahan? Akun aktif? Interaksi? Percakapan politik? Platform tertentu atau seluruh media sosial? Bagaimana bot diidentifikasi? Apa periode pengukurannya? Dan bagaimana peneliti membedakan akun otomatis, akun palsu, akun manusia yang menggunakan otomatisasi, serta pengguna manusia biasa? Sejauh laporan yang tersedia mengenai pernyataan tersebut, dasar data dan metode pengukuran angka 60 persen itu belum dipaparkan secara terbuka.  Masalah berikutnya adalah lompatan dari “ada bot” menjadi “kritik terhadap Prabowo digerakkan bot”, lalu berkembang menjadi atribusi bahwa bot tersebut dikendalikan oligarki dan koruptor. Secara logika penelitian, setiap tahap membutuhkan bukti tersendiri. Keberadaan bot tidak otomatis membuktikan siapa operatornya; identifikasi operator juga tidak otomatis membuktikan motif politiknya. Di sinilah pentingnya prinsip burden of proof. Semakin spesifik sebuah tuduhan, semakin spesifik pula bukti yang diperlukan. Tanpa transparansi data, metodologi, sampel, dan verifikasi independen, angka 60 persen lebih tepat diperlakukan sebagai klaim yang masih harus diuji, bukan sebagai fakta empiris yang telah mapan. Ironisnya, demokrasi digital memang membutuhkan kewaspadaan terhadap manipulasi algoritmik. Tetapi kewaspadaan itu tidak boleh berubah menjadi mekanisme untuk mendiskreditkan kritik hanya karena kritik tersebut tidak menguntungkan pemerintah. Dalam negara demokratis, pertanyaan paling penting bukan apakah semua suara di media sosial autentik. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah pemerintah memiliki metode yang transparan untuk membuktikan mana suara manusia, mana bot, dan siapa yang berada di belakangnya? Jika jawabannya belum tersedia, maka yang dibutuhkan bukan sekadar narasi tandingan, melainkan audit data, metodologi terbuka, dan verifikasi independen. Sebab dalam ruang publik yang sehat, kritik tidak semestinya dibantah dengan label; ia diuji dengan bukti. #mbg #keracunanmbg #stopmbg #penjilat
Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengenai percakapan politik di media sosial layak dibaca bukan sekadar sebagai polemik komunikasi politik, melainkan sebagai persoalan epistemologi publik: bagaimana sebuah kekuasaan menentukan mana suara rakyat, mana suara mesin, dan atas dasar apa klasifikasi tersebut dibuat? Dalam pernyataannya, Sudaryono menyebut “mungkin 60 persen lebih” isi media sosial bukan berasal dari manusia. Ia kemudian mengaitkan akun-akun robot tersebut dengan oligarki dan koruptor yang disebutnya tidak menginginkan Prabowo terus memimpin. Secara teoritis, keberadaan social bots bukanlah fiksi. Literatur mengenai computational propaganda telah menunjukkan bahwa bot, algoritma, akun palsu, dan otomatisasi dapat digunakan untuk memperkuat narasi tertentu, membentuk persepsi popularitas, bahkan menciptakan ilusi konsensus publik. Namun, persoalan ilmiahnya justru terletak pada angka dan hubungan kausal yang dikemukakan. Klaim “60 persen” bukan sekadar opini biasa. Ia merupakan klaim kuantitatif yang secara metodologis menuntut penjelasan: 60 persen dari apa? Seluruh unggahan? Akun aktif? Interaksi? Percakapan politik? Platform tertentu atau seluruh media sosial? Bagaimana bot diidentifikasi? Apa periode pengukurannya? Dan bagaimana peneliti membedakan akun otomatis, akun palsu, akun manusia yang menggunakan otomatisasi, serta pengguna manusia biasa? Sejauh laporan yang tersedia mengenai pernyataan tersebut, dasar data dan metode pengukuran angka 60 persen itu belum dipaparkan secara terbuka. Masalah berikutnya adalah lompatan dari “ada bot” menjadi “kritik terhadap Prabowo digerakkan bot”, lalu berkembang menjadi atribusi bahwa bot tersebut dikendalikan oligarki dan koruptor. Secara logika penelitian, setiap tahap membutuhkan bukti tersendiri. Keberadaan bot tidak otomatis membuktikan siapa operatornya; identifikasi operator juga tidak otomatis membuktikan motif politiknya. Di sinilah pentingnya prinsip burden of proof. Semakin spesifik sebuah tuduhan, semakin spesifik pula bukti yang diperlukan. Tanpa transparansi data, metodologi, sampel, dan verifikasi independen, angka 60 persen lebih tepat diperlakukan sebagai klaim yang masih harus diuji, bukan sebagai fakta empiris yang telah mapan. Ironisnya, demokrasi digital memang membutuhkan kewaspadaan terhadap manipulasi algoritmik. Tetapi kewaspadaan itu tidak boleh berubah menjadi mekanisme untuk mendiskreditkan kritik hanya karena kritik tersebut tidak menguntungkan pemerintah. Dalam negara demokratis, pertanyaan paling penting bukan apakah semua suara di media sosial autentik. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah pemerintah memiliki metode yang transparan untuk membuktikan mana suara manusia, mana bot, dan siapa yang berada di belakangnya? Jika jawabannya belum tersedia, maka yang dibutuhkan bukan sekadar narasi tandingan, melainkan audit data, metodologi terbuka, dan verifikasi independen. Sebab dalam ruang publik yang sehat, kritik tidak semestinya dibantah dengan label; ia diuji dengan bukti. #mbg #keracunanmbg #stopmbg #penjilat

About