@uzzisautoart: A lot of exciting projects are happening at Uzzis Auto Art. From the Mk2 Supra getting its 1JZ fitted to the Golf 1 getting closer to primer, a rare W124 AMG Mercedes coming in for rust repairs, and a Henna Red E30 that's about to get the restoration it deserves. Each car has its own story, and we're looking forward to bringing them all back to life. We've got some special builds coming up over the next few months. Follow along so you don't miss a thing. #vw #golf #e30 #supra

Uzzis Auto Art
Uzzis Auto Art
Open In TikTok:
Region: ZA
Tuesday 29 September 2026 19:40:29 GMT
7092
229
4
6

Music

Download

Comments

user25606570
Grant Gflock :
can't wait to see you work on that e30
2026-09-29 23:52:42
1
moeilikheid88
Renaldo Langenhoven :
nice brother. also stoked to see how the golfie is progressing. and that merc is nice. love those cars. bmw will look good once you are done with it. excited to see
2026-09-30 21:39:42
0
anfield366
bilal cassim :
absolutely beautiful 😍
2026-09-30 04:53:18
0
fays_fashion05
Fay's Fashion :
2026-09-30 04:58:33
0
To see more videos from user @uzzisautoart, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Satelit milik NASA menampilkan visualisasi sebaran karbon monoksida (CO) di atmosfer Asia Tenggara, dengan sejumlah wilayah Indonesia tampak berwarna merah dalam peta yang beredar pada pertengahan Oktober 2026. Menurut laporan Nusa Times pada 15 Oktober 2026, visualisasi tersebut menampilkan data pengamatan periode 12–14 Oktober 2026. Data ini dikaitkan dengan instrumen Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) pada satelit Aqua milik NASA yang digunakan untuk memantau komposisi atmosfer Bumi. Karbon monoksida merupakan gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini terbentuk ketika bahan yang mengandung karbon mengalami pembakaran tidak sempurna. Sumbernya antara lain emisi kendaraan, aktivitas industri, serta kebakaran hutan dan lahan. NASA sebelumnya juga mendokumentasikan peningkatan konsentrasi karbon monoksida di atmosfer akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, khususnya Sumatra dan Kalimantan, pada 2015. Kebakaran lahan gambut dapat melepaskan gas tersebut ke atmosfer dan membawanya ke wilayah lain melalui pergerakan angin. Namun, warna merah pada peta tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh wilayah Indonesia mengalami pencemaran udara dengan tingkat yang sama. Data atmosfer pada ketinggian tertentu juga tidak langsung menunjukkan kadar karbon monoksida yang dihirup masyarakat di permukaan tanah. Untuk mengetahui risiko paparan terhadap kesehatan, diperlukan pengukuran kualitas udara di permukaan. Karena itu, peta satelit perlu dipahami sebagai gambaran sebaran gas di atmosfer, bukan bukti bahwa Indonesia memiliki konsentrasi karbon monoksida tertinggi di dunia. Sumber: 1. NASA Science — Carbon Monoxide 2. NASA Earth Observatory — Fires Put a Carbon Monoxide Cloud over Indonesia 3. Nusa Times — Peta NASA papar kepekatan karbon monoksida di atmosfera Asia Tenggara, 15 Oktober 2026  #indonesia #karhutla #kebakaran #kalimantan #nasa
Satelit milik NASA menampilkan visualisasi sebaran karbon monoksida (CO) di atmosfer Asia Tenggara, dengan sejumlah wilayah Indonesia tampak berwarna merah dalam peta yang beredar pada pertengahan Oktober 2026. Menurut laporan Nusa Times pada 15 Oktober 2026, visualisasi tersebut menampilkan data pengamatan periode 12–14 Oktober 2026. Data ini dikaitkan dengan instrumen Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) pada satelit Aqua milik NASA yang digunakan untuk memantau komposisi atmosfer Bumi. Karbon monoksida merupakan gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini terbentuk ketika bahan yang mengandung karbon mengalami pembakaran tidak sempurna. Sumbernya antara lain emisi kendaraan, aktivitas industri, serta kebakaran hutan dan lahan. NASA sebelumnya juga mendokumentasikan peningkatan konsentrasi karbon monoksida di atmosfer akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, khususnya Sumatra dan Kalimantan, pada 2015. Kebakaran lahan gambut dapat melepaskan gas tersebut ke atmosfer dan membawanya ke wilayah lain melalui pergerakan angin. Namun, warna merah pada peta tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh wilayah Indonesia mengalami pencemaran udara dengan tingkat yang sama. Data atmosfer pada ketinggian tertentu juga tidak langsung menunjukkan kadar karbon monoksida yang dihirup masyarakat di permukaan tanah. Untuk mengetahui risiko paparan terhadap kesehatan, diperlukan pengukuran kualitas udara di permukaan. Karena itu, peta satelit perlu dipahami sebagai gambaran sebaran gas di atmosfer, bukan bukti bahwa Indonesia memiliki konsentrasi karbon monoksida tertinggi di dunia. Sumber: 1. NASA Science — Carbon Monoxide 2. NASA Earth Observatory — Fires Put a Carbon Monoxide Cloud over Indonesia 3. Nusa Times — Peta NASA papar kepekatan karbon monoksida di atmosfera Asia Tenggara, 15 Oktober 2026 #indonesia #karhutla #kebakaran #kalimantan #nasa

About