@coerisaa_: seonghyeon live weverse rn#cortis#coer #seonghyeon

coerisaa_
coerisaa_
Open In TikTok:
Region: ID
Wednesday 30 September 2026 07:48:42 GMT
2184
117
0
30

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @coerisaa_, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pierre Tendean pergi ketika usianya baru 26 tahun. Ia pergi bukan dari medan perang, bukan pula ketika sedang bertugas di perbatasan. Ia gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965, ketika sedang mendampingi Jenderal Nasution. Beberapa hari sebelumnya, Pierre masih sempat berkabar ke Semarang. Ia mengatakan bahwa dirinya akan pulang karena ibunya berulang tahun. Kepulangannya telah dinantikan. Hidangan kesukaannya telah disiapkan. Ada rencana untuk berangkat bersama keluarga pada 1 Oktober 1965. Namun, rencana itu tidak pernah terjadi. Pada 4 Oktober, nama Pierre disebut sebagai salah satu korban yang ditemukan di Lubang Buaya. Sejak saat itu, kepulangannya memiliki arti yang berbeda. Ia tidak lagi pulang ke Semarang. Tidak lagi duduk bersama keluarganya. Tidak lagi menyelesaikan perjalanan yang telah direncanakannya. Yang tersisa dari Pierre adalah jejak-jejak kehidupannya: foto-foto dari masa kecil hingga ketika ia mengenakan seragam dan menjalankan tugasnya, surat-surat yang pernah ia kirimkan dari Bandung, Medan, dan Jakarta, serta makam tempat namanya kemudian diabadikan. Namun Pierre tidak hanya tinggal dalam benda-benda peninggalan itu. Ia tetap hidup dalam ingatan tentang seorang pemuda yang tumbuh dengan cita-cita, menjalani tugasnya, mencintai keluarganya, dan pada usia yang begitu muda harus mengakhiri hidupnya dalam sebuah peristiwa yang tidak pernah ia bayangkan. Pada akhirnya, seorang Pierre Tendean yang berusia 26 tahun meninggalkan dunia dengan perjalanan hidup yang belum selesai. Ada rumah yang belum sempat ia datangi. Ada ulang tahun ibu yang tidak sempat ia rayakan. Ada perjalanan pulang yang tidak pernah sampai. Dan ada masa depan yang seharusnya masih panjang. Tetapi sejarah mencatat namanya bukan sebagai seseorang yang sempat menyelesaikan semua itu, melainkan sebagai seorang perwira muda yang gugur dan kemudian dikenang sebagai salah satu Pahlawan Revolusi. Pierre memang tidak pernah kembali ke rumah seperti yang ia janjikan. Namanya tetap pulang—berulang kali, melalui foto, surat, buku-buku sejarah, dan ingatan mereka yang tidak pernah berhenti mengenangnya. — 21.O2.1939 🌷𝓟 #pierretendean #pierresangpatriot #fyp #g30spki
Pierre Tendean pergi ketika usianya baru 26 tahun. Ia pergi bukan dari medan perang, bukan pula ketika sedang bertugas di perbatasan. Ia gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965, ketika sedang mendampingi Jenderal Nasution. Beberapa hari sebelumnya, Pierre masih sempat berkabar ke Semarang. Ia mengatakan bahwa dirinya akan pulang karena ibunya berulang tahun. Kepulangannya telah dinantikan. Hidangan kesukaannya telah disiapkan. Ada rencana untuk berangkat bersama keluarga pada 1 Oktober 1965. Namun, rencana itu tidak pernah terjadi. Pada 4 Oktober, nama Pierre disebut sebagai salah satu korban yang ditemukan di Lubang Buaya. Sejak saat itu, kepulangannya memiliki arti yang berbeda. Ia tidak lagi pulang ke Semarang. Tidak lagi duduk bersama keluarganya. Tidak lagi menyelesaikan perjalanan yang telah direncanakannya. Yang tersisa dari Pierre adalah jejak-jejak kehidupannya: foto-foto dari masa kecil hingga ketika ia mengenakan seragam dan menjalankan tugasnya, surat-surat yang pernah ia kirimkan dari Bandung, Medan, dan Jakarta, serta makam tempat namanya kemudian diabadikan. Namun Pierre tidak hanya tinggal dalam benda-benda peninggalan itu. Ia tetap hidup dalam ingatan tentang seorang pemuda yang tumbuh dengan cita-cita, menjalani tugasnya, mencintai keluarganya, dan pada usia yang begitu muda harus mengakhiri hidupnya dalam sebuah peristiwa yang tidak pernah ia bayangkan. Pada akhirnya, seorang Pierre Tendean yang berusia 26 tahun meninggalkan dunia dengan perjalanan hidup yang belum selesai. Ada rumah yang belum sempat ia datangi. Ada ulang tahun ibu yang tidak sempat ia rayakan. Ada perjalanan pulang yang tidak pernah sampai. Dan ada masa depan yang seharusnya masih panjang. Tetapi sejarah mencatat namanya bukan sebagai seseorang yang sempat menyelesaikan semua itu, melainkan sebagai seorang perwira muda yang gugur dan kemudian dikenang sebagai salah satu Pahlawan Revolusi. Pierre memang tidak pernah kembali ke rumah seperti yang ia janjikan. Namanya tetap pulang—berulang kali, melalui foto, surat, buku-buku sejarah, dan ingatan mereka yang tidak pernah berhenti mengenangnya. — 21.O2.1939 🌷𝓟 #pierretendean #pierresangpatriot #fyp #g30spki

About