@sahrishwasimraja: 🤭🤭🤭🤣🤣🤣#chailovers☕🥀😘viralvideo☕

Sahrish Wasim Raja
Sahrish Wasim Raja
Open In TikTok:
Region: PK
Thursday 01 October 2026 03:00:18 GMT
37785
1801
0
398

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @sahrishwasimraja, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

DUHAI NABI, HARI INI ADA NASI YANG TERBUANG 🌀 Pak Ijo mengayuh sepeda melewati balai kampung. Kitab tebal di depan setang bergoyang sedikit. Di belakang, payungnya sudah terikat rapi. Sejak ditegur Umar di perempatan, ia tidak mau payung itu punya kesempatan menjadi layar kapal lagi. Di balai kampung baru selesai acara makan bersama. Beberapa orang membereskan kursi, sementara di meja masih ada nasi, lauk, dan gelas-gelas minuman. Seorang lelaki menunjuk tumpukan piring. “Yang sisa buang saja. Besok sudah ada acara lagi.” Pak Ijo berhenti. Di antara piring itu ada nasi yang belum disentuh dan potongan ayam yang baru digigit sedikit. “Mas, yang masih layak ini bisa disimpan dulu?” tanyanya. Lelaki itu menoleh. “Buat apa? Makanan banyak begini biasa. Kalau kurang, nanti kami pesan lagi.” “Kalau begitu, yang belum dibagikan boleh kita kemas untuk petugas yang masih bekerja?” “Repot, Pak. Sudahlah.” Pak Ijo tidak langsung menjawab. Ia melihat seorang petugas kebersihan sedang mengikat kantong sampah. Di sebelahnya, seorang ibu menutup termos air yang belum habis. “Bu, airnya masih bisa diminum?” “Masih. Baru dibuat tadi.” “Boleh saya ambil satu gelas?” Ibu itu menuangkan air. Pak Ijo meminumnya, lalu kembali kepada lelaki tadi. “Saya tidak minta orang memakan sisa dari piring orang lain, Mas. Yang sudah kena tangan atau tidak aman, jangan dibagikan. Tapi makanan yang masih tertutup dan layak itu sayang kalau langsung dibuang.” Lelaki itu memandang meja. Kali ini lebih lama. “Panitia sudah capek,” katanya pelan. “Nggih. Jangan semua dibebankan kepada panitia. Saya bantu kemas. Tapi sebaiknya izin dulu kepada yang bertanggung jawab.” Setelah mendapat izin, Pak Ijo dan beberapa warga memisahkan makanan yang masih utuh. Mereka memeriksa kondisinya, lalu membagikannya selagi masih layak. Sisanya yang tidak aman tetap dibuang. Lelaki itu ikut memegang kantong makanan. “Saya tadi pesan banyak karena takut tamu tidak kebagian.” “Niatnya baik,” kata Pak Ijo. “Mungkin acara berikutnya kita catat berapa yang hadir dan berapa yang tersisa. Biar tamu cukup, makanan juga tidak terlalu banyak.” Lelaki itu mengangguk. “Saya yang pegang catatannya.” “Wah, berarti pekerjaan saya berkurang satu,” kata Pak Ijo. “Saya tinggal mengawasi bakwan sendiri, yang sering habis sebelum dihitung.” Mereka tertawa kecil. Namun saat pulang, Pak Ijo teringat gelas minuman di meja tadi. Beberapa hanya diminum seteguk, lalu ditinggalkan. Ia pun teringat dirinya sendiri. Pernah ia menyeduh teh terlalu banyak dan membiarkannya dingin sampai terbuang. Malamnya, ia membuka buku catatan. “Duhai Nabi... Hari ini aku bertemu umatmu yang membuang makanan dan minuman. Mula-mula aku ingin menegurnya dengan keras. Lalu aku teringat riwayat Aisyah tentang hari-hari di rumahmu : pernah berlalu tiga hilal, dalam dua bulan tanpa api dinyalakan untuk memasak. Keluargamu hidup dengan kurma dan air, serta susu yang diberikan para tetangga. Aku sedih melihat nasi yang bahkan belum disentuh berakhir di tempat sampah. Tetapi aku juga perlu jujur. Aku sendiri kadang mengambil lebih dari yang kuperlukan. Hari ini aku hampir merasa lebih baik daripada orang yang kutegur. Ya Allah, ajari aku menghargai rezeki tanpa mempermalukan orang lain. Beri aku keberanian mengingatkan, tangan yang mau ikut bekerja, dan kebiasaan mengambil secukupnya. Jangan sampai aku pandai menghitung makanan yang dibuang orang, tetapi lupa menghitung nikmat yang kusia-siakan sendiri.” Pak Ijo menutup bukunya. Besok, ia berniat membawa bekal secukupnya. Bukan karena takut kekurangan rezeki. Justru karena ia ingin belajar mensyukurinya.. ✒️ Catatan sumber : Kisah tentang keadaan rumah Rasulullah ﷺ merujuk pada riwayat Aisyah dalam Shahih al-Bukhari no. 2567 (https://cdn.jsdelivr.net/gh/fawazahmed0/hadith-api@1/editions/ara-bukhari/2567.json).  Percakapan dan tokoh dalam cerita ini fiksi; catatan “Duhai Nabi” adalah ungkapan sastra, bukan pesan yang benar-benar dikirim atau dijawab beliau.. - af - 🌀
DUHAI NABI, HARI INI ADA NASI YANG TERBUANG 🌀 Pak Ijo mengayuh sepeda melewati balai kampung. Kitab tebal di depan setang bergoyang sedikit. Di belakang, payungnya sudah terikat rapi. Sejak ditegur Umar di perempatan, ia tidak mau payung itu punya kesempatan menjadi layar kapal lagi. Di balai kampung baru selesai acara makan bersama. Beberapa orang membereskan kursi, sementara di meja masih ada nasi, lauk, dan gelas-gelas minuman. Seorang lelaki menunjuk tumpukan piring. “Yang sisa buang saja. Besok sudah ada acara lagi.” Pak Ijo berhenti. Di antara piring itu ada nasi yang belum disentuh dan potongan ayam yang baru digigit sedikit. “Mas, yang masih layak ini bisa disimpan dulu?” tanyanya. Lelaki itu menoleh. “Buat apa? Makanan banyak begini biasa. Kalau kurang, nanti kami pesan lagi.” “Kalau begitu, yang belum dibagikan boleh kita kemas untuk petugas yang masih bekerja?” “Repot, Pak. Sudahlah.” Pak Ijo tidak langsung menjawab. Ia melihat seorang petugas kebersihan sedang mengikat kantong sampah. Di sebelahnya, seorang ibu menutup termos air yang belum habis. “Bu, airnya masih bisa diminum?” “Masih. Baru dibuat tadi.” “Boleh saya ambil satu gelas?” Ibu itu menuangkan air. Pak Ijo meminumnya, lalu kembali kepada lelaki tadi. “Saya tidak minta orang memakan sisa dari piring orang lain, Mas. Yang sudah kena tangan atau tidak aman, jangan dibagikan. Tapi makanan yang masih tertutup dan layak itu sayang kalau langsung dibuang.” Lelaki itu memandang meja. Kali ini lebih lama. “Panitia sudah capek,” katanya pelan. “Nggih. Jangan semua dibebankan kepada panitia. Saya bantu kemas. Tapi sebaiknya izin dulu kepada yang bertanggung jawab.” Setelah mendapat izin, Pak Ijo dan beberapa warga memisahkan makanan yang masih utuh. Mereka memeriksa kondisinya, lalu membagikannya selagi masih layak. Sisanya yang tidak aman tetap dibuang. Lelaki itu ikut memegang kantong makanan. “Saya tadi pesan banyak karena takut tamu tidak kebagian.” “Niatnya baik,” kata Pak Ijo. “Mungkin acara berikutnya kita catat berapa yang hadir dan berapa yang tersisa. Biar tamu cukup, makanan juga tidak terlalu banyak.” Lelaki itu mengangguk. “Saya yang pegang catatannya.” “Wah, berarti pekerjaan saya berkurang satu,” kata Pak Ijo. “Saya tinggal mengawasi bakwan sendiri, yang sering habis sebelum dihitung.” Mereka tertawa kecil. Namun saat pulang, Pak Ijo teringat gelas minuman di meja tadi. Beberapa hanya diminum seteguk, lalu ditinggalkan. Ia pun teringat dirinya sendiri. Pernah ia menyeduh teh terlalu banyak dan membiarkannya dingin sampai terbuang. Malamnya, ia membuka buku catatan. “Duhai Nabi... Hari ini aku bertemu umatmu yang membuang makanan dan minuman. Mula-mula aku ingin menegurnya dengan keras. Lalu aku teringat riwayat Aisyah tentang hari-hari di rumahmu : pernah berlalu tiga hilal, dalam dua bulan tanpa api dinyalakan untuk memasak. Keluargamu hidup dengan kurma dan air, serta susu yang diberikan para tetangga. Aku sedih melihat nasi yang bahkan belum disentuh berakhir di tempat sampah. Tetapi aku juga perlu jujur. Aku sendiri kadang mengambil lebih dari yang kuperlukan. Hari ini aku hampir merasa lebih baik daripada orang yang kutegur. Ya Allah, ajari aku menghargai rezeki tanpa mempermalukan orang lain. Beri aku keberanian mengingatkan, tangan yang mau ikut bekerja, dan kebiasaan mengambil secukupnya. Jangan sampai aku pandai menghitung makanan yang dibuang orang, tetapi lupa menghitung nikmat yang kusia-siakan sendiri.” Pak Ijo menutup bukunya. Besok, ia berniat membawa bekal secukupnya. Bukan karena takut kekurangan rezeki. Justru karena ia ingin belajar mensyukurinya.. ✒️ Catatan sumber : Kisah tentang keadaan rumah Rasulullah ﷺ merujuk pada riwayat Aisyah dalam Shahih al-Bukhari no. 2567 (https://cdn.jsdelivr.net/gh/fawazahmed0/hadith-api@1/editions/ara-bukhari/2567.json). Percakapan dan tokoh dalam cerita ini fiksi; catatan “Duhai Nabi” adalah ungkapan sastra, bukan pesan yang benar-benar dikirim atau dijawab beliau.. - af - 🌀

About