@jamesthoms:

James Thomas
James Thomas
Open In TikTok:
Region: ID
Thursday 01 October 2026 11:13:38 GMT
398
4
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @jamesthoms, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kutipan tersebut menggambarkan inti ajaran Tashfiyatul Qalb (penyucian hati) dan Fana' dalam ajaran tasawuf. Ungkapan ini pada hakikatnya menekankan transformasi kesadaran seorang hamba dari berpusat pada ego (nafs) menuju berpusat pada Kehendak Ilahi (Iradatullah). • ​Berikut penjelasan mendalamnya: > ​1. Maqam Ridha dan Taslim (Kepasrahan Total).  Dalam tingkatan spiritual (maqam), melepaskan kehendak pribadi adalah bentuk kepasrahan tertinggi (taslim). Seorang sufi tidak lagi menuntut agar takdir sesuai dengan kemauannya, melainkan menyesuaikan kemauannya dengan apa yang telah ditakdirkan Allah. Ini mengacu pada maqam Ridha, di mana hati tenang meneruskan setiap ketetapan-Nya tanpa prasangka buruk (su'udzon). > ​2. Melampaui Ego (Nafs).  Kehendak pribadi sering kali dikendalikan oleh nafs ammarah (nafsu yang mendorong pada keburukan) atau keinginan-keinginan duniawi yang semu. Menanggalkan kehendak pribadi berarti menghancurkan berhala tersembunyi dalam diri, yaitu kepemilikan atas ego. Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam karyanya Futuhul Ghaib sering menekankan agar seorang hamba ​3. Fana' fi Iradatillah (Leburnya Kehendak). Dalam tingkatan fana', seorang salik (penempuh jalan spiritual) merasa bahwa tidak ada kehendak yang hakiki di alam semesta ini selain Kehendak Allah (Lā irādata illā Allāh). Ketika kehendak diri lebur, salik mencapai kondisi Baqā', di mana ia berbuat, melangkah, dan berkehendak semata-mata sebagai manifestasi dari kehendak dan kasih sayang Allah di bumi. > ​4. Bebas dari Beban Diri (Tadbir). Ibnu Ataillah as-Sakandari dalam Al-Hikam menulis: "Istirahatlah dari perencanaan (tadbir). Apa yang telah diurus oleh selainmu untuk dirimu, janganlah engkau sibukkan dirimu dengannya." • Ketika seseorang memaksakan kehendak pribadinya, ia menanggung beban kecemasan. Sebaliknya, saat ia menyerahkan segalanya kepada Allah, ia meraih kedamaian batin karena percaya bahwa pilihan Allah bagi dirinya selalu lebih baik daripada pilihannya sendiri. • ​Sikap ini bukan berarti pasif tanpa usaha, melainkan melakukan ikhtiar semaksimal mungkin secara lahiriah, sementara hatinya tetap bulat bertawakal dan menerima sepenuhnya apa pun hasil yang Allah takdirkan. IKUTI NGAJI LIVE #buyachozin Setiap pagi ⏰ 05.30 Wib. #ngajiroso #ngaji #fy #fypシ゚viral🖤tiktok " width="135" height="240">
Kutipan tersebut menggambarkan inti ajaran Tashfiyatul Qalb (penyucian hati) dan Fana' dalam ajaran tasawuf. Ungkapan ini pada hakikatnya menekankan transformasi kesadaran seorang hamba dari berpusat pada ego (nafs) menuju berpusat pada Kehendak Ilahi (Iradatullah). • ​Berikut penjelasan mendalamnya: > ​1. Maqam Ridha dan Taslim (Kepasrahan Total). Dalam tingkatan spiritual (maqam), melepaskan kehendak pribadi adalah bentuk kepasrahan tertinggi (taslim). Seorang sufi tidak lagi menuntut agar takdir sesuai dengan kemauannya, melainkan menyesuaikan kemauannya dengan apa yang telah ditakdirkan Allah. Ini mengacu pada maqam Ridha, di mana hati tenang meneruskan setiap ketetapan-Nya tanpa prasangka buruk (su'udzon). > ​2. Melampaui Ego (Nafs). Kehendak pribadi sering kali dikendalikan oleh nafs ammarah (nafsu yang mendorong pada keburukan) atau keinginan-keinginan duniawi yang semu. Menanggalkan kehendak pribadi berarti menghancurkan berhala tersembunyi dalam diri, yaitu kepemilikan atas ego. Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam karyanya Futuhul Ghaib sering menekankan agar seorang hamba "mati" dari kehendak dirinya sendiri agar ia bisa "hidup" dengan kehendak Allah. > ​3. Fana' fi Iradatillah (Leburnya Kehendak). Dalam tingkatan fana', seorang salik (penempuh jalan spiritual) merasa bahwa tidak ada kehendak yang hakiki di alam semesta ini selain Kehendak Allah (Lā irādata illā Allāh). Ketika kehendak diri lebur, salik mencapai kondisi Baqā', di mana ia berbuat, melangkah, dan berkehendak semata-mata sebagai manifestasi dari kehendak dan kasih sayang Allah di bumi. > ​4. Bebas dari Beban Diri (Tadbir). Ibnu Ataillah as-Sakandari dalam Al-Hikam menulis: "Istirahatlah dari perencanaan (tadbir). Apa yang telah diurus oleh selainmu untuk dirimu, janganlah engkau sibukkan dirimu dengannya." • Ketika seseorang memaksakan kehendak pribadinya, ia menanggung beban kecemasan. Sebaliknya, saat ia menyerahkan segalanya kepada Allah, ia meraih kedamaian batin karena percaya bahwa pilihan Allah bagi dirinya selalu lebih baik daripada pilihannya sendiri. • ​Sikap ini bukan berarti pasif tanpa usaha, melainkan melakukan ikhtiar semaksimal mungkin secara lahiriah, sementara hatinya tetap bulat bertawakal dan menerima sepenuhnya apa pun hasil yang Allah takdirkan. IKUTI NGAJI LIVE #buyachozin Setiap pagi ⏰ 05.30 Wib. #ngajiroso #ngaji #fy #fypシ゚viral🖤tiktok

About