Lorenzo Diaz :
Banyak yang sepertinya kecewa melihat Rocky Gerung jadi Watimpres.
Tapi itu pilihan yang paling bijak untuk dia ada di sana, jadi semua ide di kepalanya cukup dicurahkan ke Presiden yang saat ini memimpin untuk membantu mengarahkan arah bernegara. (Dan itu fungsi Dewan Pertimbangan Presiden),
Mereka orang-orang yang Presiden pilih sebagai teman diskusi, meminta pendapat, dan mungkin memperdebatkan sebuah ide atau gagasan sebelum dijadikan kebijakan. Bukan "pembantu" Presiden seperti Menteri dan staffnya.
Boleh jadi dia lelah berbicara dari luar, berbicara tentang ide dan gagasannya tapi cuma bergema sejenak lalu hilang.
Yang ada di luar hanya pemandu sorak yang kecil nyalinya, bahkan hanya untuk marah pada pemerintahan harus nunggu Rocky Gerung marah dulu...
Dan kalau ternyata Rocky nggak marah, mereka beramai-ramai marahin Rocky karena dia nggak marah ke Pemerintah.
Kan dungu itu namanya... (ungkap Rocky)
Pingin perubahan, tapi pengecut, beraninya sembunyi di balik punggung orang lain.
Nyeseknya, saat ada orang yang berani, dan dianggap pahlawan itu kena masalah, dicari deliknya, bahkan dipenjara, para pemandu sorak yang berisik bilang, "kami mendukungmu, lanjutkan perjuanganmu" itu mendadak hilang...
Sembunyi ketakutan, pada menyelamatkan diri masing-masing, sambil mengintip intip, barangkali ada lagi yang berani bersuara, lalu mereka sorakin sebagai pahlawan, dan saat "pahlawan" itu kalah dan dikriminalisasi, mereka ciut dan sembunyi lagi. Mencari orang yang bisa disorakin kembali.
Menurutku, alih-alih marah karena Rocky tidak lagi berteriak di jalanan, panggung, atau mimbar untuk rakyat, pertanyaannya adalah: kapan kita berani bersuara dengan nama dan keberanian sendiri tanpa perlu bersembunyi di ketiak seorang Rocky Gerung?"
Dah gitu aja.
2026-10-03 03:04:06