@waseemjabal1: #creatorsearchinsights #

مستر حجه 🥶🇾🇪
مستر حجه 🥶🇾🇪
Open In TikTok:
Region: SA
Sunday 04 October 2026 12:41:54 GMT
26402
501
25
366

Music

Download

Comments

user8213211153173
ابن تعز :
ههههههه
2026-10-04 15:26:46
1
user3497790561141
محمد يونس العصيمي :
هههههههه😂😂
2026-10-04 13:01:10
1
jj113jj
قـــطــيـــفـــيــــ113♡ :
2026-10-04 18:07:20
1
ethic.85
𝓐𝓱𝓶𝓮𝓭 أحمد :
😂
2026-10-05 04:51:00
0
s50180
اللهم إنتقم لي :
ههههههههه 🙏
2026-10-05 01:33:24
0
xg36804
XG :
2026-10-05 07:27:16
0
hpiksne
الحب🌺 :
😂
2026-10-05 05:36:38
0
jj113jj
قـــطــيـــفـــيــــ113♡ :
2026-10-04 18:07:11
1
w_123456789_
بنت حضرموت يافع نبض قلبي،🇾🇪 :
💜💜💜💜💜💜💜
2026-10-04 21:20:46
0
nmro_29
nmro_29 :
2026-10-05 02:24:03
0
meddeb3
Zarmedine kamel :
😂😂
2026-10-04 15:50:56
0
11edashary
الادعشري :
2026-10-05 03:31:02
0
mooona_hrb
منـــى 🇸🇦 :
😂😂
2026-10-05 01:13:10
0
user7959316981640
💚حب الحبايب❤️ :
2026-10-04 18:11:49
0
user9919099519997
حميد أحمد علي ادهني :
😂😂😂
2026-10-04 12:59:10
0
698432afz
منجم جديد 😂🤔💪👉 :
😁😁😁
2026-10-04 13:08:09
0
fdaylichaikhali
صقر العرب :
😂😂😂
2026-10-04 22:51:34
0
user390826959716
إبن اليمن إب الشعر :
😂😂😂😂😂
2026-10-05 04:46:30
0
user30509612819788
جود جود :
😂😂😂
2026-10-04 18:14:28
0
user8608036938831
العمدة العميري :
😂😂😂
2026-10-04 16:27:42
0
user3056514071609
..ابو نايف :
[دموع الفرح][دموع الفرح][دموع الفرح][دموع الفرح][دموع الفرح][دموع الفرح]
2026-10-04 18:45:12
0
tooomy02
user2698080132283 :
😂😂😂
2026-10-04 13:15:49
0
user27123605382902
Sadiq Al-Tamimi :
[دموع الفرح][دموع الفرح][دموع الفرح][دموع الفرح][دموع الفرح]
2026-10-04 20:50:58
0
user6062533014587
بو محمد :
[دموع الفرح][دموع الفرح][دموع الفرح][دموع الفرح][دموع الفرح][دموع الفرح]
2026-10-04 18:40:18
0
user819798128560
ابو رويدا ❤️❤️ :
[دموع الفرح][دموع الفرح][دموع الفرح]
2026-10-04 13:29:00
0
To see more videos from user @waseemjabal1, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ada satu hal yang mungkin tidak pernah dikatakan orang tua kepada anaknya ketika mengantar ke pondok: “Nak, sebenarnya Ayah dan Ibu sedang menitipkan sebagian hati kami kepadamu.” Bukan karena kami tidak sanggup melihatmu tinggal di rumah. Justru karena kami terlalu tahu seperti apa kerasnya kehidupan di luar sana. Kami pernah salah memilih jalan, pernah mengejar sesuatu yang ternyata tidak membuat bahagia, pernah jatuh karena keputusan sendiri, bahkan mungkin pernah melakukan kesalahan yang sampai hari ini masih kami sesali. Karena itu, ketika kamu masuk pondok, yang kami titipkan bukan sekadar pakaian, kitab, dan perlengkapanmu. Kami menitipkan harapan. Harapan agar kamu tidak perlu mengulang kesalahan yang pernah kami lakukan. Harapan agar kamu memiliki ilmu yang dulu belum sempat kami miliki. Harapan agar ketika suatu hari dunia menawarkan banyak pilihan, kamu tahu mana yang harus dipilih dan mana yang harus ditinggalkan. Mungkin kamu mengira Ayah dan Ibu baik-baik saja ketika pulang meninggalkanmu di pondok. Padahal tidak. Ada orang tua yang baru bisa menangis setelah sampai di rumah. Ada yang sengaja tidak menoleh ketika meninggalkan gerbang pondok, karena takut anaknya melihat matanya berkaca-kaca. Ada yang sepanjang perjalanan pulang lebih banyak diam, sementara di dalam hati terus terbayang wajah anak yang baru saja ditinggalkan. Sesampainya di rumah, kamar yang biasanya berantakan tiba-tiba terasa terlalu rapi. Tidak ada suara memanggil. Tidak ada sandal berserakan. Tidak ada yang bertanya, “Ibu, hari ini masak apa?” Dan anehnya, hal-hal kecil yang dulu kadang membuat lelah justru menjadi hal yang paling dirindukan. Malam semakin sunyi. Tangan mengambil ponsel. Foto anak dibuka. Wajahnya dilihat lama-lama. Ingin rasanya menelepon dan berkata, “Nak, pulang saja kalau kamu tidak betah.” Tetapi hati kembali mengingat tujuan. Bukan karena kami tega. Bukan karena kami ingin jauh darimu. Tetapi karena kami ingin kamu tumbuh menjadi seseorang yang lebih baik daripada kami. Maka rindu itu kami tahan. Air mata itu kami sembunyikan. Dan doa kami panjatkan diam-diam. “Ya Allah, kalau selama ini kami sebagai orang tua masih banyak kekurangan, jangan biarkan anak kami mewarisi keburukan kami. Kalau ada kesalahan dalam hidup kami, cukup kami yang belajar darinya. Kalau ada masa lalu yang tidak bisa kami ubah, jadikan masa depan anak kami jauh lebih baik.” “Jadikan anak kami anak yang berilmu, beradab, kuat menghadapi kehidupan, dan tetap takut kepada-Mu ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.” Mungkin inilah alasan mengapa seorang ibu sanggup menahan rindu dan seorang ayah sanggup menahan air mata. Karena bagi orang tua, anak bukan hanya seseorang yang ingin dibuat bahagia hari ini. Anak adalah amanah yang ingin mereka selamatkan sampai masa depannya. Dan suatu hari nanti, ketika kamu sudah dewasa, mungkin kamu baru mengerti mengapa dulu Ayah dan Ibu rela membiarkanmu jauh. Bukan karena mereka tidak membutuhkanmu. Tetapi karena mereka ingin kamu memiliki kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan yang pernah mereka jalani. Jadi kalau malam ini kamu sedang berada di pondok dan tiba-tiba teringat rumah, ketahuilah satu hal. Mungkin di rumah, ada seorang ibu yang sedang melihat fotomu. Ada seorang ayah yang diam-diam menyebut namamu dalam doanya. Mereka mungkin tidak mengatakan bahwa mereka rindu. Tetapi hampir setiap hari, ada doa yang sama: “Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti aku dalam segala kekuranganku. Jadikan dia lebih baik dariku. Lebih baik ilmunya, lebih baik akhlaknya, lebih kuat imannya, dan lebih baik hidupnya.” Kalau kamu adalah orang tua yang sedang merasakan rindu kepada anak yang mondok, mungkin tulisan ini adalah cermin dari perasaanmu sendiri. Simpan tulisan ini untuk mengingatkan diri bahwa rasa rindu yang sedang kamu tahan hari ini bukanlah kesia-siaan. Dan kirimkan kepada orang tua lain yang mungkin sedang menangis diam-diam karena anaknya sedang berjuang jauh dari rumah. #OrangTuaSantri #AnakPondok #pesantren  #creatorsearchinsights
Ada satu hal yang mungkin tidak pernah dikatakan orang tua kepada anaknya ketika mengantar ke pondok: “Nak, sebenarnya Ayah dan Ibu sedang menitipkan sebagian hati kami kepadamu.” Bukan karena kami tidak sanggup melihatmu tinggal di rumah. Justru karena kami terlalu tahu seperti apa kerasnya kehidupan di luar sana. Kami pernah salah memilih jalan, pernah mengejar sesuatu yang ternyata tidak membuat bahagia, pernah jatuh karena keputusan sendiri, bahkan mungkin pernah melakukan kesalahan yang sampai hari ini masih kami sesali. Karena itu, ketika kamu masuk pondok, yang kami titipkan bukan sekadar pakaian, kitab, dan perlengkapanmu. Kami menitipkan harapan. Harapan agar kamu tidak perlu mengulang kesalahan yang pernah kami lakukan. Harapan agar kamu memiliki ilmu yang dulu belum sempat kami miliki. Harapan agar ketika suatu hari dunia menawarkan banyak pilihan, kamu tahu mana yang harus dipilih dan mana yang harus ditinggalkan. Mungkin kamu mengira Ayah dan Ibu baik-baik saja ketika pulang meninggalkanmu di pondok. Padahal tidak. Ada orang tua yang baru bisa menangis setelah sampai di rumah. Ada yang sengaja tidak menoleh ketika meninggalkan gerbang pondok, karena takut anaknya melihat matanya berkaca-kaca. Ada yang sepanjang perjalanan pulang lebih banyak diam, sementara di dalam hati terus terbayang wajah anak yang baru saja ditinggalkan. Sesampainya di rumah, kamar yang biasanya berantakan tiba-tiba terasa terlalu rapi. Tidak ada suara memanggil. Tidak ada sandal berserakan. Tidak ada yang bertanya, “Ibu, hari ini masak apa?” Dan anehnya, hal-hal kecil yang dulu kadang membuat lelah justru menjadi hal yang paling dirindukan. Malam semakin sunyi. Tangan mengambil ponsel. Foto anak dibuka. Wajahnya dilihat lama-lama. Ingin rasanya menelepon dan berkata, “Nak, pulang saja kalau kamu tidak betah.” Tetapi hati kembali mengingat tujuan. Bukan karena kami tega. Bukan karena kami ingin jauh darimu. Tetapi karena kami ingin kamu tumbuh menjadi seseorang yang lebih baik daripada kami. Maka rindu itu kami tahan. Air mata itu kami sembunyikan. Dan doa kami panjatkan diam-diam. “Ya Allah, kalau selama ini kami sebagai orang tua masih banyak kekurangan, jangan biarkan anak kami mewarisi keburukan kami. Kalau ada kesalahan dalam hidup kami, cukup kami yang belajar darinya. Kalau ada masa lalu yang tidak bisa kami ubah, jadikan masa depan anak kami jauh lebih baik.” “Jadikan anak kami anak yang berilmu, beradab, kuat menghadapi kehidupan, dan tetap takut kepada-Mu ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.” Mungkin inilah alasan mengapa seorang ibu sanggup menahan rindu dan seorang ayah sanggup menahan air mata. Karena bagi orang tua, anak bukan hanya seseorang yang ingin dibuat bahagia hari ini. Anak adalah amanah yang ingin mereka selamatkan sampai masa depannya. Dan suatu hari nanti, ketika kamu sudah dewasa, mungkin kamu baru mengerti mengapa dulu Ayah dan Ibu rela membiarkanmu jauh. Bukan karena mereka tidak membutuhkanmu. Tetapi karena mereka ingin kamu memiliki kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan yang pernah mereka jalani. Jadi kalau malam ini kamu sedang berada di pondok dan tiba-tiba teringat rumah, ketahuilah satu hal. Mungkin di rumah, ada seorang ibu yang sedang melihat fotomu. Ada seorang ayah yang diam-diam menyebut namamu dalam doanya. Mereka mungkin tidak mengatakan bahwa mereka rindu. Tetapi hampir setiap hari, ada doa yang sama: “Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti aku dalam segala kekuranganku. Jadikan dia lebih baik dariku. Lebih baik ilmunya, lebih baik akhlaknya, lebih kuat imannya, dan lebih baik hidupnya.” Kalau kamu adalah orang tua yang sedang merasakan rindu kepada anak yang mondok, mungkin tulisan ini adalah cermin dari perasaanmu sendiri. Simpan tulisan ini untuk mengingatkan diri bahwa rasa rindu yang sedang kamu tahan hari ini bukanlah kesia-siaan. Dan kirimkan kepada orang tua lain yang mungkin sedang menangis diam-diam karena anaknya sedang berjuang jauh dari rumah. #OrangTuaSantri #AnakPondok #pesantren #creatorsearchinsights

About