@azizahputrirahmadiahsjts: “Maaf, Ras. Lamaran aku batalkan. Aku udah PNS, jadi nyari calon istri yang setara.” Kalimat itu jatuh seperti batu di dada. Berat, dingin, dan membekas. Aku berdiri di depan Fadil yang bahkan tak berani menatap mataku. Tangannya sibuk memutar kunci mobil, seolah sedang berbicara pada logam, bukan padaku, perempuan yang selama tiga tahun menemaninya dari nol, dari fase gagal tes CPNS sampai akhirnya lulus. Mobil putih di belakangnya masih berbau baru, catnya memantulkan cahaya matahari. Pelat nomornya belum genap seminggu keluar, dan aku tahu, mobil itu bukan hasil tabungan. Semua orang di desa tahu Fadil menggadaikan SK PNS-nya buat DP. Mobil kredit yang jadi kebanggaan barunya. “Setara?” suaraku nyaris tak keluar. “Aku cuma nggak punya gelar aja, A. Bukan nggak punya hati.” Dia terdiam sebentar, lalu tersenyum kaku. “Aku cuma realistis, Ras. Aku harus mikirin masa depan. Maaf.” Aku menatapnya lekat-lekat. Dulu, waktu masih naik motor butut ke rumah, dia sering bilang, ‘Yang penting ada kamu, Ras. Aku nggak butuh mobil, asal bisa jalan bareng.’ Sekarang ternyata yang dia mau bukan lagi aku, tapi kursi empuk, gaji tetap, dan istri yang bisa dibanggakan di depan teman-teman kantornya. “Berarti selama ini aku cuma batu loncatan, ya?” tanyaku pelan. Dia menghela napas. “Jangan ngomong gitu. Aku cuma... pengin pasangan yang bisa ngimbangin aku.” “Ngimbangin? Aku ikut aa dari nol. Aku kerja sambil kuliah, nabung biar bisa bantu biaya lamaran ini, dan Aa bilang aku nggak ngimbangin?” Dia menunduk, lalu menutup pintu mobil. “Maaf, Ras.” Satu kata yang lebih menusuk daripada seribu alasan. Fadil menstarter mesin. Suara mobil barunya terdengar halus, tapi bagiku, justru seperti ejekan. Aku berdiri kaku di halaman, melihat mobil itu melaju pelan keluar pekarangan rumah, meninggalkan debu dan perasaan yang tak akan mudah bersih. Begitu saja. Satu kalimat “maaf” menutup tiga tahun cerita. Aku masih terpaku di depan rumah. Balon dan hiasan bunga yang tadinya kupasang bersama Ibu sekarang terlihat konyol. Di meja ruang tamu masih ada kue tart dengan tulisan Selamat Lamaran, Raras & Fadil. Ironi yang manis dan pahit. Ibu hanya diam di dapur, sibuk mencuci piring yang tak jadi dipakai. Airnya sudah keruh, tapi air matanya lebih jernih. “Udahlah, Teh,” katanya pelan tanpa menatapku. “Mungkin memang bukan jodohnya.” Aku mengangguk. “Iya, Bu.” Tapi air mataku tetap jatuh, entah untuk Fadil, untuk diriku sendiri, atau untuk harga diri yang baru saja diinjak. Ayah keluar ke sawah tanpa sepatah kata. Aku tahu, bukan karena tak peduli, tapi karena tak tahu harus bilang apa. Di rumah sederhana kami, cinta jarang dibicarakan, apalagi ditangisi. Aku memang cuma anak petani, hidup di pinggiran desa yang jauh dari kota. Tiap pagi berangkat kerja ke minimarket di jalan utama, berdiri seharian di depan kasir sambil senyum ke pelanggan yang sering lupa bilang terima kasih. Tapi aku nggak malu. Kerja halal, walau kecil. Cuma ya, dunia nggak pernah benar-benar adil pada orang kecil. Sore itu, kabar menyebar lebih cepat dari hujan turun. Fadil datang ke rumah sahabatku sendiri, Mirna. Anak camat. Cantik, berpendidikan, dan jelas “setara.” Aku dengar dari tetangga yang baru pulang dari warung depan. “Eh, si Fadil itu lho, mobil barunya parkir di depan rumah Bu Camat! Katanya mau melamar Mirna!” “Serius? Bukannya dulu sama si Raras?” “Lha itu, makanya. Katanya yang cocok ya anak pejabat, bukan anak tani.” Tawa mereka melayang sampai ke ruang tamu, menampar lebih keras daripada kata putus. Aku langsung masuk kamar. Menatap langit-langit, menatap sepi. Kadang, yang paling menyakitkan bukan ditinggal, tapi diganti oleh seseorang yang jauh lebih sempurna di mata dunia. Kutelan semua tangis itu, lalu kuambil ponsel. Kumasukkan semua perasaan yang nggak bisa kuucapkan ke satu kalimat di kolom status Facebook. [ Andai aja ada pria yang datang serius melamarku detik ini juga, aku terima. Siapa pun #DramaIndonesia #reelsfyp #pnsmuda #pnscantik #dramapendek
عَزِيْزَة فُتْرِيْ الرامةضياء
Region: ID
Monday 05 October 2026 18:10:48 GMT
Music
Download
Comments
There are no more comments for this video.
To see more videos from user @azizahputrirahmadiahsjts, please go to the Tikwm
homepage.