@dongdokimgiaphat: #trending #viral #viral

Đồng Đỏ Kim Gia Phát
Đồng Đỏ Kim Gia Phát
Open In TikTok:
Region: VN
Tuesday 06 October 2026 09:29:29 GMT
424
6
0
1

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @dongdokimgiaphat, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

salah satu scene terbaik di lb 6 menurut ku😋 Di akhir perjalanan Fate/Grand Order: Lostbelt 6 — Avalon le Fae, Artoria Caster akhirnya tiba di tempat Holy Sword ditempa. Sebagai Child of Prophecy, tugasnya adalah mengembalikan Holy Sword ke dunia. Namun, untuk menyelesaikan tugas tersebut, ia harus menyerahkan dirinya ke dalam proses penempaan. Setelah melalui perjalanan panjang, Castoria akhirnya menerima bahwa inilah akhir dari tugasnya. Ia tidak lagi memiliki banyak hal untuk dipertahankan. Namun, masih ada satu hal yang belum berhasil ia pahami: cahaya yang telah menemaninya sepanjang perjalanan. Saat Castoria mengira semuanya akan berakhir di sana, Muramasa tiba-tiba menghentikannya. Muramasa: “Kalau begitu, pekerjaanmu belum selesai.” Castoria kebingungan. Mengapa Muramasa melakukan ini? Mengapa ia, yang seharusnya hanya menjadi pengawal mereka, justru mengambil alih tugas yang harus diselesaikan oleh Sang Anak Ramalan? Muramasa: “Tidak ada alasan khusus. Aku seorang pandai besi.” Baginya, tidak ada penjelasan rumit yang perlu diberikan. Ia adalah seorang pandai besi yang telah mengabdikan hidupnya pada pedang. Ia memutus aturan, memutus karma, dan kini, di hadapan tungku tempat Holy Sword ditempa, ia menemukan pekerjaan yang memang ingin ia selesaikan dengan tangannya sendiri. Muramasa: “Ayo, pergilah. Kau sudah mengumpulkan bahan-bahannya. Sekarang giliran sang pandai besi yang bekerja.” Ia memasuki Sky Furnace, tempat yang akan membakar keberadaannya hingga habis. Muramasa tahu apa yang menantinya. Ia tahu Saint Graph-nya akan terbakar, tetapi pengetahuan itu tidak membuatnya mundur. Castoria menyadari apa yang sedang terjadi. Castoria: “Tidak! Aku senang, tapi tidak…! Kau akan terbakar menjadi abu, Muramasa!” Ia tidak ingin Muramasa menggantikannya. Tugas itu adalah tanggung jawabnya, dan ia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa seseorang harus menghilang demi menyelesaikannya. Namun, Muramasa tetap melanjutkan pekerjaannya. Muramasa: “Memukul logam adalah hasrat sejati seorang pandai besi. Kalau tempatnya adalah bengkel ilahi, maka membakar hidupku sendiri pun sepadan!” Api Sky Furnace terus membakar Saint Graph-nya. Keberadaannya perlahan menghilang, tetapi tangannya tidak berhenti menempa. Muramasa: “Bahkan jika Saint Graph-ku terbakar habis, aku tetap tidak akan berhenti menempa!” Ia tidak meminta Castoria memahami keputusannya. Ia hanya ingin menyelesaikan pekerjaan yang telah dimulainya. Ketika penempaan hampir selesai, Muramasa bahkan mengeluarkan Castoria dari proses tersebut agar gadis itu bisa bertahan hidup. Muramasa: “Sampai jumpa, Child of Prophecy.” Castoria memprotes. Ia mengingatkan Muramasa bahwa dirinya berasal dari dunia luar, bahwa ia adalah musuh Fujimaru, dan bahwa ia tidak memiliki alasan untuk mengorbankan dirinya demi Britania. Namun, Muramasa tidak mengubah keputusannya. Muramasa: “Aku benar-benar berharap bisa membuat jepit rambut itu untuk diriku sendiri.” Di tengah perpisahan itu, ia masih sempat mengingat keinginan kecil yang tidak akan pernah terwujud. Lalu, cahaya itu menghilang. Mash menyadari bahwa satu Saint Graph telah lenyap. Fujimaru hanya bisa memahami bahwa Muramasa telah melindungi Castoria sampai akhir. Castoria pun mengakui bahwa Muramasa telah meninggal sesuai dengan keyakinannya sendiri. Holy Sword berhasil ditempa karena dialah yang menyelesaikan tahap terakhirnya. Muramasa tidak menyelamatkan Castoria dengan menghapus takdirnya. Ia mengambil alih bagian terakhir dari tugas itu, agar Castoria bisa terus hidup dan melangkah maju. Seorang pandai besi yang mengabdikan hidupnya pada pedang akhirnya menyelesaikan karya terbesarnya—dengan membayar harga yang tidak bisa ia hindari. Dan bagi Castoria, perjalanan itu tidak berakhir sebagai pengorbanan yang sia-sia. Ia tetap hidup untuk menyelesaikan perannya, membawa hasil dari keputusan Muramasa ke masa depan. “Semua ini… demi satu ayunan terakhir.” #fategrandorder#fgostory #fgo #lb6#lb6
salah satu scene terbaik di lb 6 menurut ku😋 Di akhir perjalanan Fate/Grand Order: Lostbelt 6 — Avalon le Fae, Artoria Caster akhirnya tiba di tempat Holy Sword ditempa. Sebagai Child of Prophecy, tugasnya adalah mengembalikan Holy Sword ke dunia. Namun, untuk menyelesaikan tugas tersebut, ia harus menyerahkan dirinya ke dalam proses penempaan. Setelah melalui perjalanan panjang, Castoria akhirnya menerima bahwa inilah akhir dari tugasnya. Ia tidak lagi memiliki banyak hal untuk dipertahankan. Namun, masih ada satu hal yang belum berhasil ia pahami: cahaya yang telah menemaninya sepanjang perjalanan. Saat Castoria mengira semuanya akan berakhir di sana, Muramasa tiba-tiba menghentikannya. Muramasa: “Kalau begitu, pekerjaanmu belum selesai.” Castoria kebingungan. Mengapa Muramasa melakukan ini? Mengapa ia, yang seharusnya hanya menjadi pengawal mereka, justru mengambil alih tugas yang harus diselesaikan oleh Sang Anak Ramalan? Muramasa: “Tidak ada alasan khusus. Aku seorang pandai besi.” Baginya, tidak ada penjelasan rumit yang perlu diberikan. Ia adalah seorang pandai besi yang telah mengabdikan hidupnya pada pedang. Ia memutus aturan, memutus karma, dan kini, di hadapan tungku tempat Holy Sword ditempa, ia menemukan pekerjaan yang memang ingin ia selesaikan dengan tangannya sendiri. Muramasa: “Ayo, pergilah. Kau sudah mengumpulkan bahan-bahannya. Sekarang giliran sang pandai besi yang bekerja.” Ia memasuki Sky Furnace, tempat yang akan membakar keberadaannya hingga habis. Muramasa tahu apa yang menantinya. Ia tahu Saint Graph-nya akan terbakar, tetapi pengetahuan itu tidak membuatnya mundur. Castoria menyadari apa yang sedang terjadi. Castoria: “Tidak! Aku senang, tapi tidak…! Kau akan terbakar menjadi abu, Muramasa!” Ia tidak ingin Muramasa menggantikannya. Tugas itu adalah tanggung jawabnya, dan ia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa seseorang harus menghilang demi menyelesaikannya. Namun, Muramasa tetap melanjutkan pekerjaannya. Muramasa: “Memukul logam adalah hasrat sejati seorang pandai besi. Kalau tempatnya adalah bengkel ilahi, maka membakar hidupku sendiri pun sepadan!” Api Sky Furnace terus membakar Saint Graph-nya. Keberadaannya perlahan menghilang, tetapi tangannya tidak berhenti menempa. Muramasa: “Bahkan jika Saint Graph-ku terbakar habis, aku tetap tidak akan berhenti menempa!” Ia tidak meminta Castoria memahami keputusannya. Ia hanya ingin menyelesaikan pekerjaan yang telah dimulainya. Ketika penempaan hampir selesai, Muramasa bahkan mengeluarkan Castoria dari proses tersebut agar gadis itu bisa bertahan hidup. Muramasa: “Sampai jumpa, Child of Prophecy.” Castoria memprotes. Ia mengingatkan Muramasa bahwa dirinya berasal dari dunia luar, bahwa ia adalah musuh Fujimaru, dan bahwa ia tidak memiliki alasan untuk mengorbankan dirinya demi Britania. Namun, Muramasa tidak mengubah keputusannya. Muramasa: “Aku benar-benar berharap bisa membuat jepit rambut itu untuk diriku sendiri.” Di tengah perpisahan itu, ia masih sempat mengingat keinginan kecil yang tidak akan pernah terwujud. Lalu, cahaya itu menghilang. Mash menyadari bahwa satu Saint Graph telah lenyap. Fujimaru hanya bisa memahami bahwa Muramasa telah melindungi Castoria sampai akhir. Castoria pun mengakui bahwa Muramasa telah meninggal sesuai dengan keyakinannya sendiri. Holy Sword berhasil ditempa karena dialah yang menyelesaikan tahap terakhirnya. Muramasa tidak menyelamatkan Castoria dengan menghapus takdirnya. Ia mengambil alih bagian terakhir dari tugas itu, agar Castoria bisa terus hidup dan melangkah maju. Seorang pandai besi yang mengabdikan hidupnya pada pedang akhirnya menyelesaikan karya terbesarnya—dengan membayar harga yang tidak bisa ia hindari. Dan bagi Castoria, perjalanan itu tidak berakhir sebagai pengorbanan yang sia-sia. Ia tetap hidup untuk menyelesaikan perannya, membawa hasil dari keputusan Muramasa ke masa depan. “Semua ini… demi satu ayunan terakhir.” #fategrandorder#fgostory #fgo #lb6#lb6

About