@narutouzumaki...030: Fr.. #fypシ #naruto #animeedit

Naruto....💫
Naruto....💫
Open In TikTok:
Region: NP
Wednesday 07 October 2026 03:29:21 GMT
10700
845
42
150

Music

Download

Comments

sadeequllah310
ᒍEᖇᖇY :
it's me no gf no crush no famele friend
2026-10-07 19:11:41
7
rayyanshah926
𓆩༒𝑰𝑻𝑨𝑪𝑯𝑰༒𓆪 :
me who never see a girl
2026-10-08 05:44:19
3
aayushkhaling4
Itaizu :
same
2026-10-07 04:58:29
2
muhammad.ishtiaq171
....... :
Naruto
2026-10-12 18:24:02
0
anas.gill5
ANAS GILL🫠 :
and me age 25 year old and virgin
2026-10-17 14:07:28
1
saikat09120
𝙎𝙖𝙞𝙠𝙖𝙩 | सैकत 🛐 :
𐙚𝐊𝐞𝐰 𝐆𝐫𝐮𝐨𝐩 𝐚 𝐚𝐝𝐝 𝐡𝐨𝐛𝐚...? 🙂💗
2026-10-20 11:04:14
0
yoursnarutouzumaki
❤️Evil Naruto❤️ :
I am evil Naruto 😈
2026-10-22 05:29:21
0
userunknownl24
mikey-kun¿🤖 :
no gf no frnd
2026-10-12 09:48:32
2
rahil7074
Rahil🐞 :
Are the art😂😂😂😂😂😂😂😂😂
2026-10-07 14:26:10
0
ana_muslim___01
MUSLIM ☪️ :
Girlfriend? ye kia hota hai 🥀
2026-10-10 13:47:26
1
manzir.xo7
𝐌🕊️ :
me🕊️
2026-10-08 14:46:03
1
i_itachi_uchiha1
亗 SHADOW ツ 🖤🔥 :
2026-10-25 11:37:28
0
zain_editz_56th
𝐙 𝐀 𝐘 𝐀 𝐍 🏴 :
2026-10-19 10:48:38
0
naruto25th
𝘾𝙃𝙄𝙏𝙊𝙎𝙀 ❀ :
2026-10-17 17:02:52
0
abubaker1511
Abubaker :
2026-10-08 19:05:44
0
bladescrollyt
BladeScrollYT :
2026-10-09 17:23:43
0
wwwwwee.nn
? :
2026-10-21 01:10:52
0
notyourhamiz
¤•Gojo_Editz•¤ :
2026-10-10 09:19:04
0
donerecord0
Dᴏɴᴇ_ᴇᴅɪᴛs :
it's me
2026-10-07 15:46:46
1
og_mahim95
⛧『𝕮𝖍𝖗𝖔𝖑𝖑𝖔』⛧ :
2026-10-07 15:55:47
0
fece.off.life
L∅ST. :
flex
2026-10-25 18:19:12
0
flexybrother1
𝗩𝗘𝗫 || Flexy xN1🕸️ :
2026-10-08 01:54:45
0
moshinraza701
Mohsin Raza :
Nice joke bro
2026-10-08 06:52:38
0
muhammad.anas11423422036
IAMHOPE :
yeah
2026-10-07 16:30:15
0
kenta.fr
kenta.fr :
me with no human interactions
2026-10-08 00:56:04
0
To see more videos from user @narutouzumaki...030, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

#pov “Lo nggak doyan cewek, ya?”  Sunoo terdiam sesaat sebelum tawanya pecah, dia menatapmu dengan ekspresi tidak percaya. “Ngaco! Gue normal, anjing!” Kamu ikut tertawa melihat reaksinya. “Terus kenapa lo nggak pernah mau nerima cewek-cewek itu?” “Belum nemu yang cocok aja.” Kamu mendengus, menyandarkan punggung ke kursi. “Standar lo ketinggian.” “Daripada lo, pacaran sama orang nggak bener terus.” Sunoo menoleh, menatapmu dengan senyum mengejek. “Mau sampai kapan gonta-ganti cowok?” “Kurang ajar lo!” Kamu baru saja hendak membalas ketika seorang perawat menghampiri meja kalian.  Perempuan itu tampak sedikit gugup, tetapi senyumnya mengembang saat pandangannya jatuh kepada Sunoo. “Kak Sunoo, boleh gabung nggak?” Seketika ekspresi Sunoo berubah—senyum di wajahnya memudar, berganti dengan tatapan datar. Sementara itu, kamu justru sibuk menahan tawa—bukannya membantu sahabatmu, kamu malah menyambut perempuan itu dengan ramah. “Oh, boleh dong!” Sunoo langsung menoleh kepadamu. “Silakan duduk.” Kamu menunjuk kursi kosong di sebelah Sunoo. “Di situ aja, deketan sama Sunoo.” Bahkan kamu sempat merapikan tas sebelum berdiri dari kursi. “Have fun, yahh!” serumu ceria. Sunoo mengernyit. “Lah, lo mau ke mana?” “Balik ke kampus, gue masih ada kelas.” Tanpa menunggu jawabannya, kamu meraih tas dan melambaikan tangan kepada mereka. “Duluan, ya!” Kamu bahkan sempat mengedipkan mata ke arah Sunoo sebelum berbalik dan berjalan meninggalkan kantin. ~~~ Malam itu Sunoo sempat bertanya-tanya karena kamu belum juga menghubunginya. Sunoo sudah mengirim pesan beberapa kali, tetapi tidak ada yang terkirim. “Ke mana tuh anak.” Baru saja dia selesai membereskan barang-barangnya dan bersiap pulang, pintu IGD mendadak terbuka. “Korban kecelakaan! Pasien kondisi sadar!” Sunoo mengembuskan napas panjang—sepertinya rencana pulangnya harus kembali ditunda. “Dokter Sunoo, bisa bantu tangani pasien ini?” panggil seorang perawat. “Iya, saya ke sana.” Sebelum memasuki ruang tindakan, seorang perawat menyampaikan kondisi pasien.  Ada beberapa luka lecet di lengan dan kaki serta luka robek di dahi yang perlu dijahit. Sunoo mengangguk, lalu membuka pintu ruang tindakan.  Langkahnya terhenti begitu melihat siapa yang duduk di atas ranjang pasien—kamu. Sunoo menatapmu beberapa detik sebelum rahangnya mengeras. “Lo ngapain lagi, hah?” tegurnya begitu mendekat. “Gue udah sering bilang, jangan nekat naik motor sendiri!” “Sunoo—” “Jangan jawab dulu!” Kamu langsung bungkam—bibirmu mengatup rapat, sementara kedua matamu mulai berkaca-kaca. Sunoo tahu kamu—dia tahu kamu bisa melawan kalau merasa tidak bersalah, tetapi akan langsung diam ketika benar-benar ketakutan.  Sayangnya, mengetahui itu tidak lantas menghilangkan kekesalannya melihatmu terluka seperti sekarang. Dia menarik napas, lalu beralih memeriksa kondisimu. “Kenapa bisa kayak gini?” Seorang perawat mulai membersihkan luka di lenganmu.  Begitu cairan antiseptik menyentuh kulit yang lecet, kamu langsung menjerit dan refleks menarik tangan. “Aduh! Sakit, Sunoo!” “Jangan ditarik tangannya,” ujar Sunoo tenang, membantu perawat agar bisa melanjutkan pemeriksaan.  “Kalau terus gerak, malah nggak selesai-selesai.” Kamu meringis, berusaha bertahan meski air mata mulai menggenang.  Sunoo tetap mendampingi proses perawatanmu, memastikan setiap luka ditangani dengan baik sebelum beralih ke luka di dahimu yang perlu dijahit. Di sela-sela itu dia kembali bertanya, kali ini dengan suara lebih rendah. “Jadi, tadi kenapa?” Kamu menunduk, meremas ujung bajumu. “Tadi gue—” Kalimatmu terputus—bibirmu bergetar, dan air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. “Maafin gue.” Tangismu pecah. Melihatmu menangis seperti itu membuat kekesalan Sunoo mereda, berganti dengan rasa khawatir yang sejak tadi dia tahan. Dia menarik kursi ke samping ranjang, lalu duduk di hadapanmu. “Udah, jangan nangis.” Sunoo menyodorkan tisu, kemudian kembali memperhatikan perawat yang bersiap menjahit lukamu. “Gue temenin disini.” Kamu mengangguk sambil mengusap pipi. +comsec #sunoo #kimsunoo #au #enhypen
#pov “Lo nggak doyan cewek, ya?” Sunoo terdiam sesaat sebelum tawanya pecah, dia menatapmu dengan ekspresi tidak percaya. “Ngaco! Gue normal, anjing!” Kamu ikut tertawa melihat reaksinya. “Terus kenapa lo nggak pernah mau nerima cewek-cewek itu?” “Belum nemu yang cocok aja.” Kamu mendengus, menyandarkan punggung ke kursi. “Standar lo ketinggian.” “Daripada lo, pacaran sama orang nggak bener terus.” Sunoo menoleh, menatapmu dengan senyum mengejek. “Mau sampai kapan gonta-ganti cowok?” “Kurang ajar lo!” Kamu baru saja hendak membalas ketika seorang perawat menghampiri meja kalian. Perempuan itu tampak sedikit gugup, tetapi senyumnya mengembang saat pandangannya jatuh kepada Sunoo. “Kak Sunoo, boleh gabung nggak?” Seketika ekspresi Sunoo berubah—senyum di wajahnya memudar, berganti dengan tatapan datar. Sementara itu, kamu justru sibuk menahan tawa—bukannya membantu sahabatmu, kamu malah menyambut perempuan itu dengan ramah. “Oh, boleh dong!” Sunoo langsung menoleh kepadamu. “Silakan duduk.” Kamu menunjuk kursi kosong di sebelah Sunoo. “Di situ aja, deketan sama Sunoo.” Bahkan kamu sempat merapikan tas sebelum berdiri dari kursi. “Have fun, yahh!” serumu ceria. Sunoo mengernyit. “Lah, lo mau ke mana?” “Balik ke kampus, gue masih ada kelas.” Tanpa menunggu jawabannya, kamu meraih tas dan melambaikan tangan kepada mereka. “Duluan, ya!” Kamu bahkan sempat mengedipkan mata ke arah Sunoo sebelum berbalik dan berjalan meninggalkan kantin. ~~~ Malam itu Sunoo sempat bertanya-tanya karena kamu belum juga menghubunginya. Sunoo sudah mengirim pesan beberapa kali, tetapi tidak ada yang terkirim. “Ke mana tuh anak.” Baru saja dia selesai membereskan barang-barangnya dan bersiap pulang, pintu IGD mendadak terbuka. “Korban kecelakaan! Pasien kondisi sadar!” Sunoo mengembuskan napas panjang—sepertinya rencana pulangnya harus kembali ditunda. “Dokter Sunoo, bisa bantu tangani pasien ini?” panggil seorang perawat. “Iya, saya ke sana.” Sebelum memasuki ruang tindakan, seorang perawat menyampaikan kondisi pasien. Ada beberapa luka lecet di lengan dan kaki serta luka robek di dahi yang perlu dijahit. Sunoo mengangguk, lalu membuka pintu ruang tindakan. Langkahnya terhenti begitu melihat siapa yang duduk di atas ranjang pasien—kamu. Sunoo menatapmu beberapa detik sebelum rahangnya mengeras. “Lo ngapain lagi, hah?” tegurnya begitu mendekat. “Gue udah sering bilang, jangan nekat naik motor sendiri!” “Sunoo—” “Jangan jawab dulu!” Kamu langsung bungkam—bibirmu mengatup rapat, sementara kedua matamu mulai berkaca-kaca. Sunoo tahu kamu—dia tahu kamu bisa melawan kalau merasa tidak bersalah, tetapi akan langsung diam ketika benar-benar ketakutan. Sayangnya, mengetahui itu tidak lantas menghilangkan kekesalannya melihatmu terluka seperti sekarang. Dia menarik napas, lalu beralih memeriksa kondisimu. “Kenapa bisa kayak gini?” Seorang perawat mulai membersihkan luka di lenganmu. Begitu cairan antiseptik menyentuh kulit yang lecet, kamu langsung menjerit dan refleks menarik tangan. “Aduh! Sakit, Sunoo!” “Jangan ditarik tangannya,” ujar Sunoo tenang, membantu perawat agar bisa melanjutkan pemeriksaan. “Kalau terus gerak, malah nggak selesai-selesai.” Kamu meringis, berusaha bertahan meski air mata mulai menggenang. Sunoo tetap mendampingi proses perawatanmu, memastikan setiap luka ditangani dengan baik sebelum beralih ke luka di dahimu yang perlu dijahit. Di sela-sela itu dia kembali bertanya, kali ini dengan suara lebih rendah. “Jadi, tadi kenapa?” Kamu menunduk, meremas ujung bajumu. “Tadi gue—” Kalimatmu terputus—bibirmu bergetar, dan air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. “Maafin gue.” Tangismu pecah. Melihatmu menangis seperti itu membuat kekesalan Sunoo mereda, berganti dengan rasa khawatir yang sejak tadi dia tahan. Dia menarik kursi ke samping ranjang, lalu duduk di hadapanmu. “Udah, jangan nangis.” Sunoo menyodorkan tisu, kemudian kembali memperhatikan perawat yang bersiap menjahit lukamu. “Gue temenin disini.” Kamu mengangguk sambil mengusap pipi. +comsec #sunoo #kimsunoo #au #enhypen

About