story galau :
Aku percaya, dengan keyakinan yang nyaris bodoh,
bahwa rasa itu akan mati perlahan seiring waktu berjalan,
akan luruh sendiri di antara hari-hari yang sibuk,
akan lelah dan menyerah tanpa perlu aku paksa untuk pergi.
Kupikir jarak, kesibukan, dan pura-pura bahagia
akan cukup untuk menguburnya dalam-dalam,
tanpa nisan, tanpa kenangan, tanpa alasan
untuk kembali menoleh ke belakang.
Namun kenyataannya, rasa itu tidak pernah benar-benar pergi,
ia hanya belajar bersembunyi lebih rapi,
menetap diam di sudut hati yang paling sunyi,
menunggu saat aku lengah,
menunggu malam terlalu sepi untuk dilawan,
menunggu pikiranku berhenti sibuk dan mulai jujur.
Ia muncul dari hal-hal yang seharusnya sepele,
nama yang tak sengaja terdengar,
tempat yang dulu biasa saja,
lagu yang tak pernah aku minta untuk diputar,
lalu tiba-tiba dadaku sesak
seolah semua kenangan datang bersamaan
tanpa memberi waktu untuk bernapas.
Aku belajar tertawa lebih keras dari lukaku,
belajar terlihat baik-baik saja di hadapan dunia,
belajar mengatakan “aku sudah tidak apa-apa”
padahal setiap malam aku kalah
oleh ingatan yang pulang tanpa permisi
dan duduk lama di kepalaku.
Waktu ternyata tidak menyembuhkan apa pun,
ia hanya mengajarkanku cara menyembunyikan luka
agar terlihat dewasa dan kuat,
padahal di dalam,
luka itu semakin dalam,
semakin rapi tersimpan,
dan semakin menyakitkan saat disentuh.
Dan akhirnya aku mengerti,
yang benar-benar menyayat bukanlah kehilanganmu,
melainkan kenyataan bahwa hidup terus berjalan,
sementara sebagian dari diriku tetap tertinggal,
di masa saat aku masih percaya
bahwa rasa ini akan hilang
hanya karena waktu berlalu.
2026-10-09 07:14:51