@rri_jember: Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, melakukan penjemputan dan pembebasan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) atas nama Sarwi (56) di Desa Curahtatal, Kecamatan Arjasa, Jumat, 9 Oktober 2026. Psikiater RSUD dr. Abdoer Rahem, dr. Dewi Prisca Sembiring Sp. KJ mengatakan, pada momentum Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, ia bersama Dinas Sosial, Puskesmas, dan Tim Pelaksana/Penggerak Kesehatan Jiwa Masyarakat melakukan kunjungan dan penjemputan ODGJ yang dipasung. "Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, kita melakukan kunjungan ODGJ yang dipasung. Sebelumnya sudah kami edukasi pihak keluarganya dan menyetujui agar pasien dirawat di RSUD dr. Abdoer Rahem," ujar dr. Dewi Prisca. Saat ini RSUD dr. Abdoer Rahem merawat inap 10 orang dengan gangguan jiwa. Mereka mengalami fase akut dan fase kronis sehingga membutuhkan perawatan intensif untuk menjadi lebih baik. Fase akut butuh perawatan maksimal dua minggu, sedangkan fase kronis hingga tiga bulan. "Kalau fase akut, rawat inapnya bisa satu sampai dua minggu. Tapi kalau kronis, bisa sampai tiga bulan, baru mereka bisa dirawat jalan. Kalau pasien ODGJ tidak bisa kita katakan sembuh ya, tapi dia membaik," ucapnya. Data total pasien ODGJ yang menjalani pengobatan di RSUD dr. Abdoer Rahem pada bulan September 2026 sebanyak 318 orang, 30 di antaranya menjalani rawat inap, namun 20 orang sudah membaik dan menjalani rawat jalan, sehingga tinggal 10 ODGJ yang rawat inap. "Termasuk tambahan satu orang atas nama Sarwi, yang baru saja kita lakukan penjemputan," imbuhnya. Perawatan terhadap ODGJ yang menjalani rawat inap, meliputi pengobatan untuk kejiawaan, terapi okupasi, perawatan diri sehari-hari supaya nantinya siap ketika dipulangkan kembali ke tengah-tengah masyarakat. "Pasien akan dilakukan perawatan untuk kejiwaannya dengan pengobatan, kemudian dengan terapi okupasi, dan perawatan diri sehari-hari supaya dia siap ketika dipulangkan dan kembali ke masyarakat," tegasnya. Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo, Dwi Herman Susilo mengatakan, Dinas Kesehatan dan RSUD dr. Abdoer Rahem mendukung Program Indonesia Bebas Pasung yang dicetuskan oleh pemerintah pusat sejak 2018. "Ya ini bentuk dukungan kita agar tidak ada lagi pasien ODGJ yang dipasung. Meskipun mereka mengalami gangguan jiwa, tapi kita harus tetap memperlakukan secara manusiawi," ujar Dwi Herman di sela kunjungan pasien ODGJ. Dwi Herman mengaku bahwa masih banyak masyarakat yang melakukan tindakan pasung terhadap ODGJ yang dikhawatirkan membuat keonaran atau bahkan mengancam jiwa masyarakat sekitar. Namun ia mengimbau agar pasung dilakukan dengan memperhatikan kebersihan dan kesehatan ODGJ. "Tetap harus dilakukan secara manusiawi ya. Kebutuhan tempat buang air kecil dan air besar diperhatikan. Kalau kayak gini kan kasihan, kotor sekali," ucap Dwi saat di rumah Sarwi, ODGJ yang dijemput untuk dirawat inap di RSUD dr. Abdoer Rahem. Informasi dihimpun RRI, Sarwi dipasung karena kerap kali mengamuk keluarganya dan tetangganya menggunakan alat berbahaya seperti parang dan pentungan. Sejauh ini memang belum ada korban, namun Sarwi menjadi ancaman bagi masyarakat sehingga harus dipasung. "Sarwi ini dipasung hampir setahun. Ia melarikan diri dari Lingkungan Pondok Sosial atau Liposos, Surabaya. Sesampainya di rumahnya, lalu dipasung berdasarkan kesepakatan keluarga," imbuh Dwi Herman. Reporter : Diana Dinar #KitaIndonesiaRRI #kitaindonesiarri

RRI JEMBER
RRI JEMBER
Open In TikTok:
Region: ID
Saturday 10 October 2026 16:43:07 GMT
738
8
0
2

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @rri_jember, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos


About