@hebertdavidbd:

Hebert David
Hebert David
Open In TikTok:
Region: VE
Monday 12 October 2026 17:14:27 GMT
1712
6
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @hebertdavidbd, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

​Hari ini, 13 Oktober 2026, wilayah Indonesia bagian timur dan tengah mengalami sebaran kabut asap yang sangat luas dan signifikan.  Sebagaimana dikonfirmasi oleh data satelit dan pemantauan kualitas udara, kabut asap yang pekat tidak hanya menyelimuti Pulau Papua, tetapi telah mencapai wilayah yang jauh di barat dan utara, yaitu: ​Seluruh Pulau Papua:  Baik wilayah Papua, Indonesia (terutama bagian selatan dan tengah) maupun negara Papua Nugini. ​Kepulauan Maluku:  Terutama Maluku bagian selatan dan tengah (Kepulauan Aru, Tanimbar, Kai, Maluku Tenggara, dan Pulau Seram). ​Nusa Tenggara Timur (NTT):  Meliputi Pulau Timor, Flores, Sumba, Alor, dan pulau-pulau sekitarnya. ​Sulawesi Bagian Selatan dan Tenggara:  Kabut asap telah mencapai wilayah Sulawesi Tenggara (Kendari, Buton, Wakatobi, Kolaka) dan menyebar hingga Sulawesi Selatan (Makassar, Bantaeng, Jeneponto, Kepulauan Selayar). ​Kabut asap ini memiliki dampak serius pada jarak pandang dan kualitas udara di kota-kota besar seperti Jayapura, Merauke, Kupang, Kendari, dan Makassar. ​2. Sumber Kebakaran dan Penyebab ​Peta secara jelas menunjukkan bahwa sumber utama kabut asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif di dua lokasi utama: ​Papua Nugini:  Kebakaran besar-besaran terjadi di wilayah Western Province dan daerah pedalaman yang sulit dijangkau. ​Papua Selatan, Indonesia:  Terutama di Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, serta sebagian Papua Tengah. ​Penyebab utama kebakaran ini adalah kombinasi dari musim kemarau yang berkepanjangan (sering kali diperparah oleh fenomena El Niño yang menyebabkan curah hujan sangat rendah di wilayah selatan khatulistiwa) dan aktivitas pembersihan lahan dengan cara membakar.  Kondisi vegetasi yang kering dan tanah gambut di beberapa area membuat api sulit dipadamkan dan menghasilkan asap yang sangat pekat. ​3. Mekanisme Penyebaran dan Pola Angin ​Peta sebaran kabut asap menunjukkan pergerakan asap yang konsisten ke arah barat dan barat laut.  Ini disebabkan oleh pola angin dominan yang bertiup pada bulan Oktober, yaitu Monsun Tenggara.  Massa udara kering dan kencang bertiup dari benua Australia dan wilayah timur, membawa asap dari kebakaran di Papua melintasi Laut Arafura dan Laut Banda menuju Kepulauan Maluku, NTT, dan Sulawesi. ​Pegunungan tengah yang tinggi di Pulau Papua sebagian besar menghalangi pergerakan asap ke utara, sehingga asap cenderung menumpuk dan menyebar secara horizontal ke barat daya. ​4. Tingkat Keparahan dan Dampak Kesehatan ​Tingkat keparahan kabut asap (sebagaimana ditunjukkan oleh gradasi warna di peta) bervariasi: ​Sangat Tidak Sehat hingga Berbahaya  (Warna Merah hingga Ungu):  Terutama di wilayah Papua Selatan dan Papua Nugini yang dekat dengan titik api.  Partikel PM2.5 mencapai tingkat berbahaya. ​Tidak Sehat bagi Kelompok Rentan hingga Tidak Sehat (Warna Oranye hingga Merah):  Di wilayah NTT, Kepulauan Maluku selatan, dan Sulawesi Tenggara. ​Sedang hingga Tidak Sehat (Warna Kuning hingga Oranye):  Di Sulawesi Selatan. ​Kabut asap mengandung partikel berbahaya, gas karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik yang mudah menguap. Dampak kesehatannya sangat serius, terutama bagi kelompok rentan (anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit pernapasan atau jantung): ​Peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). ​Iritasi mata, tenggorokan, dan hidung. ​Perburukan kondisi asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). ​Dampak jangka panjang bagi kesehatan jantung dan perkembangan anak. ​5. Saran Keselamatan:  Stay Safe All! ​Mengingat kondisi kualitas udara yang sangat buruk dan penyebaran kabut asap yang luas, masyarakat di seluruh wilayah yang terdampak diimbau untuk segera melakukan langkah-langkah pencegahan: ​Wajib Gunakan Masker: Selalu gunakan masker jika terpaksa harus beraktivitas di luar rumah.  #infoterkini  #sorotan  #karhutla  #asap  #update
​Hari ini, 13 Oktober 2026, wilayah Indonesia bagian timur dan tengah mengalami sebaran kabut asap yang sangat luas dan signifikan. Sebagaimana dikonfirmasi oleh data satelit dan pemantauan kualitas udara, kabut asap yang pekat tidak hanya menyelimuti Pulau Papua, tetapi telah mencapai wilayah yang jauh di barat dan utara, yaitu: ​Seluruh Pulau Papua: Baik wilayah Papua, Indonesia (terutama bagian selatan dan tengah) maupun negara Papua Nugini. ​Kepulauan Maluku: Terutama Maluku bagian selatan dan tengah (Kepulauan Aru, Tanimbar, Kai, Maluku Tenggara, dan Pulau Seram). ​Nusa Tenggara Timur (NTT): Meliputi Pulau Timor, Flores, Sumba, Alor, dan pulau-pulau sekitarnya. ​Sulawesi Bagian Selatan dan Tenggara: Kabut asap telah mencapai wilayah Sulawesi Tenggara (Kendari, Buton, Wakatobi, Kolaka) dan menyebar hingga Sulawesi Selatan (Makassar, Bantaeng, Jeneponto, Kepulauan Selayar). ​Kabut asap ini memiliki dampak serius pada jarak pandang dan kualitas udara di kota-kota besar seperti Jayapura, Merauke, Kupang, Kendari, dan Makassar. ​2. Sumber Kebakaran dan Penyebab ​Peta secara jelas menunjukkan bahwa sumber utama kabut asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif di dua lokasi utama: ​Papua Nugini: Kebakaran besar-besaran terjadi di wilayah Western Province dan daerah pedalaman yang sulit dijangkau. ​Papua Selatan, Indonesia: Terutama di Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, serta sebagian Papua Tengah. ​Penyebab utama kebakaran ini adalah kombinasi dari musim kemarau yang berkepanjangan (sering kali diperparah oleh fenomena El Niño yang menyebabkan curah hujan sangat rendah di wilayah selatan khatulistiwa) dan aktivitas pembersihan lahan dengan cara membakar. Kondisi vegetasi yang kering dan tanah gambut di beberapa area membuat api sulit dipadamkan dan menghasilkan asap yang sangat pekat. ​3. Mekanisme Penyebaran dan Pola Angin ​Peta sebaran kabut asap menunjukkan pergerakan asap yang konsisten ke arah barat dan barat laut. Ini disebabkan oleh pola angin dominan yang bertiup pada bulan Oktober, yaitu Monsun Tenggara. Massa udara kering dan kencang bertiup dari benua Australia dan wilayah timur, membawa asap dari kebakaran di Papua melintasi Laut Arafura dan Laut Banda menuju Kepulauan Maluku, NTT, dan Sulawesi. ​Pegunungan tengah yang tinggi di Pulau Papua sebagian besar menghalangi pergerakan asap ke utara, sehingga asap cenderung menumpuk dan menyebar secara horizontal ke barat daya. ​4. Tingkat Keparahan dan Dampak Kesehatan ​Tingkat keparahan kabut asap (sebagaimana ditunjukkan oleh gradasi warna di peta) bervariasi: ​Sangat Tidak Sehat hingga Berbahaya (Warna Merah hingga Ungu): Terutama di wilayah Papua Selatan dan Papua Nugini yang dekat dengan titik api. Partikel PM2.5 mencapai tingkat berbahaya. ​Tidak Sehat bagi Kelompok Rentan hingga Tidak Sehat (Warna Oranye hingga Merah): Di wilayah NTT, Kepulauan Maluku selatan, dan Sulawesi Tenggara. ​Sedang hingga Tidak Sehat (Warna Kuning hingga Oranye): Di Sulawesi Selatan. ​Kabut asap mengandung partikel berbahaya, gas karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik yang mudah menguap. Dampak kesehatannya sangat serius, terutama bagi kelompok rentan (anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit pernapasan atau jantung): ​Peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). ​Iritasi mata, tenggorokan, dan hidung. ​Perburukan kondisi asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). ​Dampak jangka panjang bagi kesehatan jantung dan perkembangan anak. ​5. Saran Keselamatan: Stay Safe All! ​Mengingat kondisi kualitas udara yang sangat buruk dan penyebaran kabut asap yang luas, masyarakat di seluruh wilayah yang terdampak diimbau untuk segera melakukan langkah-langkah pencegahan: ​Wajib Gunakan Masker: Selalu gunakan masker jika terpaksa harus beraktivitas di luar rumah. #infoterkini #sorotan #karhutla #asap #update

About