@daddyr3365: Jesús es la fuerza de nuestra juventud 💪✝️ #SigueAJesus #NombreDeJesus #JesusEsMiPaz #CentradoEnJesus #JesusSana

Daddyr
Daddyr
Open In TikTok:
Region: US
Monday 12 October 2026 18:31:11 GMT
258
88
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @daddyr3365, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Lebih mudah menjadi kekasih daripada menjadi suami. Sebab, cinta sejati bukan diuji saat rindu, tetapi saat hidup bersama.” Jangan hanya pandai memenangkan hati. Belajarlah merawatnya setiap hari. Sebab, cinta bukan sekadar rasa, melainkan amanah dan perjalanan menundukkan ego. Murid: Guru, mengapa seseorang begitu manis ketika mengejar cinta, tetapi berubah setelah memilikinya? Guru: Karena, Nak, memenangkan hati seseorang sering kali lebih mudah daripada merawat hati yang telah dipercayakan kepadamu. Murid: Bukankah cinta seharusnya semakin indah ketika dua insan telah bersama? Guru: Seharusnya. Tetapi banyak manusia hanya jatuh cinta pada keindahan pertemuan, bukan pada tanggung jawab kebersamaan. Ketika masih menjadi kekasih, ia pandai merangkai kata, menghitung hari, merindukan pertemuan, dan menyembunyikan kekurangannya. Sebab, ada jarak yang membuatnya harus berjuang untuk terlihat istimewa. Namun, ketika telah menjadi suami, istri, atau pasangan hidup, panggung sandiwara itu perlahan runtuh. Yang tersisa bukan lagi sekadar kata-kata manis, melainkan watak asli, kebiasaan, kelelahan, dan ego yang menuntut untuk selalu dimengerti. Murid: Jadi, Guru, menikah bukan hanya tentang mendapatkan orang yang dicintai? Guru: Bukan, Nak. Menikah adalah saat engkau berhenti sekadar ingin dicintai, lalu belajar menjadi manusia yang layak dipercaya. Cinta tidak selalu berupa bunga, kejutan, atau bisikan mesra. Terkadang, cinta adalah menahan lidah ketika amarah menyala. Mendengarkan ketika pasanganmu lelah. Meminta maaf ketika egomu ingin menang. Dan tetap menghormati seseorang, bahkan ketika ia tak lagi tampil sempurna di matamu. Murid: Lalu, di manakah letak tasawuf dalam sebuah pernikahan, Guru? Guru: Pada perjuangan menundukkan diri sendiri, Nak. Jangan hanya bertanya, “Mengapa dia tidak lagi semanis dahulu?” Tanyakan pula, “Apakah aku masih merawat hatinya, atau diam-diam menjadikannya pelayan bagi keinginanku?” Sebab, sering kali kita menuntut pasangan berubah, padahal ego kitalah yang menolak bercermin. Dalam tasawuf, cinta bukan alasan untuk menguasai manusia lain. Cinta adalah amanah yang mengajarkan tanggung jawab, kesabaran, kejujuran, dan kasih sayang. Murid: Jadi, Guru, kekasih bisa membuat kita berdebar, tetapi pasangan hidup mengajarkan kita mengenal diri sendiri? Guru: Benar, Nak. Kekasih mungkin membuatmu mabuk oleh kata-kata. Namun, kehidupan bersama akan mengujimu melalui hal-hal kecil yang berulang setiap hari. Dan di situlah pertanyaan sesungguhnya muncul: apakah cintamu hanya indah ketika suasana mendukung, atau tetap beradab ketika keadaan menguji? Ingatlah, Nak, cinta sejati bukan sekadar kemampuan membuat seseorang jatuh hati, melainkan kesediaan menjaga hati yang telah memilih untuk tinggal. Jangan hanya pandai mengetuk pintu hati. Belajarlah merawat rumah yang telah dipercayakan kepadamu. **Jika engkau ingin menyelami lebih dalam rahasia cinta, ego, dan penyucian hati melalui tasawuf, lihat dan pilih kitab tasawuf di Showcase. #TasawufCinta #RumahTangga #RenunganHati #CintaSejati #kikotasawuf
“Lebih mudah menjadi kekasih daripada menjadi suami. Sebab, cinta sejati bukan diuji saat rindu, tetapi saat hidup bersama.” Jangan hanya pandai memenangkan hati. Belajarlah merawatnya setiap hari. Sebab, cinta bukan sekadar rasa, melainkan amanah dan perjalanan menundukkan ego. Murid: Guru, mengapa seseorang begitu manis ketika mengejar cinta, tetapi berubah setelah memilikinya? Guru: Karena, Nak, memenangkan hati seseorang sering kali lebih mudah daripada merawat hati yang telah dipercayakan kepadamu. Murid: Bukankah cinta seharusnya semakin indah ketika dua insan telah bersama? Guru: Seharusnya. Tetapi banyak manusia hanya jatuh cinta pada keindahan pertemuan, bukan pada tanggung jawab kebersamaan. Ketika masih menjadi kekasih, ia pandai merangkai kata, menghitung hari, merindukan pertemuan, dan menyembunyikan kekurangannya. Sebab, ada jarak yang membuatnya harus berjuang untuk terlihat istimewa. Namun, ketika telah menjadi suami, istri, atau pasangan hidup, panggung sandiwara itu perlahan runtuh. Yang tersisa bukan lagi sekadar kata-kata manis, melainkan watak asli, kebiasaan, kelelahan, dan ego yang menuntut untuk selalu dimengerti. Murid: Jadi, Guru, menikah bukan hanya tentang mendapatkan orang yang dicintai? Guru: Bukan, Nak. Menikah adalah saat engkau berhenti sekadar ingin dicintai, lalu belajar menjadi manusia yang layak dipercaya. Cinta tidak selalu berupa bunga, kejutan, atau bisikan mesra. Terkadang, cinta adalah menahan lidah ketika amarah menyala. Mendengarkan ketika pasanganmu lelah. Meminta maaf ketika egomu ingin menang. Dan tetap menghormati seseorang, bahkan ketika ia tak lagi tampil sempurna di matamu. Murid: Lalu, di manakah letak tasawuf dalam sebuah pernikahan, Guru? Guru: Pada perjuangan menundukkan diri sendiri, Nak. Jangan hanya bertanya, “Mengapa dia tidak lagi semanis dahulu?” Tanyakan pula, “Apakah aku masih merawat hatinya, atau diam-diam menjadikannya pelayan bagi keinginanku?” Sebab, sering kali kita menuntut pasangan berubah, padahal ego kitalah yang menolak bercermin. Dalam tasawuf, cinta bukan alasan untuk menguasai manusia lain. Cinta adalah amanah yang mengajarkan tanggung jawab, kesabaran, kejujuran, dan kasih sayang. Murid: Jadi, Guru, kekasih bisa membuat kita berdebar, tetapi pasangan hidup mengajarkan kita mengenal diri sendiri? Guru: Benar, Nak. Kekasih mungkin membuatmu mabuk oleh kata-kata. Namun, kehidupan bersama akan mengujimu melalui hal-hal kecil yang berulang setiap hari. Dan di situlah pertanyaan sesungguhnya muncul: apakah cintamu hanya indah ketika suasana mendukung, atau tetap beradab ketika keadaan menguji? Ingatlah, Nak, cinta sejati bukan sekadar kemampuan membuat seseorang jatuh hati, melainkan kesediaan menjaga hati yang telah memilih untuk tinggal. Jangan hanya pandai mengetuk pintu hati. Belajarlah merawat rumah yang telah dipercayakan kepadamu. **Jika engkau ingin menyelami lebih dalam rahasia cinta, ego, dan penyucian hati melalui tasawuf, lihat dan pilih kitab tasawuf di Showcase. #TasawufCinta #RumahTangga #RenunganHati #CintaSejati #kikotasawuf

About