@jerry_show_you_the_world: Be sure to bring your Death Certificate. #disney #waltdisneyworld #hauntedmansion #stepcount #thevacationprofessor @Walt Disney World

The Vacation Professor
The Vacation Professor
Open In TikTok:
Region: US
Tuesday 13 October 2026 17:52:04 GMT
4268
262
8
142

Music

Download

Comments

onceuponemily
onceuponemily ✨ :
Especially if it’s a 13 minute wait!
2026-10-13 19:46:05
3
homebody33034
homebody33034 :
I’ll always need one more visit to my home!!
2026-10-14 14:28:15
1
cj_jones_
Cassie :
This was the last ride literally lol
2026-10-14 00:26:11
1
hillside.travels
Hillside Travels :
Just one more ride!
2026-10-13 19:39:53
1
To see more videos from user @jerry_show_you_the_world, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Balada Penyesalan Para Pembela Dulu… Kalian pasang dada di dunia maya, Membela angka lima persen dan sebelas persen seolah itu penghinaan terbesar dalam sejarah politik. Kalian membanjiri komentar dengan sumpah serapah, memuja dua nama seolah tak mungkin salah. Bagi kalian, kritik adalah fitnah, fakta hanyalah bumbu lawan politik. Kalian bangga menjadi benteng, benteng yang kokoh menolak kenyataan. Tak peduli data, tak peduli bukti, yang penting jagoan kalian terlihat gagah di panggung. Lalu waktu berjalan… Kini kalian menuai apa yang kalian tabur. Pabrik demi pabrik tutup, PHK massal menghantam tanpa henti. Lapangan kerja hanya menjadi janji kampanye, anak muda menganggur, orang tua kehilangan penghasilan, harga naik, harapan turun. Di istana, janji tinggal hiasan dinding. Rakyat disuguhi kata-kata manis, tetapi kenyataan terasa pahit. Kebijakan dimainkan seperti catur, dan rakyat menjadi pion yang dikorbankan. Alam pun ikut menanggung akibatnya. Hutan ditebang demi kepentingan segelintir manusia. Banjir menerjang, longsor merenggut kehidupan, tanah kehilangan pelindungnya. Api melahap hutan berbulan-bulan, asap mengepung langit, sementara penanganan berjalan lambat. Seakan semuanya harus menjadi abu sebelum bencana layak mendapat perhatian. Yang lebih menyakitkan, anak-anak yang seharusnya belajar dan bermain justru menjadi korban keracunan. Mereka tak mengerti politik, tak pernah ikut berkampanye, tak pernah membela penguasa di kolom komentar. Namun mereka ikut menanggung akibat dari keputusan orang dewasa. Dan kalian… Para pembela mati-matian itu… Kini mengeluh di warung kopi, meratap di grup WhatsApp, menyalahkan keadaan dan mencari kambing hitam. Padahal dahulu, kalianlah yang paling lantang membungkam kritik. Kalian menyesal? Terlambat. Penyesalan tak mengembalikan pekerjaan, tak menghidupkan kembali hutan yang terbakar, tak menghapus racun dari tubuh anak-anak, tak pula mengembalikan rumah yang direnggut bencana. Dulu kalian menyebut kritik sebagai kebencian. Kini kalian tahu, kritik adalah peringatan. Sayangnya, kalian terlalu sibuk membela hingga lupa bertanya: apakah mereka benar-benar bekerja untuk rakyat, atau kalian hanya tak sanggup mengakui bahwa pilihan kalian bisa saja keliru? Inilah balada penyesalan para pembela, mereka yang dahulu paling keras bersuara, tetapi kini mulai kehilangan kata-kata. Sebab membela kekuasaan bukanlah prestasi jika rakyat harus membayar mahal harganya. Mengakui kesalahan bukan kehinaan, tetapi menyangkal kenyataan ketika penderitaan terpampang di depan mata adalah kesalahan yang terus dipelihara. Pada akhirnya, kekuasaan bisa berganti, jabatan bisa berakhir, dan para pemuja bisa mencari idola baru. Namun rakyat tetap harus membereskan puing-puingnya, menghirup asapnya, menanggung kehilangan pekerjaannya, dan mengubur harapan yang dahulu dijanjikan. Sejarah tak hanya mencatat siapa yang berkuasa, tetapi juga siapa yang memilih membela ketika kebenaran sedang diperingatkan. #politics #indonesia #demokrasi #Flashback #melekpolitik #buzzerprabowo #prabowosubianto #rakyat
Balada Penyesalan Para Pembela Dulu… Kalian pasang dada di dunia maya, Membela angka lima persen dan sebelas persen seolah itu penghinaan terbesar dalam sejarah politik. Kalian membanjiri komentar dengan sumpah serapah, memuja dua nama seolah tak mungkin salah. Bagi kalian, kritik adalah fitnah, fakta hanyalah bumbu lawan politik. Kalian bangga menjadi benteng, benteng yang kokoh menolak kenyataan. Tak peduli data, tak peduli bukti, yang penting jagoan kalian terlihat gagah di panggung. Lalu waktu berjalan… Kini kalian menuai apa yang kalian tabur. Pabrik demi pabrik tutup, PHK massal menghantam tanpa henti. Lapangan kerja hanya menjadi janji kampanye, anak muda menganggur, orang tua kehilangan penghasilan, harga naik, harapan turun. Di istana, janji tinggal hiasan dinding. Rakyat disuguhi kata-kata manis, tetapi kenyataan terasa pahit. Kebijakan dimainkan seperti catur, dan rakyat menjadi pion yang dikorbankan. Alam pun ikut menanggung akibatnya. Hutan ditebang demi kepentingan segelintir manusia. Banjir menerjang, longsor merenggut kehidupan, tanah kehilangan pelindungnya. Api melahap hutan berbulan-bulan, asap mengepung langit, sementara penanganan berjalan lambat. Seakan semuanya harus menjadi abu sebelum bencana layak mendapat perhatian. Yang lebih menyakitkan, anak-anak yang seharusnya belajar dan bermain justru menjadi korban keracunan. Mereka tak mengerti politik, tak pernah ikut berkampanye, tak pernah membela penguasa di kolom komentar. Namun mereka ikut menanggung akibat dari keputusan orang dewasa. Dan kalian… Para pembela mati-matian itu… Kini mengeluh di warung kopi, meratap di grup WhatsApp, menyalahkan keadaan dan mencari kambing hitam. Padahal dahulu, kalianlah yang paling lantang membungkam kritik. Kalian menyesal? Terlambat. Penyesalan tak mengembalikan pekerjaan, tak menghidupkan kembali hutan yang terbakar, tak menghapus racun dari tubuh anak-anak, tak pula mengembalikan rumah yang direnggut bencana. Dulu kalian menyebut kritik sebagai kebencian. Kini kalian tahu, kritik adalah peringatan. Sayangnya, kalian terlalu sibuk membela hingga lupa bertanya: apakah mereka benar-benar bekerja untuk rakyat, atau kalian hanya tak sanggup mengakui bahwa pilihan kalian bisa saja keliru? Inilah balada penyesalan para pembela, mereka yang dahulu paling keras bersuara, tetapi kini mulai kehilangan kata-kata. Sebab membela kekuasaan bukanlah prestasi jika rakyat harus membayar mahal harganya. Mengakui kesalahan bukan kehinaan, tetapi menyangkal kenyataan ketika penderitaan terpampang di depan mata adalah kesalahan yang terus dipelihara. Pada akhirnya, kekuasaan bisa berganti, jabatan bisa berakhir, dan para pemuja bisa mencari idola baru. Namun rakyat tetap harus membereskan puing-puingnya, menghirup asapnya, menanggung kehilangan pekerjaannya, dan mengubur harapan yang dahulu dijanjikan. Sejarah tak hanya mencatat siapa yang berkuasa, tetapi juga siapa yang memilih membela ketika kebenaran sedang diperingatkan. #politics #indonesia #demokrasi #Flashback #melekpolitik #buzzerprabowo #prabowosubianto #rakyat

About