@prokalteng.co: Matahari siang itu tak lebih dari sebuah lingkaran jingga samar yang meredup di langit Kabupaten Lamandau. Rabu (14/10/2026), kabut asap pekat akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) menyelimuti Kota Nanga Bulik. Jarak pandang melorot drastis, menyisa bau hangus yang menusuk hidung dan menyisakan perih di mata. Kota yang biasanya riuh oleh deru sepeda motor dan perbincangan hangat warga di kedai-kedai kopi, mendadak sepi. Hanya raungan sirene armada pemadam kebakaran yang sesekali membelah hening, menderu panik menuju arah pinggiran hutan. Jalan-jalan protokol tampak lengang. Kehidupan seolah ditarik paksa dari atas aspal yang tertutup jelaga halus. Pantauan di lapangan menunjukkan sebagian besar masyarakat memilih mengurung diri di dalam rumah, mematikan pendingin ruangan, dan merapatkan tirai demi menahan gumpalan asap yang mencoba menerobos masuk.