@sheruu.x05: Actyvvvv knnn ๐ŸŒโ€ . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . #foryoupage #foryou #fyp #for #viral

๐–˜๐–๐–Š๐–—๐–” ๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡ง
๐–˜๐–๐–Š๐–—๐–” ๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡ง
Open In TikTok:
Region: IQ
Thursday 15 October 2026 15:52:22 GMT
9532
1031
79
113

Music

Download

Comments

j4guu_01
๏ฟด :
bra De shey Ve video Ee bomn frekay ?
2026-10-15 22:46:30
1
m7ko443
M7KUUUx05๐Ÿฆ‚ :
sheroooo ๐Ÿ–ค๐Ÿ˜˜๐Ÿ’
2026-10-15 16:30:07
3
bilalmahdi16
_.๐›๐ข๐ฅ๐š๐ฅโœฉ :
๐’๐ก๐ž๐ซ๐ณ๐š๐โค๏ธโ€๐Ÿ”ฅ๐Ÿ˜
2026-10-15 15:55:01
2
auguuust.05
โœฏ๐–น๐–ธ๐–ด๐–ดโฐโต๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡งโœฏ :
Bray min๐Ÿ’
2026-10-15 16:17:52
2
78..shero0
โทโธ๐€๐ฌ๐’๐ฅ๐š๐_.๐Ÿฆ๐Ÿ”ฅ :
Sheruuuuuy.!๐Ÿซ‚๐Ÿซถ
2026-10-15 22:25:37
1
hamo02.1
๐Ÿ‡ท๐Ÿ‡บ๐–๐–†๐–’๐–”.๐ŸŽ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ”ฅ :
Sheroโ™ฅ๏ธ
2026-10-15 17:21:18
2
s4muuu.x77
ุณู€ู€ู€ู€ู€ู€ ู€ู€ุงู…ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ ู€ูˆูˆ๐Ÿคด๐Ÿป :
Pseee,๐Ÿ˜ป
2026-10-15 22:31:49
2
3mo..mamezdini
โœฏ3mo.__.mamizdeniโœฏ :
Bra yemnโ€๐Ÿ’Ž๐ŸŒน
2026-10-15 16:49:18
1
haji._seraj
seraj_ beduhii :
2026-10-15 23:04:31
1
fu0uad
ูŽ :
Sheruu;๐ŸŒน
2026-10-15 22:54:45
1
shero0.77
๐–˜๐–๐–Š๐–—๐–”๐–”~/๐Ÿ–คFoRyOu :
Brayeeemn๐Ÿ˜๐Ÿ–ค
2026-10-15 22:07:12
1
pipuu.92
๐–Š๐–˜๐–‘๐–š๐–š ๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡ง :
Psmame mnn๐Ÿ˜˜โ™ฅ๏ธ
2026-10-15 16:02:25
2
auguuust.05
โœฏ๐–น๐–ธ๐–ด๐–ดโฐโต๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡งโœฏ :
Gulla min๐Ÿ˜
2026-10-15 16:17:57
2
3mo..mamezdini
โœฏ3mo.__.mamizdeniโœฏ :
Sherooooโ€๐Ÿ’™๐Ÿซ‚
2026-10-15 16:49:14
1
pipuu.92
๐–Š๐–˜๐–‘๐–š๐–š ๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡ง :
Sheruuu ya ;๐Ÿ”ฅ๐Ÿ˜
2026-10-15 16:02:07
2
fu0uad
ูŽ :
Braa,yaaa๐Ÿ”ฅ๐Ÿ˜
2026-10-15 22:54:58
1
s4muuu.x77
ุณู€ู€ู€ู€ู€ู€ ู€ู€ุงู…ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ ู€ูˆูˆ๐Ÿคด๐Ÿป :
๐Ÿค๐Ÿคฉ
2026-10-15 22:31:53
2
7aji_qasim_77
ฺ˜ุนู…ุฑูŠ ุฎูˆูŠุฆ ุจูˆุฑูŠ ุบู‡ ุฑูŠุจู…..!๐Ÿ’”๐Ÿฅ€ :
โค๏ธโค๏ธโค๏ธ
2026-10-15 16:21:32
1
mstoo.111
`11` :
@Mohamed.๐Ÿ‘‘โšœ๏ธ @#33 @โ€ข @ร†รล’ ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ
2026-10-15 22:31:28
1
74m0.79
ุญู€ู€ู€ู€ู‡ ู…ู€ู€ู€ู€ูˆ ุฒุงุฎู€ู€ู€ู€ู€ูˆ ูŠู€ู€79 :
๐Ÿ‘‘๐Ÿ‘‘๐Ÿ‘‘
2026-10-15 19:41:26
1
pipuu.92
๐–Š๐–˜๐–‘๐–š๐–š ๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡ง :
โ™ฅ๏ธ๐Ÿ˜
2026-10-15 16:02:14
2
74m0.79
ุญู€ู€ู€ู€ู‡ ู…ู€ู€ู€ู€ูˆ ุฒุงุฎู€ู€ู€ู€ู€ูˆ ูŠู€ู€79 :
โค๏ธโค๏ธโค๏ธ
2026-10-15 19:41:29
1
74m0.79
ุญู€ู€ู€ู€ู‡ ู…ู€ู€ู€ู€ูˆ ุฒุงุฎู€ู€ู€ู€ู€ูˆ ูŠู€ู€79 :
โ™ฅ๏ธโ™ฅ๏ธโ™ฅ๏ธ
2026-10-15 19:41:23
1
siro3445
S๐Ÿiro :
๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜
2026-10-15 15:54:20
1
r8y0_
โ‚‡๐Ÿบ :
๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’
2026-10-15 16:07:10
1
To see more videos from user @sheruu.x05, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Bagaimana caranya agar kau mengerti bahwa aku mencintaimu? Aku sudah mencoba menjadi banyak hal. Aku pernah menjadi bulan yang menggantung terlalu rendah di langitmu, berharap kau menyadari bahwa cahayaku sengaja kutumpahkan hanya untuk menerangi jalan pulangmu. Aku pernah menjadi angin yang menyelinap ke sela rambutmu, mencuri aroma tubuhmu lalu membawanya pulang ke dalam tidurku yang panjang dan berantakan. Tetapi kau tetap berdiri di sana, seperti sebuah kerajaan yang tidak pernah menyadari sedang dikepung. Lalu bagaimana lagi harus kubuktikan? Haruskah aku membelah dadaku seperti tanah Andalusia yang haus, agar kau melihat ribuan kuda liar berlari di dalamnya membawa namamu pada surai mereka? Haruskah aku memanen seluruh delima yang merah di dunia, lalu memperlihatkan kepadamu bahwa setiap bijinya menyimpan satu cara aku menyebutmu dalam doa? Sebab cintaku kepadamu tidak tumbuh seperti bunga. Ia tumbuh seperti hutan. Gelap. Purba. Penuh akar yang saling melilit hingga ke pusat bumi. Burung-burung kehilangan arah di dalamnya. Matahari tersesat di antara cabang-cabangnya. Dan aku sendiri sering tidak menemukan jalan keluar setelah masuk terlalu jauh ke dalam perasaan ini. Atau mungkin lebih dari itu, ia seperti seekor rusa yang berlari membawa bulan di tanduknya, melintasi hutan-hutan gelap dalam diriku. Seperti perpustakaan tua yang terbakar, tetapi anehnya tidak meninggalkan abuโ€”hanya menyisakan namamu di setiap halaman. Seperti sekumpulan bintang yang kabur dari langit malam lalu bersembunyi di bawah tulang rusukku, menjadikan dadaku terang dan sesak pada saat yang bersamaan. Kau harus tahu: Di malam-malam tertentu, aku merasa jantungku adalah arena adu banteng yang ditinggalkan penontonnya. Dan namamulah banteng terakhir yang masih berlari liar di sana, menanduk segala ketenangan yang susah payah kubangun. Aku mencintaimu dengan cara yang bahkan membuat kesunyian ketakutan. Aku mencintaimu seperti laut mencintai badai yang menghancurkan tubuhnya sendiri. Seperti api mencintai kayu yang perlahan menghabiskannya. Seperti langit mencintai petir yang membelah dadanya menjadi dua. Begitulah. Indah. Dan sedikit mengerikan. Kadang aku ingin mencabut seluruh perasaan ini dari dalam tubuhku, melemparkannya ke ladang-ladang jauh, membiarkannya dimakan musim. Namun keesokan harinya cinta itu tumbuh lagi. Lebih tinggi. Lebih liar. Lebih berakar. Seolah-olah Tuhan diam-diam menanam namamu di setiap sudut diriku yang tidak mampu kujangkau. Yang bisa kulakukan hanyalah berdiri di hadapanmu, membawa seluruh musim yang pernah melukaiku, seluruh malam yang pernah membuatku kehilangan arah, lalu berkata dengan jujur: Lihatlah. Di antara reruntuhan dan keajaiban yang bernama diriku ini, masih ada satu hal yang tidak pernah berubah. Aku masih memilihmu. Aku. Masih. Memilihmu. Dengan keganasan ombak yang menolak tunduk pada karang. Dengan kesetiaan akar yang tetap mencari air meski bumi sedang kemarau. Dan dengan cinta yangโ€”bahkan setelah dunia selesai kiamat berkali-kali, mungkin masih akan menyebut namamu dari balik debunya. Jadi, bagaimana caranya agar kau mengerti bahwa aku mencintaimu? Mungkin aku harus meminjam bahasa yang digunakan pohon-pohon tua saat berbicara dengan hujan. Atau bahasa yang dipakai bintang-bintang ketika mereka jatuh ke laut. Sebab bahasa manusia terlalu kecil untuk perasaan sebesar ini. #aksarapena #sebuahtulisan #tetapmemilihmu #prosa #fyp
Bagaimana caranya agar kau mengerti bahwa aku mencintaimu? Aku sudah mencoba menjadi banyak hal. Aku pernah menjadi bulan yang menggantung terlalu rendah di langitmu, berharap kau menyadari bahwa cahayaku sengaja kutumpahkan hanya untuk menerangi jalan pulangmu. Aku pernah menjadi angin yang menyelinap ke sela rambutmu, mencuri aroma tubuhmu lalu membawanya pulang ke dalam tidurku yang panjang dan berantakan. Tetapi kau tetap berdiri di sana, seperti sebuah kerajaan yang tidak pernah menyadari sedang dikepung. Lalu bagaimana lagi harus kubuktikan? Haruskah aku membelah dadaku seperti tanah Andalusia yang haus, agar kau melihat ribuan kuda liar berlari di dalamnya membawa namamu pada surai mereka? Haruskah aku memanen seluruh delima yang merah di dunia, lalu memperlihatkan kepadamu bahwa setiap bijinya menyimpan satu cara aku menyebutmu dalam doa? Sebab cintaku kepadamu tidak tumbuh seperti bunga. Ia tumbuh seperti hutan. Gelap. Purba. Penuh akar yang saling melilit hingga ke pusat bumi. Burung-burung kehilangan arah di dalamnya. Matahari tersesat di antara cabang-cabangnya. Dan aku sendiri sering tidak menemukan jalan keluar setelah masuk terlalu jauh ke dalam perasaan ini. Atau mungkin lebih dari itu, ia seperti seekor rusa yang berlari membawa bulan di tanduknya, melintasi hutan-hutan gelap dalam diriku. Seperti perpustakaan tua yang terbakar, tetapi anehnya tidak meninggalkan abuโ€”hanya menyisakan namamu di setiap halaman. Seperti sekumpulan bintang yang kabur dari langit malam lalu bersembunyi di bawah tulang rusukku, menjadikan dadaku terang dan sesak pada saat yang bersamaan. Kau harus tahu: Di malam-malam tertentu, aku merasa jantungku adalah arena adu banteng yang ditinggalkan penontonnya. Dan namamulah banteng terakhir yang masih berlari liar di sana, menanduk segala ketenangan yang susah payah kubangun. Aku mencintaimu dengan cara yang bahkan membuat kesunyian ketakutan. Aku mencintaimu seperti laut mencintai badai yang menghancurkan tubuhnya sendiri. Seperti api mencintai kayu yang perlahan menghabiskannya. Seperti langit mencintai petir yang membelah dadanya menjadi dua. Begitulah. Indah. Dan sedikit mengerikan. Kadang aku ingin mencabut seluruh perasaan ini dari dalam tubuhku, melemparkannya ke ladang-ladang jauh, membiarkannya dimakan musim. Namun keesokan harinya cinta itu tumbuh lagi. Lebih tinggi. Lebih liar. Lebih berakar. Seolah-olah Tuhan diam-diam menanam namamu di setiap sudut diriku yang tidak mampu kujangkau. Yang bisa kulakukan hanyalah berdiri di hadapanmu, membawa seluruh musim yang pernah melukaiku, seluruh malam yang pernah membuatku kehilangan arah, lalu berkata dengan jujur: Lihatlah. Di antara reruntuhan dan keajaiban yang bernama diriku ini, masih ada satu hal yang tidak pernah berubah. Aku masih memilihmu. Aku. Masih. Memilihmu. Dengan keganasan ombak yang menolak tunduk pada karang. Dengan kesetiaan akar yang tetap mencari air meski bumi sedang kemarau. Dan dengan cinta yangโ€”bahkan setelah dunia selesai kiamat berkali-kali, mungkin masih akan menyebut namamu dari balik debunya. Jadi, bagaimana caranya agar kau mengerti bahwa aku mencintaimu? Mungkin aku harus meminjam bahasa yang digunakan pohon-pohon tua saat berbicara dengan hujan. Atau bahasa yang dipakai bintang-bintang ketika mereka jatuh ke laut. Sebab bahasa manusia terlalu kecil untuk perasaan sebesar ini. #aksarapena #sebuahtulisan #tetapmemilihmu #prosa #fyp

About