@crystalsorem: Crystal in the woods

crystalsorem
crystalsorem
Open In TikTok:
Region: US
Thursday 15 October 2026 19:42:21 GMT
40817
3491
21
79

Music

Download

Comments

thattall_blonde
thattall_blonde :
Yall together is MY happy place fr
2026-10-15 21:08:30
290
hannaahbananaa_
hannaahbananaa_ :
Maybeeee you just need to move to Canada 👀
2026-10-15 21:17:53
100
c_dds12
… :
I laughed to hard at this one 😂😂😂
2026-10-15 20:32:32
43
chelseaeytelslovensky
Chelsea Eytel Slovensky :
I actually laughed out loud 😂
2026-10-15 20:54:09
22
mia_boulton
mia :
This could be your best work yet
2026-10-16 05:00:14
1
izalamp
izabelle L :
you’re giving me ideas 🤭
2026-10-15 20:35:46
10
greyhoundthebunny
Del :
Crystal gets me
2026-10-16 06:45:28
0
maria_alicia13
Maria-Alicia Longori :
This was fucking hysterical 😂😂😂😂
2026-10-15 23:00:11
11
lizdawgggg
lizdawgggg :
i’m cackling
2026-10-15 22:06:32
9
madii1013
Madi :
2026-10-15 21:23:45
3
erinadxms
Erin Kathleen :
But WHERE in Ontario!!!
2026-10-15 20:59:06
2
shenanigansue44
ShenaniganSue :
YOU TWO ARE PERFECT!✨️🤭
2026-10-15 20:32:08
1
lindaseckman
Linda Seckman :
😂😂 this is hilarious! Also Canada looks so good on you! You look so happy there 💜
2026-10-16 00:09:30
0
chey__moyes
chey__moyes :
I am crying
2026-10-16 01:15:37
1
frankiiexx
Frankiiexx :
Jeff’s right where he wants to be 🤣
2026-10-15 23:10:49
2
loganmarie_1317
Logan Brochu :
His run 😂 🐓
2026-10-16 11:24:41
0
creationsbyraetx
raewhit :
😂😂😂😂
2026-10-15 20:46:12
1
jerrica1993
Jerrica :
[Tears of joy][Tears of joy]
2026-10-16 02:33:25
0
To see more videos from user @crystalsorem, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Bab 10 ​“Ridwan! Keluar dari sana! Bangkainya bergerak turun!” Ridwan memutar tubuh, bersiap mendorong dirinya keluar dari rongga ekor pesawat. Namun, gerakannya terhenti paksa oleh sebuah sentakan keras dari arah belakang. ​Selang pusarnya—jalur penyambung nyawa yang mengalirkan udara dan air panas—tersangkut pada potongan bilah turbin yang baru saja runtuh dari atap kabin. Bilah tajam itu menjepit selangnya kuat ke dinding pesawat. ​“Mike, kabelku terjepit. Aliran air panas terputus.” ​Rasa dingin yang menusuk tulang langsung menembus pakaian selamnya. Sensasi beku itu merayap dari ujung kaki, memanjat naik ke betis, dan meremas otot pahanya. ​“Aris, naikkan tekanan gasnya! Ridwan, kami berusaha menarik kabel dari atas! Bertahanlah!” Suara Mike disusupi kepanikan. ​“Jangan ditarik!” cegah Ridwan cepat. “Bilah ini terlalu tajam. Tarikan paksa dari atas akan memotong selangku sampai putus. Beri aku waktu dua menit.” ​“Suhu inti tubuhmu menurun drastis, Ridwan! Detak jantungmu meningkat tak wajar!” ​Gigi Ridwan mulai bergemeletuk. Rasa kebas menjalar cepat ke jemari tangannya. Pria itu memejamkan mata selama dua detik. Sekali lagi, ia mengingat doa yang baru saja ia rapalkan, diiringi bayangan wajah Jannati yang menunggunya di daratan. ​Ia membuka mata, mengarahkan tuas pemotong hidrolik tepat ke pangkal bilah logam tersebut. Kedua lengannya bergetar menahan berat di tengah arus yang terus menyeret tubuhnya. Ia menekan pelatuk. Logam tebal itu perlahan melengkung, merintih di bawah tekanan alat pemotong, hingga akhirnya patah. ​Selang pusarnya kembali bebas. Air bersuhu empat puluh derajat Celcius menyembur masuk kembali ke dalam setelan selamnya, mengusir rasa beku yang nyaris melumpuhkan sistem sarafnya. ​“Selang aman. Aku kembali mengambil kotaknya.” ​“Kau gila, Ridwan! Tarik mundur sekarang! Bangkai itu bisa rubuh sepenuhnya!” ​“Nilai kontraknya dua ratus miliar, Mike. Aku tidak akan pulang dengan tangan kosong.” ​Ridwan bergerak maju menembus sisa-sisa reruntuhan. Ia mengerahkan seluruh kekuatan bahunya, menarik paksa tuas pengunci yang macet. Satu sentakan keras, kotak logam itu terlepas. ​“Kotak hitam diamankan. Aku kembali ke bell sekarang. Tarik kabelnya perlahan, Mike.” ​Ridwan memeluk erat kotak itu dan melangkah keluar dari ekor pesawat tepat saat seluruh lambung besi itu merosot jatuh ditelan palung sedimen. Ia berenang merambat mengikuti tarikan kabel, membelah gulita hingga cahaya kuning dari Diving Bell mulai terlihat. ​Begitu ia berhasil menarik tubuhnya masuk ke dalam kapsul lonceng, Mike dengan cekatan membantu Ridwan melepaskan helm besinya. Rambut Ridwan basah kuyup oleh peluh. Ia meletakkan kotak oranye itu di rak baja, bersandar pada dinding kapsul sambil meraup napas panjang. ​“Misi selesai. Kotak hitam berada di dalam kapsul. Tarik kami naik ke kapal induk.” ​Mesin derek berderit. Kapsul itu bergerak naik meninggalkan dasar Masalembo menuju Hyperbaric Chamber untuk memulai proses dekompresi. ​“Kerja luar biasa, Ridwan. Eksekutif AeroBoe baru saja menangis melihat kotak itu di layar monitor.” Suara Dr. Aris terdengar penuh kelegaan. ​“Berapa lama proses dekompresi kita, Dok?” ​“Sesuai prosedur. Kau dan Mike harus berada di dalam kapsul isolasi selama sepuluh hari penuh sebelum pintu boleh dibuka, atau darah kalian akan mendidih.” Ridwan mengangguk paham. Namun, jeda statis mendadak memutus komunikasi mereka. Saat saluran kembali terbuka, suara Dr. Aris terdengar dipenuhi keraguan dari ruang kontrol permukaan. ​“Ridwan, maaf menyela waktu istirahatmu. Tapi ponsel yang kau titipkan di ruang kontrol ... kau sepertinya hanya mengaktifkan mode hening, bukan mematikan dayanya. Layarnya terus-menerus menyala karena belasan panggilan tak terjawab.” >> Selengkapnya di KBMapp Judul : SALVAGE DIVER | Mutiara di Balik Karat Penulis : Da Pink" width="135" height="240">
Bab 10 ​“Ridwan! Keluar dari sana! Bangkainya bergerak turun!” Ridwan memutar tubuh, bersiap mendorong dirinya keluar dari rongga ekor pesawat. Namun, gerakannya terhenti paksa oleh sebuah sentakan keras dari arah belakang. ​Selang pusarnya—jalur penyambung nyawa yang mengalirkan udara dan air panas—tersangkut pada potongan bilah turbin yang baru saja runtuh dari atap kabin. Bilah tajam itu menjepit selangnya kuat ke dinding pesawat. ​“Mike, kabelku terjepit. Aliran air panas terputus.” ​Rasa dingin yang menusuk tulang langsung menembus pakaian selamnya. Sensasi beku itu merayap dari ujung kaki, memanjat naik ke betis, dan meremas otot pahanya. ​“Aris, naikkan tekanan gasnya! Ridwan, kami berusaha menarik kabel dari atas! Bertahanlah!” Suara Mike disusupi kepanikan. ​“Jangan ditarik!” cegah Ridwan cepat. “Bilah ini terlalu tajam. Tarikan paksa dari atas akan memotong selangku sampai putus. Beri aku waktu dua menit.” ​“Suhu inti tubuhmu menurun drastis, Ridwan! Detak jantungmu meningkat tak wajar!” ​Gigi Ridwan mulai bergemeletuk. Rasa kebas menjalar cepat ke jemari tangannya. Pria itu memejamkan mata selama dua detik. Sekali lagi, ia mengingat doa yang baru saja ia rapalkan, diiringi bayangan wajah Jannati yang menunggunya di daratan. ​Ia membuka mata, mengarahkan tuas pemotong hidrolik tepat ke pangkal bilah logam tersebut. Kedua lengannya bergetar menahan berat di tengah arus yang terus menyeret tubuhnya. Ia menekan pelatuk. Logam tebal itu perlahan melengkung, merintih di bawah tekanan alat pemotong, hingga akhirnya patah. ​Selang pusarnya kembali bebas. Air bersuhu empat puluh derajat Celcius menyembur masuk kembali ke dalam setelan selamnya, mengusir rasa beku yang nyaris melumpuhkan sistem sarafnya. ​“Selang aman. Aku kembali mengambil kotaknya.” ​“Kau gila, Ridwan! Tarik mundur sekarang! Bangkai itu bisa rubuh sepenuhnya!” ​“Nilai kontraknya dua ratus miliar, Mike. Aku tidak akan pulang dengan tangan kosong.” ​Ridwan bergerak maju menembus sisa-sisa reruntuhan. Ia mengerahkan seluruh kekuatan bahunya, menarik paksa tuas pengunci yang macet. Satu sentakan keras, kotak logam itu terlepas. ​“Kotak hitam diamankan. Aku kembali ke bell sekarang. Tarik kabelnya perlahan, Mike.” ​Ridwan memeluk erat kotak itu dan melangkah keluar dari ekor pesawat tepat saat seluruh lambung besi itu merosot jatuh ditelan palung sedimen. Ia berenang merambat mengikuti tarikan kabel, membelah gulita hingga cahaya kuning dari Diving Bell mulai terlihat. ​Begitu ia berhasil menarik tubuhnya masuk ke dalam kapsul lonceng, Mike dengan cekatan membantu Ridwan melepaskan helm besinya. Rambut Ridwan basah kuyup oleh peluh. Ia meletakkan kotak oranye itu di rak baja, bersandar pada dinding kapsul sambil meraup napas panjang. ​“Misi selesai. Kotak hitam berada di dalam kapsul. Tarik kami naik ke kapal induk.” ​Mesin derek berderit. Kapsul itu bergerak naik meninggalkan dasar Masalembo menuju Hyperbaric Chamber untuk memulai proses dekompresi. ​“Kerja luar biasa, Ridwan. Eksekutif AeroBoe baru saja menangis melihat kotak itu di layar monitor.” Suara Dr. Aris terdengar penuh kelegaan. ​“Berapa lama proses dekompresi kita, Dok?” ​“Sesuai prosedur. Kau dan Mike harus berada di dalam kapsul isolasi selama sepuluh hari penuh sebelum pintu boleh dibuka, atau darah kalian akan mendidih.” Ridwan mengangguk paham. Namun, jeda statis mendadak memutus komunikasi mereka. Saat saluran kembali terbuka, suara Dr. Aris terdengar dipenuhi keraguan dari ruang kontrol permukaan. ​“Ridwan, maaf menyela waktu istirahatmu. Tapi ponsel yang kau titipkan di ruang kontrol ... kau sepertinya hanya mengaktifkan mode hening, bukan mematikan dayanya. Layarnya terus-menerus menyala karena belasan panggilan tak terjawab.” "Dari siapa, Dok?" tanya Ridwan seketika panik. ***Bersambung>>> Selengkapnya di KBMapp Judul : SALVAGE DIVER | Mutiara di Balik Karat Penulis : Da Pink

About