@dailyscrolls___: 🔊 Noise Premium #NoisePremium #FYP #TikTok #Y83IK

DailyScrolls
DailyScrolls
Open In TikTok:
Region: CA
Friday 16 October 2026 02:44:02 GMT
111
0
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @dailyscrolls___, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Peta satelit NASA yang memperlihatkan langit Indonesia berwarna merah pekat akibat karbon monoksida (CO) ramai beredar di media sosial pekan ini. Namun, data tersebut mengukur gas di ketinggian sekitar 5.500 meter, bukan udara yang dihirup warga di permukaan tanah, sehingga klaim seluruh Indonesia tertutup CO mematikan perlu diluruskan. Peta itu bersumber dari instrumen AIRS pada satelit Aqua milik NASA. Warna merah tua pada skalanya setara sekitar 160 ppbv, sedangkan konsentrasi CO normal di atas Indonesia berkisar 100 ppb. Lonjakan ini menandakan emisi kebakaran yang sangat besar, yang kemudian terbawa angin hingga ribuan kilometer. Meski begitu, CO tetap berbahaya. Gas yang tidak berwarna dan tidak berbau ini mengikat hemoglobin jauh lebih kuat daripada oksigen dan dapat memicu kekurangan oksigen pada organ vital. Kebakaran gambut juga menghasilkan sekitar dua kali lebih banyak CO dibanding kebakaran hutan tropis lainnya. Di lapangan, dampak asap sudah sangat nyata. Ratusan ribu orang di tujuh provinsi terserang penyakit pernapasan, dan indeks pencemaran udara di sejumlah kota Sumatra dan Kalimantan jauh melampaui ambang berbahaya 300. Langit Palangka Raya berubah kuning hingga oranye, dengan jarak pandang hanya beberapa puluh meter. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pengerahan sumber daya tambahan di tengah kritik dari dalam dan luar negeri. Namun pemerintah belum membahas penerimaan bantuan asing maupun penetapan status bencana nasional. Pemerintah kini menyebut degradasi gambut akibat proyek food estate masa lalu sebagai penyebab, dan berjanji memulihkan ekosistem gambut.
Peta satelit NASA yang memperlihatkan langit Indonesia berwarna merah pekat akibat karbon monoksida (CO) ramai beredar di media sosial pekan ini. Namun, data tersebut mengukur gas di ketinggian sekitar 5.500 meter, bukan udara yang dihirup warga di permukaan tanah, sehingga klaim seluruh Indonesia tertutup CO mematikan perlu diluruskan. Peta itu bersumber dari instrumen AIRS pada satelit Aqua milik NASA. Warna merah tua pada skalanya setara sekitar 160 ppbv, sedangkan konsentrasi CO normal di atas Indonesia berkisar 100 ppb. Lonjakan ini menandakan emisi kebakaran yang sangat besar, yang kemudian terbawa angin hingga ribuan kilometer. Meski begitu, CO tetap berbahaya. Gas yang tidak berwarna dan tidak berbau ini mengikat hemoglobin jauh lebih kuat daripada oksigen dan dapat memicu kekurangan oksigen pada organ vital. Kebakaran gambut juga menghasilkan sekitar dua kali lebih banyak CO dibanding kebakaran hutan tropis lainnya. Di lapangan, dampak asap sudah sangat nyata. Ratusan ribu orang di tujuh provinsi terserang penyakit pernapasan, dan indeks pencemaran udara di sejumlah kota Sumatra dan Kalimantan jauh melampaui ambang berbahaya 300. Langit Palangka Raya berubah kuning hingga oranye, dengan jarak pandang hanya beberapa puluh meter. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pengerahan sumber daya tambahan di tengah kritik dari dalam dan luar negeri. Namun pemerintah belum membahas penerimaan bantuan asing maupun penetapan status bencana nasional. Pemerintah kini menyebut degradasi gambut akibat proyek food estate masa lalu sebagai penyebab, dan berjanji memulihkan ekosistem gambut.

About