@jamil.ahmed.0: কমেন্টে বলুন...!🕌#foryou #viraltiktok #fypシ゚viral #foryou #tiktok

[ᴊᴀᴍɪʟ ᴀʜᴍᴇᴅ]彡★
[ᴊᴀᴍɪʟ ᴀʜᴍᴇᴅ]彡★
Open In TikTok:
Region: BD
Friday 16 October 2026 09:06:55 GMT
5225
769
45
7

Music

Download

Comments

nila36322
🦋Pakhi🦋 :
রাজনগর, মডেল মসজিদ,
2026-11-04 19:40:31
2
user335343236
Shakil Ahmed :
রাজ নগর মডেল মসজিদ
2026-11-06 09:02:25
0
niha.aktar325
ই❤️স❤️লা❤️মে❤️র❤️সে❤️হ❤️জা❤️দী :
রাজনগর ঢোকার আগে ও মসজিদ
2026-11-03 04:22:38
1
pabel658
Cricketer🏏 M. PABEL 02 :
rajnagar
2026-11-02 12:29:57
1
my.jan.2233
ধ্বংসের রানী ধ্বংসাবতী :
রাজনগর 🥰🥰🥰
2026-11-02 12:19:30
1
jibon8950
JIBON🇧🇩+MY+LOVE🇦🇪 :
এটা গোবিন পার্টি মসজিদ
2026-10-30 17:15:07
1
.......allah.....2
MD RUMAN 🇧🇩🇧🇩❤️‍🩹❤️‍🩹 :
রাজন গর
2026-10-30 01:13:31
0
rs22604
🥰🥰🥰💞💞🥰🥰🥰 :
rajnogor
2026-10-29 12:44:19
0
vala.ahmed3
*•.・𝓢𝓽𝓲 𝓵𝓼𝓵𝓪𝓶ೃ⁀➷ :
কুলাউড়া রোডে এই মসজিদ টি অবস্থিত
2026-10-17 13:20:18
0
farihafahmida63
꧁༒☬ Farhana ☬༒꧂ :
Fenchuganj Upojela model masjid
2026-10-16 16:18:09
0
md.rahen44
md rahen :
সো নাইছ আলহামদুলিল্লাহ
2026-10-16 16:22:50
0
ruwel.ahmed8
Ruwel Ahmed :
🥰
2026-11-03 14:53:55
0
mariyam.akther998
সিলেটি ফুরী :
রাজনগর ঢোকার আগে ও মসজিদ
2026-11-01 02:29:50
0
samil.ahmed74
Samil Ahmed :
rajnagar😃😃
2026-10-29 19:01:22
0
princess23_32
Princess 💖👒 :
রাজনগর
2026-11-02 09:17:14
0
nayeemahmed0543
MD Naim 70 :
রাজন গর
2026-10-25 14:42:57
0
user4560278544469
★.Sajel.:Khan★..√ :
রাজনগর ❤️
2026-10-16 13:48:57
0
sumaiyaislam240gmail.com
সুমাইয়া জান্নাত🙋‍♀️ :
rajnagar
2026-10-29 06:43:03
0
.masum052
* ~masum~* :
gobin fate ragnogor🥰
2026-11-07 08:21:08
0
user56281520936156
🌿গল্পের রানী🌷 :
সাপোর্ট করেন সাপোর্ট পাবেন ইনশাআল্লাহ
2026-10-16 15:51:48
0
md.lutfur.rohman11
Md.LutfuR.Rohman :
💚💚💚
2026-11-07 01:40:30
0
md.rhmot.vai
<শেখ>মৌলভীবাজারি÷ফুয়া🤭🫣🤫 :
💔💔💔
2026-11-06 08:53:11
0
aibudlkyuim
💔 MAMUN💔 BYE 💔 :
🥰🥰🥰
2026-11-06 03:49:44
0
md_selim_8
🙎‍♀️Md Salim Ahmed 🙋‍♀️ :
😳😳😳
2026-11-05 12:12:25
0
najira887
🦋 :
🌺🌺🌺
2026-10-16 09:07:42
0
To see more videos from user @jamil.ahmed.0, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Likuifaksi Palu 2018—Pada sore hari, Jum'at, 28 September 2018 terjadi gempa dahsyat bermagnitudo sekitar M7.5 dengan pusat relatif dangkal di barat laut Kota Palu; gempa ini terjadi pada pukul sekitar 18:00 waktu setempat dan dalam hitungan menit memicu gelombang tsunami yang menyapu bagian pesisir Palu dan Donggala. Perpaduan getaran kuat, kedangkalan pusat gempa, dan keterdekatan ke teluk membuat tsunami terbentuk sangat cepat untuk menyapu daratan—sehingga banyak orang tidak sempat untuk mengungsi. Proses likuifaksi yang menghancurkan kawasan permukiman seperti Petobo, Balaroa, dan Jono Oge terjadi ketika tanah berbutir halus yang jenuh air kehilangan kekuatan akibat guncangan intens; tanah yang tadinya padat berubah berperilaku seperti cair sehingga rumah, jalan, tiang listrik, dan pohon seakan “terapung” lalu terbawa aliran lumpur ke arah yang serupa gelombang. Studi-studi lapangan menunjukkan faktor pemicu bukan hanya kekuatan gempa, tetapi juga kondisi tanah alluvial yang lunak, muka air tanah yang tinggi karena irigasi dan pola pengairan lahan, serta ketebalan sedimen lunak—kombinasi ini membuat area datar di pinggir sungai dan teluk sangat rentan terhadap aliran tanah jarak jauh. Dampak langsung di lapangan terbilang sangat masif, ribuan rumah dan fasilitas hancur atau terkubur oleh aliran lumpur; ratusan hingga ribuan orang tew45 di lokasi-lokasi yang tertimbun seperti Petobo dan Balaroa; puluhan ribu orang mengungsi; dan infrastruktur penting—jalan, jembatan, dan jaringan air—rusak parah sehingga penyaluran bantuan mengalami kesulitan.  Beberapa fakta mengejutkan yang muncul setelah kajian adalah: pertama, aliran tanah di beberapa lokasi bergerak sangat jauh — ratusan hingga lebih dari seribu meter—meskipun lerengnya sangat landai. Kedua, praktik irigasi dan pengelolaan air di dataran alluvial sebelum gempa ternyata menaikkan muka air tanah dan secara tidak sengaja meningkatkan kerentanan terhadap likuifaksi. Ketiga, banyak korban terjebak bukan hanya karena runtuhan bangunan tetapi karena rumah-rumah “terapung” dan terbenam dalam lumpur seperti gelombang, suatu pola kegagalan tanah yang tidak biasa dilihat dalam banyak bencana gempa sebelumnya. Video: Journalya #bencanaalam #gempa #likuifaksi #palu #palusulteng
Likuifaksi Palu 2018—Pada sore hari, Jum'at, 28 September 2018 terjadi gempa dahsyat bermagnitudo sekitar M7.5 dengan pusat relatif dangkal di barat laut Kota Palu; gempa ini terjadi pada pukul sekitar 18:00 waktu setempat dan dalam hitungan menit memicu gelombang tsunami yang menyapu bagian pesisir Palu dan Donggala. Perpaduan getaran kuat, kedangkalan pusat gempa, dan keterdekatan ke teluk membuat tsunami terbentuk sangat cepat untuk menyapu daratan—sehingga banyak orang tidak sempat untuk mengungsi. Proses likuifaksi yang menghancurkan kawasan permukiman seperti Petobo, Balaroa, dan Jono Oge terjadi ketika tanah berbutir halus yang jenuh air kehilangan kekuatan akibat guncangan intens; tanah yang tadinya padat berubah berperilaku seperti cair sehingga rumah, jalan, tiang listrik, dan pohon seakan “terapung” lalu terbawa aliran lumpur ke arah yang serupa gelombang. Studi-studi lapangan menunjukkan faktor pemicu bukan hanya kekuatan gempa, tetapi juga kondisi tanah alluvial yang lunak, muka air tanah yang tinggi karena irigasi dan pola pengairan lahan, serta ketebalan sedimen lunak—kombinasi ini membuat area datar di pinggir sungai dan teluk sangat rentan terhadap aliran tanah jarak jauh. Dampak langsung di lapangan terbilang sangat masif, ribuan rumah dan fasilitas hancur atau terkubur oleh aliran lumpur; ratusan hingga ribuan orang tew45 di lokasi-lokasi yang tertimbun seperti Petobo dan Balaroa; puluhan ribu orang mengungsi; dan infrastruktur penting—jalan, jembatan, dan jaringan air—rusak parah sehingga penyaluran bantuan mengalami kesulitan. Beberapa fakta mengejutkan yang muncul setelah kajian adalah: pertama, aliran tanah di beberapa lokasi bergerak sangat jauh — ratusan hingga lebih dari seribu meter—meskipun lerengnya sangat landai. Kedua, praktik irigasi dan pengelolaan air di dataran alluvial sebelum gempa ternyata menaikkan muka air tanah dan secara tidak sengaja meningkatkan kerentanan terhadap likuifaksi. Ketiga, banyak korban terjebak bukan hanya karena runtuhan bangunan tetapi karena rumah-rumah “terapung” dan terbenam dalam lumpur seperti gelombang, suatu pola kegagalan tanah yang tidak biasa dilihat dalam banyak bencana gempa sebelumnya. Video: Journalya #bencanaalam #gempa #likuifaksi #palu #palusulteng

About