@grylann:

grylann
grylann
Open In TikTok:
Region: ID
Friday 16 October 2026 12:41:23 GMT
1183
154
12
0

Music

Download

Comments

tuan46muda1
📿 tuan muda 46📿 :
lama tak jumpa
2026-10-16 12:57:33
0
mnhizam6
En.ZAM :
semoga sihat ya
2026-10-16 13:38:58
0
oeikianswee355
Oei kian swee :
aduh Grylann kamu sungguh cantik💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
2026-10-16 20:55:24
0
bu.74n9
Richard Wonk :
❤️hy gry
2026-10-16 14:40:38
0
kevincengkevinceng
suilay /kevincius :
km cakep banget siii
2026-10-17 02:39:48
0
firman.putra484
FiRMAN PUTRA :
lagi jln jln heppy😘
2026-10-16 13:20:47
0
agus.hariyanto532
Agus Hariyanto :
orang cantik pakek baju apapun tetap cantik.
2026-10-16 13:15:52
0
antonprasetyo305
Anton prasetyo :
kemana saja kak
2026-10-16 14:11:53
0
papahbudhy7
PAPAH BUDHY :
2026-10-16 13:12:33
0
oeikianswee355
Oei kian swee :
kamu sungguh cantik Grilan
2026-10-16 20:56:53
0
yanuar.hendratno
Yanuar Hendratno iya n :
cinta yang Suci dan Tulus untuk kamu Sayang ku bidadariku permaisuriku Terima kasih sayang
2026-10-17 02:30:21
1
yanuar.hendratno
Yanuar Hendratno iya n :
[Hati merah][Hati merah][Hati merah]
2026-10-17 02:29:36
0
To see more videos from user @grylann, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV :  Langkah demi langkah menuju kediaman mewah yang berdiri megah di kawasan elit itu terasa begitu asing.  Pernikahan yang terjadi secara tiba-tiba atas perjodohan keluarga—tanpa pernah saling mengenal sebelumnya—menyisakan banyak tanda tanya di kepala.  Dirimu mengira pernikahan ini akan berjalan layaknya rumah tangga pada umumnya, ada obrolan hangat di meja makan, sapaan pagi, atau setidaknya senyum basa-basi sebagai sesama orang asing yang terikat status baru. Namun, kenyataan mematahkan ekspektasi itu dalam sekejap. Setelah resepsi usai dan malam pertama menyapa, Jungwon langsung menunjukkan sisi aslinya. dinding es yang tinggi dan dingin.  Pria itu sibuk dengan dunianya sendiri, tenggelam dalam tumpukan pekerjaan kantor, dan memperlakukan keberadaan mu bagaikan angin lalu.  Jungwon memang selalu pulang setiap malam, tetapi rutinitas itu berjalan monoton—mereka berdua tidur di kamar yang terpisah, tanpa ada satu pun kata sapaan yang berarti. Keesokan harinya, siklus yang sama kembali berulang.  Jungwon pergi pagi-pula malam, meninggalkan dirimu sendirian di rumah besar yang terasa hampa. Bosan dengan kesunyian, timbul niat untuk mencoba melakukan sesuatu yang berbeda.  Hari itu, langkah kakimu membimbing diri menuju dapur.  Berbekal bahan seadanya dan keyakinan yang minim, sebuah masakan berhasil diselesaikan. Dengan secercah harapan kecil—atau mungkin sekadar iseng—sebuah pesan singkat dikirimkan kepada Jungwon, suamimu.  “Pulanglah, aku sudah memasak makan malam untukmu.” Tidak lama kemudian, balasan ponsel bergetar.  Pesan dari Jungwon terbaca singkat dan telak, menolak dengan alasan sibuk dan meminta untuk tidak menunggunya. Alih-alih merasa sedih atau terluka, sebuah tawa kecil justru lolos dari bibirmu.  Buat apa bersedih untuk suami dingin seperti itu? Rasa penasaran akhirnya mendesak untuk mencicipi hasil karya sendiri.  Sendok pertama disuapkan ke dalam mulut, dan seketika itu juga, mata terbelalak lebar. Renyahnya garam seolah tumpah seember penuh di dalam masakan tersebut—rasanya benar-benar luar biasa asin! Melihat kegagalan yang begitu dramatis, emosi campur aduk antara sebal dan geli membuncah.  Dirimu tertawa terbahak-bahak sendirian di tengah dapur yang sunyi, menertawakan kebodohan diri sendiri yang berharap bisa menjadi istri idaman lewat masakan super asin itu. Malam semakin larut. Jungwon membuka pintu utama dengan langkah lelah, membawa serta hawa dingin dari luar.  Suasana rumah yang tidak biasa membuatnya menghentikan langkah.  Biasanya rumah ini sunyi senyap tanpa suara. Namun malam ini, sayup-sayup terdengar suara dari arah ruang tengah. Langkah kaki membawanya mendekat. Di atas sofa panjang, dirimu terlihat tertidur pulas dalam balutan pakaian rumah yang sedikit terbuka akibat posisi tidur yang tidak beraturan. Jungwon berdiri terpaku di hadapan pemandangan itu untuk beberapa detik. Alisnya sedikit berkerut, menatap lekat sosok wanita yang kini resmi menjadi istrinya. “Apa mungkin dia tertidur saat menungguku?” batin Jungwon, dilanda rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap relung hatinya. Tanpa berpikir panjang, tangan kokohnya terulur untuk mengangkat tubuhmu, berniat memindahkanmu ke kamar yang lebih nyaman agar tidak masuk angin.  Namun, sentuhan tiba-tiba itu membuatmu langsung tersentak kaget dari alam mimpi. Refleks membuatmu meronta panik saat tubuh sudah berada di udara, nyaris terjatuh dari gendongan sang suami.
POV : Langkah demi langkah menuju kediaman mewah yang berdiri megah di kawasan elit itu terasa begitu asing. Pernikahan yang terjadi secara tiba-tiba atas perjodohan keluarga—tanpa pernah saling mengenal sebelumnya—menyisakan banyak tanda tanya di kepala. Dirimu mengira pernikahan ini akan berjalan layaknya rumah tangga pada umumnya, ada obrolan hangat di meja makan, sapaan pagi, atau setidaknya senyum basa-basi sebagai sesama orang asing yang terikat status baru. Namun, kenyataan mematahkan ekspektasi itu dalam sekejap. Setelah resepsi usai dan malam pertama menyapa, Jungwon langsung menunjukkan sisi aslinya. dinding es yang tinggi dan dingin. Pria itu sibuk dengan dunianya sendiri, tenggelam dalam tumpukan pekerjaan kantor, dan memperlakukan keberadaan mu bagaikan angin lalu. Jungwon memang selalu pulang setiap malam, tetapi rutinitas itu berjalan monoton—mereka berdua tidur di kamar yang terpisah, tanpa ada satu pun kata sapaan yang berarti. Keesokan harinya, siklus yang sama kembali berulang. Jungwon pergi pagi-pula malam, meninggalkan dirimu sendirian di rumah besar yang terasa hampa. Bosan dengan kesunyian, timbul niat untuk mencoba melakukan sesuatu yang berbeda. Hari itu, langkah kakimu membimbing diri menuju dapur. Berbekal bahan seadanya dan keyakinan yang minim, sebuah masakan berhasil diselesaikan. Dengan secercah harapan kecil—atau mungkin sekadar iseng—sebuah pesan singkat dikirimkan kepada Jungwon, suamimu. “Pulanglah, aku sudah memasak makan malam untukmu.” Tidak lama kemudian, balasan ponsel bergetar. Pesan dari Jungwon terbaca singkat dan telak, menolak dengan alasan sibuk dan meminta untuk tidak menunggunya. Alih-alih merasa sedih atau terluka, sebuah tawa kecil justru lolos dari bibirmu. Buat apa bersedih untuk suami dingin seperti itu? Rasa penasaran akhirnya mendesak untuk mencicipi hasil karya sendiri. Sendok pertama disuapkan ke dalam mulut, dan seketika itu juga, mata terbelalak lebar. Renyahnya garam seolah tumpah seember penuh di dalam masakan tersebut—rasanya benar-benar luar biasa asin! Melihat kegagalan yang begitu dramatis, emosi campur aduk antara sebal dan geli membuncah. Dirimu tertawa terbahak-bahak sendirian di tengah dapur yang sunyi, menertawakan kebodohan diri sendiri yang berharap bisa menjadi istri idaman lewat masakan super asin itu. Malam semakin larut. Jungwon membuka pintu utama dengan langkah lelah, membawa serta hawa dingin dari luar. Suasana rumah yang tidak biasa membuatnya menghentikan langkah. Biasanya rumah ini sunyi senyap tanpa suara. Namun malam ini, sayup-sayup terdengar suara dari arah ruang tengah. Langkah kaki membawanya mendekat. Di atas sofa panjang, dirimu terlihat tertidur pulas dalam balutan pakaian rumah yang sedikit terbuka akibat posisi tidur yang tidak beraturan. Jungwon berdiri terpaku di hadapan pemandangan itu untuk beberapa detik. Alisnya sedikit berkerut, menatap lekat sosok wanita yang kini resmi menjadi istrinya. “Apa mungkin dia tertidur saat menungguku?” batin Jungwon, dilanda rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap relung hatinya. Tanpa berpikir panjang, tangan kokohnya terulur untuk mengangkat tubuhmu, berniat memindahkanmu ke kamar yang lebih nyaman agar tidak masuk angin. Namun, sentuhan tiba-tiba itu membuatmu langsung tersentak kaget dari alam mimpi. Refleks membuatmu meronta panik saat tubuh sudah berada di udara, nyaris terjatuh dari gendongan sang suami. "Jungwon!!! Turunin aku!!" seru dirimu dengan napas memburu dan mata terbelalak lebar, menatap tajam ke arah wajah pria itu yang kini berada sangat dekat. Jungwon, yang sama terkejutnya, nyaris kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya berhasil menegakkan diri dengan tatapan tajam dan dingin yang kembali mendominasi wajahnya. Nafasmu memburu, dada bergemuruh hebat bukan hanya karena kaget akibat hampir terjatuh, tetapi juga karena jarak wajah kalian yang kelewat dekat. {+comsec/saluran} #pov #enhypen #jungwon #fakesituation⚠️ #4u

About