@hena22336:

🌸তুমি আছো অনুভবে🌸
🌸তুমি আছো অনুভবে🌸
Open In TikTok:
Region: SA
Friday 16 October 2026 17:13:04 GMT
15710
878
18
56

Music

Download

Comments

user127067287238
পোড়ামন :
o sadaron lagse
2026-10-17 01:40:11
0
sujohahmed4
@sujohahmed4244 :
চমৎকার একটা গান কপি লিং ক ইউর পোস্ট ডান
2026-10-16 20:04:31
0
choya.maya
choya + maya 🥰🥰🥰👎❤️👍 :
অসাধারণ
2026-10-17 00:00:24
0
ahiyajannat111111111
❤️🌹অজানা গল্প ❤️🌹 :
ফাস্ট কমেন্ট প্রিয় বান্ধবী খুব বেশি সুন্দর হয়েছে
2026-10-16 17:15:12
0
mohammednasir0924
nahid Islam :
🥰🥰🥰
2026-10-17 05:04:05
0
monir_mondol17
🎧Monir ❤️ Mondol❤️🎸 :
❤️❤️
2026-10-16 22:17:31
0
md.monir.hossain1740
Md Monir hossain :
😭😭😭😭😭😭
2026-10-16 21:37:10
0
begom468
komola khaton :
🥀🥀🥀🥀
2026-10-17 01:06:24
0
user1426083614628
user1426083614628 :
🥰🥰🥰
2026-10-17 02:27:46
0
moazzamhossain0123
🌟🇧🇩Moazzam 🇧🇩🌟 :
💐💙
2026-10-17 01:53:24
0
user7108666937918
user7108666937918 :
🌹🌹🌹
2026-10-17 01:41:52
0
ajmir4425
❤️Aklima❤️ :
🥰🥰🥰
2026-10-17 01:32:55
0
md.baccu.miya43
R🫶🫶 :
❤️❤️❤️
2026-10-17 03:21:12
0
muckles.sordar
Muckles Sordar :
😂😂😂
2026-10-17 00:28:18
0
koam439
কোরিয়ান Life🇧🇩🇧🇩🇰🇷🇰🇷 :
[Heartwarming][Heartwarming][Heartwarming]
2026-10-17 00:03:42
0
momen8435
momen :
🥰🥰🥰
2026-10-16 21:22:42
0
shila.khan712
Shila khan :
[Heartwarming][Heartwarming][Heartwarming][Heartwarming][Heartwarming]
2026-10-16 18:11:29
0
user8168150460016
user8168150460016 :
😳😳😳
2026-10-17 04:46:54
0
To see more videos from user @hena22336, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

MENYERAHKAN SEGALANYA KEPADA ALLAH DENGAN CINTA Ada sebuah ungkapan yang dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani: ketika manusia menyerahkan segala urusannya kepada Allah dengan cinta, urusannya akan dipermudah.  Syekh Abdul Qadir al-Jailani, yang dikenal sebagai Muhyiddin—penghidup agama—adalah ulama dan tokoh spiritual Muslim yang hidup pada abad ke-11 hingga ke-12. Ia lahir di wilayah Jilan pada 1077 M dan wafat di Baghdad pada 1166 M. Ia dikenal dalam tradisi tasawuf, terutama dalam pembahasan tentang penyucian jiwa, tobat, keikhlasan, dan tawakal kepada Allah. Ajarannya diwariskan melalui karya-karya dan majelis nasihat yang kemudian berpengaruh luas dalam tradisi Islam. Namun, apa sesungguhnya makna menyerahkan segalanya kepada Allah? Dalam tasawuf, penyerahan diri bukan sekadar ucapan bahwa kita menerima takdir. Ia merupakan perjalanan batin untuk melepaskan anggapan bahwa diri sendiri adalah penguasa mutlak atas kehidupan. Manusia dapat merencanakan, bekerja, berdoa, dan berusaha, tetapi ia tidak memiliki kendali penuh atas seluruh hasilnya. Penderitaan sering kali bertambah ketika keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu berubah menjadi tuntutan agar hidup selalu berjalan sesuai kehendak kita. Di sinilah penyucian jiwa atau tazkiyatun nafs menemukan relevansinya. Hati perlu dibersihkan dari kesombongan yang merasa mampu mengatur segalanya, dari ketakutan berlebihan terhadap masa depan, serta dari keterikatan yang membuat kehilangan terasa seperti kehancuran seluruh kehidupan. Bukan berarti manusia harus mematikan keinginan atau mengabaikan tanggung jawab. Yang perlu dilepaskan ialah sikap batin yang menjadikan keinginan pribadi sebagai ukuran mutlak bagi kebahagiaan. Dalam tauhid, Allah adalah tempat bergantung yang hakiki, sedangkan manusia hanyalah hamba yang menjalani ikhtiar dalam keterbatasannya. Kesadaran ini tidak membuat seseorang pasif. Justru, ia belajar bekerja tanpa kesombongan, berdoa tanpa merasa berhak memaksa hasil, dan menerima kenyataan tanpa kehilangan semangat untuk memperbaiki keadaan. Cinta kepada Allah juga mengubah cara kita memahami tawakal. Tawakal bukan transaksi untuk memperoleh kehidupan yang selalu mudah. Ia adalah kepercayaan kepada Allah yang tetap dijaga ketika doa belum terjawab seperti yang diharapkan. Seseorang yang bertawakal masih dapat bersedih, takut, dan kecewa, tetapi ia tidak membiarkan perasaan tersebut memutus hubungannya dengan Allah. Pada tingkat penghayatan hakikat, manusia mulai memahami perbedaan antara ikhtiar dan hasil. Ikhtiar adalah tanggung jawab yang harus ditunaikan, sedangkan hasil berada di luar kendali sepenuhnya. Kesadaran ini membantu hati berhenti menyalahkan diri secara berlebihan ketika sesuatu gagal, tanpa menjadikannya alasan untuk lari dari evaluasi dan tanggung jawab. Adapun ma'rifat bukan sekadar mengetahui nama dan sifat Allah, melainkan tumbuhnya kesadaran yang semakin dalam tentang kedudukan diri sebagai hamba. Semakin seseorang mengenal keterbatasannya, semakin ia tidak mudah menyombongkan keberhasilan ataupun berputus asa ketika menghadapi kegagalan. Ia belajar melihat kemudahan sebagai nikmat, kesulitan sebagai kenyataan yang perlu dihadapi dengan hikmah, dan setiap keadaan sebagai kesempatan memperbaiki hubungan dengan Allah. Maka, menyerahkan segalanya kepada Allah dengan cinta bukan berarti menunggu keajaiban tanpa berbuat apa-apa. Ia berarti melangkah dengan sungguh-sungguh, menjaga hati dari kesombongan, lalu menerima bahwa kebijaksanaan Allah tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita inginkan. Tenangkan hatimu, tunaikan ikhtiarmu, dan jangan jadikan ketidakpastian sebagai alasan untuk kehilangan kepercayaan kepada Allah. #KalamSufi #AbdulQadirAlJailani #Tasawuf #Tawakal #Tauhid
MENYERAHKAN SEGALANYA KEPADA ALLAH DENGAN CINTA Ada sebuah ungkapan yang dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani: ketika manusia menyerahkan segala urusannya kepada Allah dengan cinta, urusannya akan dipermudah. Syekh Abdul Qadir al-Jailani, yang dikenal sebagai Muhyiddin—penghidup agama—adalah ulama dan tokoh spiritual Muslim yang hidup pada abad ke-11 hingga ke-12. Ia lahir di wilayah Jilan pada 1077 M dan wafat di Baghdad pada 1166 M. Ia dikenal dalam tradisi tasawuf, terutama dalam pembahasan tentang penyucian jiwa, tobat, keikhlasan, dan tawakal kepada Allah. Ajarannya diwariskan melalui karya-karya dan majelis nasihat yang kemudian berpengaruh luas dalam tradisi Islam. Namun, apa sesungguhnya makna menyerahkan segalanya kepada Allah? Dalam tasawuf, penyerahan diri bukan sekadar ucapan bahwa kita menerima takdir. Ia merupakan perjalanan batin untuk melepaskan anggapan bahwa diri sendiri adalah penguasa mutlak atas kehidupan. Manusia dapat merencanakan, bekerja, berdoa, dan berusaha, tetapi ia tidak memiliki kendali penuh atas seluruh hasilnya. Penderitaan sering kali bertambah ketika keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu berubah menjadi tuntutan agar hidup selalu berjalan sesuai kehendak kita. Di sinilah penyucian jiwa atau tazkiyatun nafs menemukan relevansinya. Hati perlu dibersihkan dari kesombongan yang merasa mampu mengatur segalanya, dari ketakutan berlebihan terhadap masa depan, serta dari keterikatan yang membuat kehilangan terasa seperti kehancuran seluruh kehidupan. Bukan berarti manusia harus mematikan keinginan atau mengabaikan tanggung jawab. Yang perlu dilepaskan ialah sikap batin yang menjadikan keinginan pribadi sebagai ukuran mutlak bagi kebahagiaan. Dalam tauhid, Allah adalah tempat bergantung yang hakiki, sedangkan manusia hanyalah hamba yang menjalani ikhtiar dalam keterbatasannya. Kesadaran ini tidak membuat seseorang pasif. Justru, ia belajar bekerja tanpa kesombongan, berdoa tanpa merasa berhak memaksa hasil, dan menerima kenyataan tanpa kehilangan semangat untuk memperbaiki keadaan. Cinta kepada Allah juga mengubah cara kita memahami tawakal. Tawakal bukan transaksi untuk memperoleh kehidupan yang selalu mudah. Ia adalah kepercayaan kepada Allah yang tetap dijaga ketika doa belum terjawab seperti yang diharapkan. Seseorang yang bertawakal masih dapat bersedih, takut, dan kecewa, tetapi ia tidak membiarkan perasaan tersebut memutus hubungannya dengan Allah. Pada tingkat penghayatan hakikat, manusia mulai memahami perbedaan antara ikhtiar dan hasil. Ikhtiar adalah tanggung jawab yang harus ditunaikan, sedangkan hasil berada di luar kendali sepenuhnya. Kesadaran ini membantu hati berhenti menyalahkan diri secara berlebihan ketika sesuatu gagal, tanpa menjadikannya alasan untuk lari dari evaluasi dan tanggung jawab. Adapun ma'rifat bukan sekadar mengetahui nama dan sifat Allah, melainkan tumbuhnya kesadaran yang semakin dalam tentang kedudukan diri sebagai hamba. Semakin seseorang mengenal keterbatasannya, semakin ia tidak mudah menyombongkan keberhasilan ataupun berputus asa ketika menghadapi kegagalan. Ia belajar melihat kemudahan sebagai nikmat, kesulitan sebagai kenyataan yang perlu dihadapi dengan hikmah, dan setiap keadaan sebagai kesempatan memperbaiki hubungan dengan Allah. Maka, menyerahkan segalanya kepada Allah dengan cinta bukan berarti menunggu keajaiban tanpa berbuat apa-apa. Ia berarti melangkah dengan sungguh-sungguh, menjaga hati dari kesombongan, lalu menerima bahwa kebijaksanaan Allah tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita inginkan. Tenangkan hatimu, tunaikan ikhtiarmu, dan jangan jadikan ketidakpastian sebagai alasan untuk kehilangan kepercayaan kepada Allah. #KalamSufi #AbdulQadirAlJailani #Tasawuf #Tawakal #Tauhid

About