@repost.r.0: #viral #foryou #fyp #ramysabry #رامي_صبري

"هرجعك لنقطة الصفر"
Open In TikTok:
Region: EG
Friday 16 October 2026 20:04:28 GMT
6631
615
1
38

Music

Download

Comments

omarrida656
3omar hika 33🫆🥷🏻 :
ياريت والله الواحد مش بيعرف ينام لمده اسبوعين
2026-10-16 21:48:53
0
To see more videos from user @repost.r.0, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kadang saya heran bagaimana seorang tokoh sebaik Sutan Sjahrir bisa dikecilkan dan nyaris terlupakan dalam sejarah bangsanya sendiri. Dari trio Bapak pendiri Bangsa, jika Soekarno adalah sang orator dan Hatta adalah sang pemikir, maka Sjahrir dapat dipandang sebagai kompas moral mereka. Sifatnya yang humanis, tegas, dan berani; Sjahrir tidak selalu ada di gelanggang depan panggung orasi tetapi juga bekerja di balik layar mengkaderisasi adik-adik juniornya untuk bisa melahirkan penerus intelektual bangsa seperti Amir Sjarifuddin, Soemitro Djojohadikusumo.  Ia bukan sosok yang mencintai politik tetapi oleh keadaan yang membuatnya terjun ke dalam politik dan pada akhirnya dijatuhkan pula juga oleh politik. Sjahrir adalah sebagai Perdana Menteri pertama pemerintahan republik (November 1945 hingga Juli 1947).  Kemenangan diplomasi Indonesia merdeka dari Sabang sampai Merauke melalui Perjanjian Linggadjati (15 Nov 1946 / 25 Maret 1947) yang puncaknya adalah Konferensi Meja Bundar (KMB) adalah hasil dari perjuangan dan diplomasi Sjahrir, dkk, yang bagi negara muda saat itu dapat dengan mudah  diluluhlantakkan oleh peluru dan meriam Inggris dan Belanda. Ia dituduh terlibat dalam konflik politik pemberontakan PRRI/Permesta meski tidak ada bukti yang kuat kemudian dipenjara tanpa melalui proses pengadilan. Ia jatuh sakit dan hanya oleh karena desakan publik baru diizinkan berobat ke Zürich, Swiss, tempat ia akhirnya menghembuskan napas terakhir (1966). Zaman itu kematian Sjahrir itu jadi berita duka yang menggemparkan seluruh Indonesia (lihat Catatan Subversif Mochtar Lubis tentang hari Kematian Sjahrir, dimana Moh. Hatta juga terlihat lebih tua dan sakit-sakitan). Mungkin Sjahrir sempat bertanya dalam hatinya: “Apa hasil dari perjuanganku untuk Indonesia?” Meski namanya tak selalu bergema seperti Soekarno dan Hatta, warisan moral dan intelektual Sjahrir tetap menjadi pilar bagi republik ini. Ia adalah pejuang yang terlampau maju untuk zamannya—dan sejarah sedang perlahan mengembalikan tempatnya yang layak. #sutansjahrir #sejarahindonesia #tokohnasional  #pendiribangsa
Kadang saya heran bagaimana seorang tokoh sebaik Sutan Sjahrir bisa dikecilkan dan nyaris terlupakan dalam sejarah bangsanya sendiri. Dari trio Bapak pendiri Bangsa, jika Soekarno adalah sang orator dan Hatta adalah sang pemikir, maka Sjahrir dapat dipandang sebagai kompas moral mereka. Sifatnya yang humanis, tegas, dan berani; Sjahrir tidak selalu ada di gelanggang depan panggung orasi tetapi juga bekerja di balik layar mengkaderisasi adik-adik juniornya untuk bisa melahirkan penerus intelektual bangsa seperti Amir Sjarifuddin, Soemitro Djojohadikusumo. Ia bukan sosok yang mencintai politik tetapi oleh keadaan yang membuatnya terjun ke dalam politik dan pada akhirnya dijatuhkan pula juga oleh politik. Sjahrir adalah sebagai Perdana Menteri pertama pemerintahan republik (November 1945 hingga Juli 1947). Kemenangan diplomasi Indonesia merdeka dari Sabang sampai Merauke melalui Perjanjian Linggadjati (15 Nov 1946 / 25 Maret 1947) yang puncaknya adalah Konferensi Meja Bundar (KMB) adalah hasil dari perjuangan dan diplomasi Sjahrir, dkk, yang bagi negara muda saat itu dapat dengan mudah diluluhlantakkan oleh peluru dan meriam Inggris dan Belanda. Ia dituduh terlibat dalam konflik politik pemberontakan PRRI/Permesta meski tidak ada bukti yang kuat kemudian dipenjara tanpa melalui proses pengadilan. Ia jatuh sakit dan hanya oleh karena desakan publik baru diizinkan berobat ke Zürich, Swiss, tempat ia akhirnya menghembuskan napas terakhir (1966). Zaman itu kematian Sjahrir itu jadi berita duka yang menggemparkan seluruh Indonesia (lihat Catatan Subversif Mochtar Lubis tentang hari Kematian Sjahrir, dimana Moh. Hatta juga terlihat lebih tua dan sakit-sakitan). Mungkin Sjahrir sempat bertanya dalam hatinya: “Apa hasil dari perjuanganku untuk Indonesia?” Meski namanya tak selalu bergema seperti Soekarno dan Hatta, warisan moral dan intelektual Sjahrir tetap menjadi pilar bagi republik ini. Ia adalah pejuang yang terlampau maju untuk zamannya—dan sejarah sedang perlahan mengembalikan tempatnya yang layak. #sutansjahrir #sejarahindonesia #tokohnasional #pendiribangsa

About