@jaylenj.1: @Ftc.Jae #brudda #muggsybuggs

⃟
⃟
Open In TikTok:
Region: US
Friday 16 October 2026 22:11:02 GMT
8461
712
9
100

Music

Download

Comments

gianna.j6
𝓰𝓲𝓪𝓷𝓷𝓪 ✟ :
me when yall kept bringing up alex
2026-10-17 00:28:04
2
fw.jae4
Ftc.Jae :
love u brudda best man forever 🫶🏼
2026-10-17 01:55:34
3
colinsteffens
Colin Steffens :
2026-10-16 23:31:21
2
notjack_8
jack :
@unknown
2026-10-16 23:58:44
1
babieswithrabies4183
Luke :
@🎀Nino🎀
2026-10-17 04:39:34
0
jacob21177
jacob21177 :
@Dixon52
2026-10-17 02:54:20
0
landenhebb
hebb :
@yourtrulybaird @Robe
2026-10-17 05:08:02
0
To see more videos from user @jaylenj.1, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Seorang influencer lokal Kalimantan mengaku mendapat telepon dari orang tak dikenal yang meminta dirinya menghapus video kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta berhenti menyuarakan persoalan tersebut.  Yang lebih mengundang tanda tanya, dalam percakapan itu penelepon membawa-bawa nama orang Banjar dan menyebut masyarakat Banjar sudah terbiasa dengan karhutla. Sejak kapan terbiasa dengan bencana berarti harus diam? Sejak kapan penderitaan masyarakat menjadi sesuatu yang dianggap lumrah? Memang, karhutla pernah terjadi parah pada 2015.  Namun, pengalaman pahit itu seharusnya menjadi pelajaran agar bencana serupa tidak terus berulang, bukan alasan untuk menormalisasi asap, kerusakan hutan, gangguan kesehatan, dan penderitaan masyarakat.  Jika ada yang menganggap suara kritik mengganggu, justru publik berhak bertanya: apa yang sebenarnya ingin dibungkam? Suara masyarakat, atau perhatian terhadap persoalan yang belum terselesaikan? Perlu ditegaskan, identitas dan motif penelepon tersebut belum terverifikasi.  Namun, jika benar ada upaya menekan seseorang agar menghapus dokumentasi bencana, hal itu patut menjadi perhatian serius. Hutan bukan milik segelintir orang. Udara bersih bukan kemewahan. Dan menyuarakan bencana bukanlah sebuah kesalahan.  Jangan bungkam mereka yang bersuara. Jawab kritik dengan tindakan nyata, bukan tekanan!  Bagaimana menurut kalian? Apakah masyarakat harus diam hanya karena karhutla dianggap sudah biasa terjadi? #karhutla #kalimantan #kabutasap #viral #hutan
Seorang influencer lokal Kalimantan mengaku mendapat telepon dari orang tak dikenal yang meminta dirinya menghapus video kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta berhenti menyuarakan persoalan tersebut. Yang lebih mengundang tanda tanya, dalam percakapan itu penelepon membawa-bawa nama orang Banjar dan menyebut masyarakat Banjar sudah terbiasa dengan karhutla. Sejak kapan terbiasa dengan bencana berarti harus diam? Sejak kapan penderitaan masyarakat menjadi sesuatu yang dianggap lumrah? Memang, karhutla pernah terjadi parah pada 2015. Namun, pengalaman pahit itu seharusnya menjadi pelajaran agar bencana serupa tidak terus berulang, bukan alasan untuk menormalisasi asap, kerusakan hutan, gangguan kesehatan, dan penderitaan masyarakat. Jika ada yang menganggap suara kritik mengganggu, justru publik berhak bertanya: apa yang sebenarnya ingin dibungkam? Suara masyarakat, atau perhatian terhadap persoalan yang belum terselesaikan? Perlu ditegaskan, identitas dan motif penelepon tersebut belum terverifikasi. Namun, jika benar ada upaya menekan seseorang agar menghapus dokumentasi bencana, hal itu patut menjadi perhatian serius. Hutan bukan milik segelintir orang. Udara bersih bukan kemewahan. Dan menyuarakan bencana bukanlah sebuah kesalahan. Jangan bungkam mereka yang bersuara. Jawab kritik dengan tindakan nyata, bukan tekanan! Bagaimana menurut kalian? Apakah masyarakat harus diam hanya karena karhutla dianggap sudah biasa terjadi? #karhutla #kalimantan #kabutasap #viral #hutan

About