@jasim.1970: قحطان العطار جنت اعرف انت تنساني . #اغاني_الزمن_الجميل #قحطان_العطار #اغاني_عراقيه #اغاني #ai @Kadim Al Sahir كاظم الساهر

𝕵𝖆𝖘𝖎𝖒🔹
𝕵𝖆𝖘𝖎𝖒🔹
Open In TikTok:
Region: IQ
Saturday 17 October 2026 17:36:51 GMT
24515
1511
88
287

Music

Download

Comments

user9457503206843
علي المالكي :
♥️صوت الحب ♥️
2026-10-20 06:45:34
1
mama16011
وردة🌷 :
🥲🥲🥲🥲💔
2026-10-18 12:18:09
2
nosa015
❤️نوسة نوساية ❤️ :
كلك ذوق
2026-10-19 09:32:35
1
arwayassi
ريحانة الزهراء :
فعلا ايها العطار جنت اعرف انت تنساني وتعوف من بديت أسلم امرك الظروف ياما ياما من كبلك حبايب تنسه تنسه وتلوم وتعاتب الزمن قصته عجيبه موغريبه الله ياالعطار ملك الاحساس وقيثارة الزمان عشقي الابدي
2026-10-18 06:08:13
4
4_1_4aa
انثئ برائحة القهوة☕ :
الريح مالو ذنب اذا احبابك من ورق
2026-10-19 05:53:29
2
falcon_2023a
Falcon :
هاي كلمات الاغنيه المكتوبة كلها غلط[ضحكة كبيرة]
2026-10-19 06:19:03
1
jorjenea77
براند سبعيني :
الله ياذوقك[صلاة]
2026-10-18 18:58:21
2
user6725605102965
عباس الواسطي :
قحطان العطار أغانيه كولها عندما نستمع لها تنسئ العالم
2026-10-19 07:54:43
1
abaasahern
سراب :
2026-10-18 00:15:47
2
hshdjd94876
افلانه💞. :
اكيد ياقحطان لزمن قصته عجيبه موغريبه
2026-10-19 20:15:11
1
karrarjanabi54
KARRARJANABI :
تخيل هذا الصوت الراقي والعذب يقارنوه وي كاظم.
2026-10-19 11:25:56
1
user57671872300714
سنين ضياعه :
2026-10-18 15:06:47
2
sh__m.88
شّـمِسًنِأّ لَنِ تٌـغُيِّبً :
2026-10-18 03:50:48
2
abaasahern
سراب :
2026-10-18 00:15:31
2
abaasahern
سراب :
2026-10-18 00:16:10
2
abaasahern
سراب :
2026-10-18 00:16:02
2
abaasahern
سراب :
2026-10-18 00:15:51
2
alsabawy.768
غزوان السبعاوي🇮🇶 :
2026-10-17 19:02:10
1
user4mkedroln0
(❤(((((مهند راحال )))@@❤❤ :
:ايگول عاشر طير يطير عليك ولا تعاشر بشر يتكبر عليك😔
2026-10-18 20:11:41
1
remasrnldhc
نارو شمس :
اي
2026-10-18 21:53:08
1
4_1_4aa
انثئ برائحة القهوة☕ :
ذوق راقي عاش هل الذوق
2026-10-19 05:54:46
2
hdhdadham
❤️كُـآتـٌــآلـِــــِـيآ❤️ :
2026-10-20 00:34:11
1
usermi1phf3uy5f0
ابو فاطمه البديري :
2026-10-19 19:20:16
1
user4929259308140
كرار المعموري :
اي والله جنت اعرف انتة تنساني وتعوف ❤️❤️❤️
2026-10-18 21:43:56
1
braham634
أحمد :
🥰A🥰A
2026-10-18 11:56:02
1
To see more videos from user @jasim.1970, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Di sebuah kampung yang jauh dari gemerlap kota, hiduplah seorang kiai sederhana. Orang-orang memanggilnya Kiai Kampung. Pakaiannya tidak selalu putih bersih, tangannya tidak selalu harum, bahkan telapak tangannya sering kasar karena bekerja. Tetapi di balik kesederhanaannya, ada ilmu dan keikhlasan yang membuat masyarakat begitu menghormatinya. Setiap pagi, ketika sebagian orang masih terlelap dalam tidurnya, sang kiai sudah bangun. Ia mengambil wudu, menunaikan salat Subuh, kemudian membaca Al-Qur’an beberapa ayat. Setelah itu ia tidak langsung duduk di kursi empuk atau menunggu murid datang. Ia justru mengambil cangkul dan berangkat menuju sawah. Pagi itu tanah masih basah oleh embun. Kiai tersebut berjalan menyusuri pematang sawah. Sesekali ia berhenti, mengambil lumpur dan rumput untuk dibawa pulang sebagai makanan ternaknya. Tangannya masuk ke dalam lumpur. Bajunya terkena tanah. Kakinya penuh lumpur. Orang yang melihat mungkin akan berkata, “Itu kiai kok pagi-pagi mencari lumpur dan mengurus ternak?” Tetapi sang kiai tidak pernah merasa rendah dengan pekerjaannya. Ia memahami bahwa mencari rezeki yang halal juga bagian dari ibadah. Allah berfirman: وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 105) Maka bagi sang kiai, mencangkul bukan sekadar mencangkul. Mencari rumput bukan sekadar mencari rumput. Memberi makan ternak bukan sekadar pekerjaan dunia. Semua itu ia niatkan agar keluarganya mendapatkan makanan dari rezeki yang halal dan agar ia dapat terus menghidupi perjuangannya mengajar agama. Menjelang siang, ia pulang dari sawah. Ia membersihkan tubuhnya, kemudian membantu keluarganya. Setelah itu ia kembali membuka kitab. Tidak banyak yang tahu bahwa tangan yang pagi tadi memegang cangkul, siangnya memegang kitab. Begitulah kehidupan seorang kiai kampung. Ia tidak hidup dari banyaknya pujian manusia. Ia hidup dari keyakinan bahwa Allah melihat setiap amal yang dikerjakan dengan ikhlas. Ketika sore mulai datang, anak-anak kampung mulai berdatangan. Ada yang membawa Al-Qur’an, ada yang membawa kitab kecil, ada pula yang datang hanya dengan pakaian sederhana. Sang kiai duduk di depan mereka. “Bismillah,” katanya. Kemudian ia mengajari mereka membaca Al-Qur’an. Kadang ada anak yang belum bisa membaca huruf hijaiyah. Kadang ada yang salah berkali-kali. Sang kiai tidak marah. Ia mengulanginya dengan sabar. Karena ia tahu, mungkin anak yang hari ini terbata-bata membaca Al-Qur’an, suatu hari nanti akan menjadi orang yang mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak yang lain. Rasulullah ﷺ bersabda: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) Malam pun tiba. Kampung mulai sunyi. Lampu-lampu rumah mulai menyala. Tetapi rumah sang kiai masih terdengar suara pengajian. Di sana, orang-orang tua datang belajar. Para pemuda duduk bersila. Anak-anak duduk di depan. Sang kiai membuka kitabnya. Padahal tubuhnya sudah lelah. Pagi ia bekerja di sawah. Siang mengurus keluarga dan ternak. Sore mengajar anak-anak. Malam mengajar masyarakat. Namun ia tidak banyak mengeluh. Sebab ia merasa hidupnya akan menjadi sia-sia jika hanya digunakan untuk dirinya sendiri. Allah berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-'Ankabut: 69) Mungkin namanya tidak terkenal di televisi. Mungkin tidak banyak orang dari luar kampung yang mengenalnya. #pecintaulama #ulama
Di sebuah kampung yang jauh dari gemerlap kota, hiduplah seorang kiai sederhana. Orang-orang memanggilnya Kiai Kampung. Pakaiannya tidak selalu putih bersih, tangannya tidak selalu harum, bahkan telapak tangannya sering kasar karena bekerja. Tetapi di balik kesederhanaannya, ada ilmu dan keikhlasan yang membuat masyarakat begitu menghormatinya. Setiap pagi, ketika sebagian orang masih terlelap dalam tidurnya, sang kiai sudah bangun. Ia mengambil wudu, menunaikan salat Subuh, kemudian membaca Al-Qur’an beberapa ayat. Setelah itu ia tidak langsung duduk di kursi empuk atau menunggu murid datang. Ia justru mengambil cangkul dan berangkat menuju sawah. Pagi itu tanah masih basah oleh embun. Kiai tersebut berjalan menyusuri pematang sawah. Sesekali ia berhenti, mengambil lumpur dan rumput untuk dibawa pulang sebagai makanan ternaknya. Tangannya masuk ke dalam lumpur. Bajunya terkena tanah. Kakinya penuh lumpur. Orang yang melihat mungkin akan berkata, “Itu kiai kok pagi-pagi mencari lumpur dan mengurus ternak?” Tetapi sang kiai tidak pernah merasa rendah dengan pekerjaannya. Ia memahami bahwa mencari rezeki yang halal juga bagian dari ibadah. Allah berfirman: وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 105) Maka bagi sang kiai, mencangkul bukan sekadar mencangkul. Mencari rumput bukan sekadar mencari rumput. Memberi makan ternak bukan sekadar pekerjaan dunia. Semua itu ia niatkan agar keluarganya mendapatkan makanan dari rezeki yang halal dan agar ia dapat terus menghidupi perjuangannya mengajar agama. Menjelang siang, ia pulang dari sawah. Ia membersihkan tubuhnya, kemudian membantu keluarganya. Setelah itu ia kembali membuka kitab. Tidak banyak yang tahu bahwa tangan yang pagi tadi memegang cangkul, siangnya memegang kitab. Begitulah kehidupan seorang kiai kampung. Ia tidak hidup dari banyaknya pujian manusia. Ia hidup dari keyakinan bahwa Allah melihat setiap amal yang dikerjakan dengan ikhlas. Ketika sore mulai datang, anak-anak kampung mulai berdatangan. Ada yang membawa Al-Qur’an, ada yang membawa kitab kecil, ada pula yang datang hanya dengan pakaian sederhana. Sang kiai duduk di depan mereka. “Bismillah,” katanya. Kemudian ia mengajari mereka membaca Al-Qur’an. Kadang ada anak yang belum bisa membaca huruf hijaiyah. Kadang ada yang salah berkali-kali. Sang kiai tidak marah. Ia mengulanginya dengan sabar. Karena ia tahu, mungkin anak yang hari ini terbata-bata membaca Al-Qur’an, suatu hari nanti akan menjadi orang yang mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak yang lain. Rasulullah ﷺ bersabda: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) Malam pun tiba. Kampung mulai sunyi. Lampu-lampu rumah mulai menyala. Tetapi rumah sang kiai masih terdengar suara pengajian. Di sana, orang-orang tua datang belajar. Para pemuda duduk bersila. Anak-anak duduk di depan. Sang kiai membuka kitabnya. Padahal tubuhnya sudah lelah. Pagi ia bekerja di sawah. Siang mengurus keluarga dan ternak. Sore mengajar anak-anak. Malam mengajar masyarakat. Namun ia tidak banyak mengeluh. Sebab ia merasa hidupnya akan menjadi sia-sia jika hanya digunakan untuk dirinya sendiri. Allah berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-'Ankabut: 69) Mungkin namanya tidak terkenal di televisi. Mungkin tidak banyak orang dari luar kampung yang mengenalnya. #pecintaulama #ulama

About