@lan231128:

Lan Em Review
Lan Em Review
Open In TikTok:
Region: VN
Sunday 18 October 2026 03:12:26 GMT
37
0
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @lan231128, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Dalam kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah as-Sakandari menulis satu kalimat tentang ujian yang, kalau dibaca pelan-pelan, mengubah total cara kita memandang penderitaan:
Dalam kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah as-Sakandari menulis satu kalimat tentang ujian yang, kalau dibaca pelan-pelan, mengubah total cara kita memandang penderitaan: "Pedihnya ujian bisa diringankan dengan pengetahuanmu bahwa Allah Swt.-lah yang menurunkannya. Yang mendatangkan ujian-takdir kepadamu adalah Dia yang juga bisa menganugerahkan pilihan-pilihan terbaik buatmu." Perhatikan — ia tidak bilang "tahanlah rasa sakitnya." Ia bilang ketahuilah siapa yang mengirimnya. Ini beda mendasar antara sekadar bertahan dan benar-benar memahami. 1. "Sabar saja" adalah strategi bertahan. Yang ditawarkan Ibnu Athaillah adalah strategi memahami. Nasihat "sabar saja" sering terdengar seperti perintah untuk menahan napas sampai badai berlalu — kau tetap merasakan sakit penuh, hanya menahan diri untuk tidak meledak. Tapi Ibnu Athaillah menunjukkan jalan lain: pedihnya ujian bisa benar-benar berkurang, bukan sekadar tertahan, kalau kau mengenali siapa yang berada di baliknya. Ini bukan soal menahan reaksi. Ini soal mengganti sudut pandang sampai ke akarnya. 2. Sudut pandang yang ia tawarkan tajam karena mengaitkan dua hal yang biasanya kita pisahkan: Dzat yang menguji dan Dzat yang memberi. Ini poin paling menohok dari kalimatnya: Dia yang mendatangkan ujian kepadamu adalah Dia yang sama yang selama ini memilihkan kebaikan-kebaikan untukmu. Bukan dua kekuatan berbeda — satu jahat, satu baik — yang bergantian menguasai hidupmu. Kalau kau percaya Allah selalu memilihkan yang terbaik saat memberi nikmat, konsekuensinya kau juga harus percaya Dia sedang memilihkan sesuatu — meski belum terlihat baiknya — saat menurunkan ujian. 3. Ibnu Athaillah bahkan menolak asumsi bahwa musibah selalu hukuman atas dosa. Ia menegaskan bahwa bala dan musibah tidak selalu turun kepada orang-orang yang berbuat dosa saja — melainkan bisa menyeluruh, menimpa siapa saja yang Allah kehendaki. Ini artinya kau tidak perlu menginterogasi dirimu sendiri setiap kali diuji, seolah pasti ada dosa besar di baliknya. Terkadang ujian datang bukan sebagai hukuman, tapi sebagai bentuk perhatian — cara Allah "menyapa" hamba yang dipilih-Nya. 4. Ada satu kalimatnya lagi yang menutup semua ini dengan lebih tajam: "Ketika Allah memberimu, maka Dia sesungguhnya sedang memperlihatkan belas kasih-Nya kepadamu; dan ketika Dia menolak memberimu, maka Dia sedang menunjukkan kekuasaan-Nya kepadamu; dan di dalam semuanya itu, Ia sesungguhnya hendak memperlihatkan diri kepadamu dan ingin menjumpaimu dengan kelembutan-Nya." Diberi dan tidak diberi, keduanya sama-sama bentuk Allah menyapamu — bukan salah satu tanda kasih dan yang lain tanda murka. Ini yang membuat "sabar" versi Ibnu Athaillah beda: bukan menahan diri sambil menunggu ujian berlalu, tapi menyibukkan diri dengan zikir dan syukur saat nikmat datang, dan menyibukkan diri dengan sabar serta memohon pertolongan saat ujian datang — dua-duanya diperlakukan sebagai bentuk kehadiran Allah, bukan dua nasib yang berbeda. #ribath💫 #ustadzgaul

About