@lilyjasine: Jgn coba coba😂

Lily Jasine
Lily Jasine
Open In TikTok:
Region: ID
Sunday 18 October 2026 03:18:20 GMT
516
18
1
0

Music

Download

Comments

bocah.kecil746
bocah kecil :
2026-10-18 08:09:38
1
To see more videos from user @lilyjasine, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Setelah 20 tahun usia perdamaian Aceh, masih banyak keluarga eks kombatan GAM yang didera kemiskinan ekstrem. Selain menempati gubuk reot, kebutuhan dapur sehari-hari pun sulit dipenuhinya. Kondisi memprihatinkan itu harus dijalani Asnawiyanto M Nasir (38), warga Uteun Bunta, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Pria yang semasa di garis perjuangan GAM dikenal dengan sebutan Kolonel ini hingga sekarang masih tinggal di rumah tak layak huni bersama istri dan anak-anaknya. “Jangankan untuk membangun rumah, buat makan sehari-hari saja sangat susah,” tutur Kolenel saat disambangi media ini, Senin (18/11/2024). Di tengah ketidakberdayaan tersebut, Kolenel dan istrinya harus menjalani hari-hari menyedihkan melihat pertumbuhan anaknya nomor dua yang tak normal. “Anak kami yang nomor dua menderita kelainan tulang belakang. Punggungnya semakin membesar dari hari ke hari,” lirihnya. Pasangan suami-istri Asnawiyanto dan Safrinawati saat ini sudah dikaruniai 3 orang anak. Anak pertama bernama Muhammad Fadir baru masuk kelas 1 SMP, anak nomor dua Muhammad Rizki di kelas 3 SD, dan anak nomor tiga Syuhada masih berusia 1 tahun. Sebagai mantan GAM, Asnawiyanto alias Kolonel tak seberuntung teman-temannya dari garis perjuangan yang kini sudah hidup mapan. Ia dan keluarganya masih tinggal di gubuk reot dan bergumul dengan perihnya kehidupan, bahkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan perut keluarganya. “Beginilah kondisi ‘istana’ kami,” sebutnya. “Kami tetap bersyukur, setidaknya masih bisa berteduh dari panas dan hujan.” Rumah yang ditempati Kolonel bersama keluarganya memang jauh dari kategori layak huni. Dinding rumah mereka hanya tempelan papan yang sudah lapuk dimakan usia, di beberapa bagian bahkan sudah digunakan anyaman daun kelapa. Sementara atap rumah menggunakan seng bekas yang sudah bocor di sana-sini. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar harus dijalani Kolonel dan keluarganya dengan ikhlas. Keterbatasan mendera mereka di segala bidang, seperti makanan, air bersih, kesehatan, tempat tinggal, sanitasi layak, pendidikan, dan akses informasi.  Dalam kesehariannya, Kolonel hanya bekerja lepas di kebun warga. “Biasanya membersihkan kebun warga dengan upah sekedar untuk memenuhi kebutuhan dapur dan jajan anak sekolah,” ungkapnya. Itupun kalau ada warga yang membutuhkan jasanya. Kolonel berharap, semoga ada pihak-pihak yang tergerak untuk membantu meringankan beban penderitaan keluarganya. “Kami sangat mengharapkan perhatian pemerintah atau pihak lain yang membantu perbaikan rumah kami, sehingga layak huni,” katanya. Selain itu, Kolonel dan keluarganya menaruh harapan besar semoga ada dermawan yang mau membantu pengobatan anaknya yang derita kelainan tulang punggung. “Ini yang sangat kami harapkan,” ucapnya sambal menelan liur yang mungkin terasa pahit. Selama ini Kolonel mengaku tidak pernah mau ditemui oleh wartawan. “Baru kali ini saya mau ditemui media, karena kita teman seperjungan dulu. Tentu sama-sama maklum dengan kondisi eks GAM yang tidak beruntung seperti saya ini,” imbuhnya penuh haru.[] Sumber: habadaily.com  #bireuen #infobireuen #eksgam #uteunbunta
Setelah 20 tahun usia perdamaian Aceh, masih banyak keluarga eks kombatan GAM yang didera kemiskinan ekstrem. Selain menempati gubuk reot, kebutuhan dapur sehari-hari pun sulit dipenuhinya. Kondisi memprihatinkan itu harus dijalani Asnawiyanto M Nasir (38), warga Uteun Bunta, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Pria yang semasa di garis perjuangan GAM dikenal dengan sebutan Kolonel ini hingga sekarang masih tinggal di rumah tak layak huni bersama istri dan anak-anaknya. “Jangankan untuk membangun rumah, buat makan sehari-hari saja sangat susah,” tutur Kolenel saat disambangi media ini, Senin (18/11/2024). Di tengah ketidakberdayaan tersebut, Kolenel dan istrinya harus menjalani hari-hari menyedihkan melihat pertumbuhan anaknya nomor dua yang tak normal. “Anak kami yang nomor dua menderita kelainan tulang belakang. Punggungnya semakin membesar dari hari ke hari,” lirihnya. Pasangan suami-istri Asnawiyanto dan Safrinawati saat ini sudah dikaruniai 3 orang anak. Anak pertama bernama Muhammad Fadir baru masuk kelas 1 SMP, anak nomor dua Muhammad Rizki di kelas 3 SD, dan anak nomor tiga Syuhada masih berusia 1 tahun. Sebagai mantan GAM, Asnawiyanto alias Kolonel tak seberuntung teman-temannya dari garis perjuangan yang kini sudah hidup mapan. Ia dan keluarganya masih tinggal di gubuk reot dan bergumul dengan perihnya kehidupan, bahkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan perut keluarganya. “Beginilah kondisi ‘istana’ kami,” sebutnya. “Kami tetap bersyukur, setidaknya masih bisa berteduh dari panas dan hujan.” Rumah yang ditempati Kolonel bersama keluarganya memang jauh dari kategori layak huni. Dinding rumah mereka hanya tempelan papan yang sudah lapuk dimakan usia, di beberapa bagian bahkan sudah digunakan anyaman daun kelapa. Sementara atap rumah menggunakan seng bekas yang sudah bocor di sana-sini. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar harus dijalani Kolonel dan keluarganya dengan ikhlas. Keterbatasan mendera mereka di segala bidang, seperti makanan, air bersih, kesehatan, tempat tinggal, sanitasi layak, pendidikan, dan akses informasi. Dalam kesehariannya, Kolonel hanya bekerja lepas di kebun warga. “Biasanya membersihkan kebun warga dengan upah sekedar untuk memenuhi kebutuhan dapur dan jajan anak sekolah,” ungkapnya. Itupun kalau ada warga yang membutuhkan jasanya. Kolonel berharap, semoga ada pihak-pihak yang tergerak untuk membantu meringankan beban penderitaan keluarganya. “Kami sangat mengharapkan perhatian pemerintah atau pihak lain yang membantu perbaikan rumah kami, sehingga layak huni,” katanya. Selain itu, Kolonel dan keluarganya menaruh harapan besar semoga ada dermawan yang mau membantu pengobatan anaknya yang derita kelainan tulang punggung. “Ini yang sangat kami harapkan,” ucapnya sambal menelan liur yang mungkin terasa pahit. Selama ini Kolonel mengaku tidak pernah mau ditemui oleh wartawan. “Baru kali ini saya mau ditemui media, karena kita teman seperjungan dulu. Tentu sama-sama maklum dengan kondisi eks GAM yang tidak beruntung seperti saya ini,” imbuhnya penuh haru.[] Sumber: habadaily.com #bireuen #infobireuen #eksgam #uteunbunta

About