Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
API
Home
How To Use
Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
Home
Detail
@brotherhoodbuffs: #firedepartment #fdny#rescue1
Jawbtown edits
Open In TikTok:
Region: US
Sunday 18 October 2026 12:13:01 GMT
41
4
0
0
Music
Download
No Watermark .mp4 (
1.76MB
)
No Watermark(HD) .mp4 (
1.37MB
)
Watermark .mp4 (
0MB
)
Music .mp3
Comments
There are no more comments for this video.
To see more videos from user @brotherhoodbuffs, please go to the Tikwm homepage.
Other Videos
@vaselinelipvietnam #VaselineJellyLips Bí quyết để đôi môi mềm mọng, tươi tắn suốt cả ngày 😚 #sonduong #sonduongmoi #duongmoivaseline
#VoiceEffects #fypシ゚viral#timorleste🇹🇱#gantungankunci#polaroid
Pernahkah kamu sadar, seumur hidup kamu berusaha menjadi seseorang? Menjadi lebih tenang, lebih suci, lebih sadar, lebih tercerahkan. Padahal semua usaha menjadi itu sendiri yang membuatmu lelah. Karena yang berusaha menjadi, tidak pernah sampai. Yang berusaha sampai, justru yang menghalangi sampai. Yang ini bukan tentang menjadi. Ini tentang berhenti total. Berhenti menjadi apa pun. Dengarkan. Sejak awal diajarkan ada yang menyaksikan pikiran. Ada yang menyaksikan emosi. Itu benar, tapi itu hanya perahu. Perahu dipakai untuk menyeberang dari ramai ke sepi. Dari hanyut ke sadar. Tapi setelah sampai di seberang, perahu tidak perlu digendong naik gunung. Cukup ditinggalkan dengan hormat di tepi sungai. Banyak orang malah menggendong perahunya seumur hidup dan menyebutnya pencerahan. Maka dengarkan kunci terakhirnya: Jangan mencari siapa penyaksinya. Dan jangan berusaha menjadi penyaksinya. Karena keduanya adalah gerakan halus yang sama: masih ada "aku" yang sedang melakukan sesuatu. Satu mencari di luar, satu mempertahankan diri di dalam. Keduanya masih pelaku. Padahal kebenarannya lebih telanjang dari itu. Tidak ada penyaksi. Hanya penyaksian tanpa pemilik yang terjadi dengan sendirinya. Coba lihat: Marah muncul. Tidak ada yang memarah. Hanya energi panas yang diketahui, lalu lenyap sendiri di ruang yang sama. Takut bergetar. Tidak ada yang takut. Hanya getaran halus yang muncul dan tenggelam sendiri. Pikiran lewat. Tidak ada yang berpikir. Hanya tulisan-tulisan di langit kosong yang datang tanpa diundang, pergi tanpa diantar. Tidak ada yang melakukan hidup. Hidup melakukan dirinya sendiri. Seperti angin. Tidak ada seseorang di balik angin yang mendorong angin. Angin adalah dorongannya sendiri. Seperti ombak. Tidak ada lautan terpisah yang menciptakan ombak. Ombak adalah cara lautan menjadi terlihat. Begitu juga kamu. Tidak ada kamu terpisah yang menjalani hidup. Hidup adalah cara keutuhan ini mengenali dirinya sendiri. Inilah yang selama ini terlewat: Yang mencari Tuhan, bukan terpisah dari Tuhan. Gerakan mencari itu sendiri adalah napas Tuhan yang sedang pulang kepada dirinya sendiri melalui tubuhmu. Maka tidak ada yang perlu menjadi sadar. Kesadaran sudah ada, jauh sebelum kata "aku" pertama kali kamu pelajari dari ibumu. Kesadaran tidak pernah lahir bersamamu. Kamulah yang lahir di dalam kesadaran. Jadi tidak ada tugas akhir. Semua tugas adalah permainan "aku" agar merasa penting. Tidak ada yang harus diam. Diam terjadi sendiri ketika tidak ada lagi yang ribut ingin mengatur. Tidak ada yang harus sadar. Sadar terjadi sendiri ketika tidak ada lagi yang berusaha menjadi sadar. Lihatlah betapa sederhananya: Bunga tidak butuh izin "aku" untuk mekar. Dia mekar karena waktunya mekar. Napas tidak butuh perintah "aku" untuk masuk dan keluar. Dia bernapas karena hidup bernapas. Jantung tidak butuh "aku" untuk berdetak. Dia berdetak karena cinta itu sendiri berdetak. Hidup tidak pernah butuh "aku" untuk hidup. "Aku" lah yang butuh cerita tentang hidup agar merasa ada. Dan ketika cerita tentang "aku" itu berhenti dipercaya... Yang tersisa bukan kekosongan yang hampa dan menakutkan. Yang tersisa adalah keutuhan yang penuh. Yang tidak pernah butuh dua untuk menjadi lengkap. Yang tidak pernah pergi, sehingga tidak perlu pulang. Tidak ada yang tercerahkan. Hanya kejelasan yang selalu ada, setelah kabut "aku" tidak lagi digenggam. Sudah. Jangan pegang tulisan ini. Jangan jadikan tulisan ini identitas baru. Biarkan tulisan ini lenyap bersama pembacanya. Tersisa apa adanya, tanpa nama.
Dans les années 80 et 90, Vinnie Jones s’est forgé une sacrée réputation au milieu de terrain. Avec Wimbledon et son fameux « Crazy Gang », il était connu pour ses tacles assassins, ses duels sans pitié et son agressivité permanente. Le fair-play n’était pas vraiment sa spécialité… Et après le football, changement de décor : direction le cinéma ! Avec Arnaques, Crimes et Botanique, Snatch ou encore X-Men : L’Affrontement final, il s’est reconverti dans les rôles de gros bras et de durs à cuire. Sur le terrain comme à l’écran, Vinnie Jones n’a jamais eu besoin de jouer les gentils. Un vrai personnage ! #football #foot
About
Robot
API
Legal
Privacy Policy