@_riya_baliyan: 🥀🥀#viral

Riya✨
Riya✨
Open In TikTok:
Region: PK
Sunday 18 October 2026 13:24:52 GMT
444
107
2
1

Music

Download

Comments

user1581427108114
rehan😎 :
❤️❤️❤️✨🧿
2026-10-18 13:27:53
0
tahir.ali74845
Tahir Ali :
🥰🥰🥰
2026-10-18 13:35:31
0
To see more videos from user @_riya_baliyan, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Di era media sosial, banyak orang mulai mengukur kebahagiaan pernikahan dari apa yang mereka lihat di layar: pasangan yang selalu romantis, hadiah mahal, rumah mewah, dan kehidupan yang tampak sempurna. Tanpa disadari, standar semacam ini dapat menumbuhkan ekspektasi yang tidak realistis, membuat pasangan saling membandingkan, hingga melupakan hakikat pernikahan yang sesungguhnya. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan fantasi, rasa syukur perlahan tergantikan oleh kekecewaan, ego, bahkan keinginan untuk berpisah. Padahal, pernikahan bukanlah panggung untuk mendapatkan pengakuan manusia, melainkan perjalanan panjang untuk belajar setia, bertanggung jawab, saling menghormati, dan bertahan menghadapi ujian kehidupan. Jika dikaitkan dengan pemikiran Ali Yusuf As-Subki dalam perspektif hukum keluarga Islam, pernikahan bukan sekadar hubungan untuk memenuhi keinginan pribadi, apalagi ajang memamerkan kemewahan dan romantisme di hadapan publik. Pernikahan memiliki tujuan yang lebih mendalam, yaitu membangun keluarga yang dilandasi tanggung jawab, menjaga kehormatan, memenuhi hak dan kewajiban suami istri, serta mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sesuai dengan tuntunan agama. Karena itu, pasangan suami istri seharusnya tidak menjadikan standar kehidupan di TikTok sebagai ukuran utama kebahagiaan. Sebab, rumah tangga yang kokoh tidak dibangun dari pujian manusia atau kemewahan yang terlihat di layar, melainkan dari keimanan, kesabaran, kesetiaan, dan kesediaan untuk saling memperbaiki diri. Jangan sampai demi mengejar kehidupan yang tampak sempurna di mata manusia, kita justru mengorbankan keharmonisan keluarga dan nilai-nilai moral yang seharusnya dijaga.
Di era media sosial, banyak orang mulai mengukur kebahagiaan pernikahan dari apa yang mereka lihat di layar: pasangan yang selalu romantis, hadiah mahal, rumah mewah, dan kehidupan yang tampak sempurna. Tanpa disadari, standar semacam ini dapat menumbuhkan ekspektasi yang tidak realistis, membuat pasangan saling membandingkan, hingga melupakan hakikat pernikahan yang sesungguhnya. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan fantasi, rasa syukur perlahan tergantikan oleh kekecewaan, ego, bahkan keinginan untuk berpisah. Padahal, pernikahan bukanlah panggung untuk mendapatkan pengakuan manusia, melainkan perjalanan panjang untuk belajar setia, bertanggung jawab, saling menghormati, dan bertahan menghadapi ujian kehidupan. Jika dikaitkan dengan pemikiran Ali Yusuf As-Subki dalam perspektif hukum keluarga Islam, pernikahan bukan sekadar hubungan untuk memenuhi keinginan pribadi, apalagi ajang memamerkan kemewahan dan romantisme di hadapan publik. Pernikahan memiliki tujuan yang lebih mendalam, yaitu membangun keluarga yang dilandasi tanggung jawab, menjaga kehormatan, memenuhi hak dan kewajiban suami istri, serta mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sesuai dengan tuntunan agama. Karena itu, pasangan suami istri seharusnya tidak menjadikan standar kehidupan di TikTok sebagai ukuran utama kebahagiaan. Sebab, rumah tangga yang kokoh tidak dibangun dari pujian manusia atau kemewahan yang terlihat di layar, melainkan dari keimanan, kesabaran, kesetiaan, dan kesediaan untuk saling memperbaiki diri. Jangan sampai demi mengejar kehidupan yang tampak sempurna di mata manusia, kita justru mengorbankan keharmonisan keluarga dan nilai-nilai moral yang seharusnya dijaga.

About