@shoe_machine_factory: Efficiency leather shoe material upper laser cutting machine #shoemachine #lasercutting #máquina para calzado#обувной станок#mesin sepatu

Shoe machine making factory
Shoe machine making factory
Open In TikTok:
Region: SG
Sunday 18 October 2026 16:34:50 GMT
3367
61
0
4

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @shoe_machine_factory, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

BOJONEGORO - Lembaga pendidikan negeri berlabel agama yang seharusnya menjadi penolong bagi masyarakat bawah, nyatanya kerap bikin longsor dompet. Kasus terbaru datang dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Bojonegoro. Di tengah himpitan ekonomi yang makin menjepit, para wali murid—khususnya dari kalangan kurang mampu—malah disuguhi daftar tagihan dengan angka yang fantastis. Sabtu (31/10/2026).  ​Alih-alih meringankan beban, biaya pendidikan di sekolah ini justru sukses bikin jantungan. Betapa tidak, selain uang gedung dan bulanan, pos pengeluaran untuk penunjang belajar anak didik dipatok dengan harga yang bikin nyesek dada. ​Berdasarkan keluhan yang mencuat di kalangan wali murid, rincian biaya yang harus ditanggung benar-benar di luar nalar rakyat kecil. Bayangkan saja, untuk urusan bulanan, wali murid masih dipatok SPP sebesar Rp 155.000 per bulan. ​Belum cukup membuat pusing, pos anggaran pengadaan LKS (Lembar Kerja Siswa) melonjak hingga Rp 1.250.000. Sebuah angka yang sangat fantastis hanya untuk sekadar deretan kertas latihan soal—yang tentu bukan nominal kecil bagi buruh harian, petani, atau warga pas-pasan. ​ Puncaknya adalah tagihan DP2M (Dana Peningkatan dan Pengembangan  Mutu Madrasah) sebesar Rp 3.200.000. Kombinasi antara SPP, LKS jutaan rupiah, dan DP2M ini kontan membuat orang tua murid harus putar otak, bahkan berhutang ke sana ke mari demi anak mereka tidak diasingkan di sekolah. ​Kondisi ini memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat: Sebenarnya madrasah negeri ini dibangun untuk mencerdaskan anak bangsa, atau sekadar ajang cari untung lewat pungutan? ​Jika institusi pendidikan negeri saja tega mematok harga LKS selangit hingga jutaan rupiah, di mana lagi rakyat kecil bisa mencari keadilan? Apakah sekolah lupa bahwa tidak semua wali murid punya cetakan uang di rumah? ​Hingga berita ini diturunkan, pihak MAN 1 Bojonegoro masih dinanti klarifikasinya. Apakah harga LKS segitu mahalnya sudah pakai tinta emas, atau sekadar cara halus mer*mpok kantong wali murid.
BOJONEGORO - Lembaga pendidikan negeri berlabel agama yang seharusnya menjadi penolong bagi masyarakat bawah, nyatanya kerap bikin longsor dompet. Kasus terbaru datang dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Bojonegoro. Di tengah himpitan ekonomi yang makin menjepit, para wali murid—khususnya dari kalangan kurang mampu—malah disuguhi daftar tagihan dengan angka yang fantastis. Sabtu (31/10/2026). ​Alih-alih meringankan beban, biaya pendidikan di sekolah ini justru sukses bikin jantungan. Betapa tidak, selain uang gedung dan bulanan, pos pengeluaran untuk penunjang belajar anak didik dipatok dengan harga yang bikin nyesek dada. ​Berdasarkan keluhan yang mencuat di kalangan wali murid, rincian biaya yang harus ditanggung benar-benar di luar nalar rakyat kecil. Bayangkan saja, untuk urusan bulanan, wali murid masih dipatok SPP sebesar Rp 155.000 per bulan. ​Belum cukup membuat pusing, pos anggaran pengadaan LKS (Lembar Kerja Siswa) melonjak hingga Rp 1.250.000. Sebuah angka yang sangat fantastis hanya untuk sekadar deretan kertas latihan soal—yang tentu bukan nominal kecil bagi buruh harian, petani, atau warga pas-pasan. ​ Puncaknya adalah tagihan DP2M (Dana Peningkatan dan Pengembangan Mutu Madrasah) sebesar Rp 3.200.000. Kombinasi antara SPP, LKS jutaan rupiah, dan DP2M ini kontan membuat orang tua murid harus putar otak, bahkan berhutang ke sana ke mari demi anak mereka tidak diasingkan di sekolah. ​Kondisi ini memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat: Sebenarnya madrasah negeri ini dibangun untuk mencerdaskan anak bangsa, atau sekadar ajang cari untung lewat pungutan? ​Jika institusi pendidikan negeri saja tega mematok harga LKS selangit hingga jutaan rupiah, di mana lagi rakyat kecil bisa mencari keadilan? Apakah sekolah lupa bahwa tidak semua wali murid punya cetakan uang di rumah? ​Hingga berita ini diturunkan, pihak MAN 1 Bojonegoro masih dinanti klarifikasinya. Apakah harga LKS segitu mahalnya sudah pakai tinta emas, atau sekadar cara halus mer*mpok kantong wali murid.

About