@sephytech: Still using a regular mouse? 👀 The Monster M2 MAX ergonomic vertical mouse features 10 buttons, dedicated copy and paste shortcuts, a multifunction knob, triple-mode connectivity, adjustable 4000 DPI, and a built-in screen. A practical upgrade for your work or desk setup. Check it out in the yellow basket! 🖱️ #MonsterM2MAX #ErgonomicMouse #VerticalMouse #WirelessMouse #desksetup

Seph’s Desk
Seph’s Desk
Open In TikTok:
Region: PH
Monday 19 October 2026 08:52:51 GMT
6469
27
0
6

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @sephytech, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kegelisahan sering kali dianggap sebagai masalah yang harus disingkirkan dengan mencari hiburan atau melarikan diri dari masalah. Namun, Imam Al-Ghazali menawarkan pendekatan yang jauh lebih mendalam: bukan menghindari masalah, melainkan membongkar cara hati memandangnya. Dalam pandangannya, akar dari banyak kegelisahan bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan cara kita menilai, membayangkan, dan melekatkan harapan pada peristiwa tersebut. Selama cara pandang ini tidak berubah, seseorang bisa berpindah tempat atau mengganti masalah, tetapi ia akan tetap membawa kegelisahan yang sama. Dalam Ihya' Ulumuddin, Al-Ghazali menempatkan hati sebagai pusat yang menentukan seluruh keadaan diri. Kesehatan jiwa, dalam pemikirannya, bukan sekadar bebas dari gangguan psikologis, melainkan keadaan integratif yang mencakup keseimbangan akal, emosi, dan spiritualitas. Hati yang tenang (*qalbun salim*) adalah indikator utama kesehatan spiritual, karena ketenangan tersebut mencerminkan kemampuan seseorang dalam menata hawa nafsu, mengendalikan dorongan emosional, dan menjaga kejernihan pikiran. Maka, langkah pertama yang diajarkan Al-Ghazali bukanlah mencari solusi di luar, tetapi mengenali apa yang sedang menguasai hati ketika masalah datang. Salah satu kunci utama dalam kerangka Al-Ghazali adalah muhasabah, yaitu memeriksa isi hati dengan jujur. Praktik ini membantu individu mengenali kelemahan dan potensi dalam dirinya, sehingga menjadi landasan perubahan perilaku yang lebih baik. Ketika gelisah menyerang, seseorang diajak untuk bertanya: apa sebenarnya yang sedang saya takutkan? Apakah saya takut kehilangan sesuatu yang memang bukan milik saya? Apakah saya sedang menuntut dunia untuk berjalan sesuai keinginan saya? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak menghilangkan masalah, tetapi memindahkan pusat perhatian dari masalah ke keadaan hati sendiri. Di situlah perubahan cara pandang mulai terjadi. Perubahan cara pandang ini bukanlah berpikir positif yang kosong. Ia berakar pada tauhid, tawakal, dan ridha. Al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakal adalah mempercayakan dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dalam Minhaj al-Abidin, beliau merinci bahwa tawakal mencakup keyakinan penuh dan rasa puas dengan keputusan Allah, bersandar pada pertolongan-Nya, serta yakin bahwa Allah akan mencukupi segala kebutuhan. Ketika keyakinan ini tertanam, hati menjadi tenang dan seseorang tidak lagi bergantung pada bantuan makhluk. Ridha, yang merupakan manifestasi dari kecintaan hamba kepada Tuhannya, melahirkan sikap mental yang merasa tenang dan senang. Dengan tauhid, tawakal, dan ridha, masalah yang sama bisa terasa berbeda, bukan karena masalahnya mengecil, tetapi karena hati tidak lagi memikulnya sendirian. Selain fondasi batin tersebut, Al-Ghazali juga mengajarkan amalan konkret untuk menenangkan hati. Ibadah seperti shalat, dzikir, dan doa tidak hanya dipahami sebagai ketaatan ritual, tetapi juga sebagai mekanisme psikologis yang dapat meredakan kecemasan dan menurunkan intensitas stres. Shalat yang dijalankan dengan khusyu' menjadi sarana reflektif yang memungkinkan seseorang memahami akar persoalan batinnya. Al-Ghazali menekankan bahwa khusyu' dalam shalat dapat tercapai dengan menghadirkan enam elemen: hudhur al-qalb (kehadiran hati), tafahhum (pemahaman), ta'zhim (pengagungan), haibah (rasa segan), raja' wa khauf (harapan dan rasa takut), serta haya' (rasa malu). Dzikir juga berperan sebagai makanan rohani; ketika hati terhubung kepada Allah melalui dzikir, ia akan menemukan sakinah atau ketenteraman batin. Puncaknya, Al-Ghazali tidak menyuruh manusia menghindari masalah, karena masalah adalah bagian tak terpisahkan dari hidup. #ribath💫 #ustadzgaul
Kegelisahan sering kali dianggap sebagai masalah yang harus disingkirkan dengan mencari hiburan atau melarikan diri dari masalah. Namun, Imam Al-Ghazali menawarkan pendekatan yang jauh lebih mendalam: bukan menghindari masalah, melainkan membongkar cara hati memandangnya. Dalam pandangannya, akar dari banyak kegelisahan bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan cara kita menilai, membayangkan, dan melekatkan harapan pada peristiwa tersebut. Selama cara pandang ini tidak berubah, seseorang bisa berpindah tempat atau mengganti masalah, tetapi ia akan tetap membawa kegelisahan yang sama. Dalam Ihya' Ulumuddin, Al-Ghazali menempatkan hati sebagai pusat yang menentukan seluruh keadaan diri. Kesehatan jiwa, dalam pemikirannya, bukan sekadar bebas dari gangguan psikologis, melainkan keadaan integratif yang mencakup keseimbangan akal, emosi, dan spiritualitas. Hati yang tenang (*qalbun salim*) adalah indikator utama kesehatan spiritual, karena ketenangan tersebut mencerminkan kemampuan seseorang dalam menata hawa nafsu, mengendalikan dorongan emosional, dan menjaga kejernihan pikiran. Maka, langkah pertama yang diajarkan Al-Ghazali bukanlah mencari solusi di luar, tetapi mengenali apa yang sedang menguasai hati ketika masalah datang. Salah satu kunci utama dalam kerangka Al-Ghazali adalah muhasabah, yaitu memeriksa isi hati dengan jujur. Praktik ini membantu individu mengenali kelemahan dan potensi dalam dirinya, sehingga menjadi landasan perubahan perilaku yang lebih baik. Ketika gelisah menyerang, seseorang diajak untuk bertanya: apa sebenarnya yang sedang saya takutkan? Apakah saya takut kehilangan sesuatu yang memang bukan milik saya? Apakah saya sedang menuntut dunia untuk berjalan sesuai keinginan saya? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak menghilangkan masalah, tetapi memindahkan pusat perhatian dari masalah ke keadaan hati sendiri. Di situlah perubahan cara pandang mulai terjadi. Perubahan cara pandang ini bukanlah berpikir positif yang kosong. Ia berakar pada tauhid, tawakal, dan ridha. Al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakal adalah mempercayakan dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dalam Minhaj al-Abidin, beliau merinci bahwa tawakal mencakup keyakinan penuh dan rasa puas dengan keputusan Allah, bersandar pada pertolongan-Nya, serta yakin bahwa Allah akan mencukupi segala kebutuhan. Ketika keyakinan ini tertanam, hati menjadi tenang dan seseorang tidak lagi bergantung pada bantuan makhluk. Ridha, yang merupakan manifestasi dari kecintaan hamba kepada Tuhannya, melahirkan sikap mental yang merasa tenang dan senang. Dengan tauhid, tawakal, dan ridha, masalah yang sama bisa terasa berbeda, bukan karena masalahnya mengecil, tetapi karena hati tidak lagi memikulnya sendirian. Selain fondasi batin tersebut, Al-Ghazali juga mengajarkan amalan konkret untuk menenangkan hati. Ibadah seperti shalat, dzikir, dan doa tidak hanya dipahami sebagai ketaatan ritual, tetapi juga sebagai mekanisme psikologis yang dapat meredakan kecemasan dan menurunkan intensitas stres. Shalat yang dijalankan dengan khusyu' menjadi sarana reflektif yang memungkinkan seseorang memahami akar persoalan batinnya. Al-Ghazali menekankan bahwa khusyu' dalam shalat dapat tercapai dengan menghadirkan enam elemen: hudhur al-qalb (kehadiran hati), tafahhum (pemahaman), ta'zhim (pengagungan), haibah (rasa segan), raja' wa khauf (harapan dan rasa takut), serta haya' (rasa malu). Dzikir juga berperan sebagai makanan rohani; ketika hati terhubung kepada Allah melalui dzikir, ia akan menemukan sakinah atau ketenteraman batin. Puncaknya, Al-Ghazali tidak menyuruh manusia menghindari masalah, karena masalah adalah bagian tak terpisahkan dari hidup. #ribath💫 #ustadzgaul

About