@reenulpnjq5: #lilisa #blackpink #musica #OOTD

KPOP💞 QUEEN
KPOP💞 QUEEN
Open In TikTok:
Region: PK
Monday 19 October 2026 10:52:57 GMT
522808
39017
242
1766

Music

Download

Comments

ejayrams3
EjayRams :
what do you see
2026-10-23 12:13:41
0
hisoka49345
I have no enemies. :
Who is she?
2026-10-22 02:08:21
30
jfk948
me :
น้องของลิซ่ายิ้มเก่งจริงๆคับ
2026-10-22 04:01:01
35
om3456781
⚡⟪ ὄм ⟫⚡ :
scroll bro
2026-10-20 16:00:41
34
skrifat994
Rifat Khan.🎖️ :
2026-10-19 11:24:05
58
skyl2511
Đồng Trần :
hình như nó ra ký hiệu sos kìa k pk
2026-10-22 06:55:18
10
ahamedmbarak
Ahamed mobarak :
। it’s songs
2026-10-20 07:04:58
7
prv____abdo_k7
卂乃ᗪㄖㄩ :
Forget the trivialities and watch Black Clover
2026-10-22 16:51:11
0
ford52788
โ.บ๊.ท🤓 :
2026-10-23 06:03:11
1
.sinzo.mgr
Janeyy..!? :
W
2026-10-21 16:01:22
5
1bennyg
Benny :
2026-10-20 09:18:34
3
s.o.i.s6
حـامے؟؟ :
2026-10-22 13:12:34
1
gnson_666
Ngọc Sơn :
2026-10-22 09:04:44
1
lvmanh42700
lvm_206. :
2026-10-22 00:12:09
2
shahriar_wahid_tonmoy
🍁 SHAHRIAR TONMOY 🍁 :
2026-10-20 18:56:38
1
v772819
꧁༒Ⓥ Ⓘ Ⓟ༒ 7Ⓚ༒ ꧂ :
2026-10-21 00:05:01
3
imtiajm72
Imtiaj Mahmud ( الهام ) :
🤯
2026-10-21 14:37:02
1
btuffk
꧁ঔৣ☬✞𝓓𝖔𝖓✞☬ঔৣ꧂ :
2026-10-22 15:48:01
1
mdhmdnor
🫣😋Tasnim +Jiad 😽😊 :
2026-10-20 15:01:56
2
siam_bbz9
SΛM🍂<3 :
2026-10-19 17:05:02
1
jonny.sing745
না বলা না পাওয়া ভালোবাসা 🫠 :
who is she?
2026-10-20 18:48:59
2
valo.manush031
️ :
2026-10-20 15:56:34
1
jakaria.islam1441
🅙🅐🅚🅐🅡🅘🅐 :
you notice......🤭
2026-10-20 15:51:57
2
duke_english
Mr.G :
True Love❤️
2026-10-22 22:57:41
1
surasakkhomkratho
เสือ789 :
อืม
2026-10-22 15:17:24
1
To see more videos from user @reenulpnjq5, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

pov: “Aku akan menikah dengan orang lain, yn.” Kamu sempat mengira pendengaranmu keliru. Tanganmu yang sejak tadi sibuk mengaduk minuman berhenti begitu saja, sementara senyum kecil yang hendak kamu tunjukkan kepada Heeseung perlahan menghilang. Kamu menatapnya beberapa saat, menunggu laki-laki itu tertawa dan mengaku bahwa perkataannya barusan hanyalah lelucon buruk.  Namun, Heeseung tetap diam, bahkan tidak sekalipun mengangkat wajahnya untuk membalas tatapanmu. “Apaan, sih? Nggak lucu, Heeseung.” Kamu tertawa kecil, meski suaramu terdengar canggung. “Bercanda kamu sore ini kelewatan.” “Aku serius, yn.” Dua kata itu membuatmu kehilangan alasan untuk tersenyum. Kamu meletakkan sendok di atas tatakan cangkir, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Ada banyak hal yang ingin kamu tanyakan, tetapi semuanya terasa berdesakan di kepala sampai kamu kesulitan menentukan harus mulai dari mana. Heeseung akhirnya mengangkat wajah. “Pernikahannya bulan depan. Keluarga aku sudah mengatur semuanya.” “Terus, kamu setuju?” Dia terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Aku nggak punya pilihan.” Kamu menatapnya tidak percaya. Selama empat tahun bersama, kamu sudah mendengar berbagai janji tentang masa depan kalian. Heeseung selalu mengatakan bahwa keluarganya memang sulit menerima orang baru, tetapi dia akan berusaha membuat mereka mengerti. Bahkan ketika ibunya secara terang-terangan merendahkanmu, laki-laki itu meminta kamu bersabar dan berjanji akan menyelesaikan semuanya. Karena itulah kamu bertahan, sekalipun berkali-kali harus menelan perlakuan yang menyakitkan dari keluarganya. Sekarang, ketika semuanya benar-benar menuntut keberanian darinya, Heeseung justru duduk di hadapanmu dan menyampaikan bahwa hubungan kalian harus berakhir, seolah empat tahun yang sudah dilewati bersama tidak cukup berarti untuk diperjuangkan. “Kenapa?” tanyamu akhirnya. “Kamu pernah bilang bakal memperjuangkan aku. Kamu sendiri yang minta aku bertahan waktu Mama kamu menghina keluargaku. Sekarang kamu malah bilang nggak punya pilihan?” Heeseung mengembuskan napas panjang. “Papa mengancam bakal mencabut posisi aku di perusahaan kalau aku menolak pernikahan ini. Semua akses yang selama ini aku punya juga bisa dicabut. Aku bisa kehilangan semuanya, yn.” Untuk beberapa saat, kamu tidak mampu menjawab. Bukan karena tidak mengerti betapa besar tekanan yang dihadapinya, melainkan karena kamu tidak pernah menyangka bahwa pada akhirnya ia akan memilih mempertahankan semua yang dimilikinya daripada memperjuangkan hubungan kalian. “Jadi cuma karena itu?” Suaramu nyaris hilang, tertahan di kerongkongan. Kamu menggelengkan kepala lambat-lambat, menatap wajah pria yang selama ini kamu anggap sebagai pelindungmu. “Bicara yang jelas sama aku, Heeseung. Jadi selama empat tahun ini, janji kamu untuk bawa aku ke depan keluarga kamu itu cuma omong kosong?” Heeseung mengalihkan pandangan ke samping, membiarkan kebisingan samar kafe sore itu mengisi kekosongan di antara kalian. “Kamu nggak tahu seberapa besar tekanan dari Papa.” “Dan kamu nggak pernah tau seberapa hancurnya aku waktu Mama kamu panggil aku sendirian cuma buat ditunjuk-tunjukkan mana kelas sosial aku dan mana kelas kalian!”  Suaramu meninggi, memancing pandangan sekilas dari beberapa pengunjung lain. Kamu menunduk sejenak, mengepalkan jemari di atas pangkuan hingga kukumu menancap ke telapak tangan. “Aku bertahan di samping kamu karena kamu selalu bilang, Sabar. Tapi ternyata apa? Kamu cuma nunggu momen di mana kamu bisa nyerah tanpa kelihatan jahat.” #heeseung
pov: “Aku akan menikah dengan orang lain, yn.” Kamu sempat mengira pendengaranmu keliru. Tanganmu yang sejak tadi sibuk mengaduk minuman berhenti begitu saja, sementara senyum kecil yang hendak kamu tunjukkan kepada Heeseung perlahan menghilang. Kamu menatapnya beberapa saat, menunggu laki-laki itu tertawa dan mengaku bahwa perkataannya barusan hanyalah lelucon buruk. Namun, Heeseung tetap diam, bahkan tidak sekalipun mengangkat wajahnya untuk membalas tatapanmu. “Apaan, sih? Nggak lucu, Heeseung.” Kamu tertawa kecil, meski suaramu terdengar canggung. “Bercanda kamu sore ini kelewatan.” “Aku serius, yn.” Dua kata itu membuatmu kehilangan alasan untuk tersenyum. Kamu meletakkan sendok di atas tatakan cangkir, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Ada banyak hal yang ingin kamu tanyakan, tetapi semuanya terasa berdesakan di kepala sampai kamu kesulitan menentukan harus mulai dari mana. Heeseung akhirnya mengangkat wajah. “Pernikahannya bulan depan. Keluarga aku sudah mengatur semuanya.” “Terus, kamu setuju?” Dia terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Aku nggak punya pilihan.” Kamu menatapnya tidak percaya. Selama empat tahun bersama, kamu sudah mendengar berbagai janji tentang masa depan kalian. Heeseung selalu mengatakan bahwa keluarganya memang sulit menerima orang baru, tetapi dia akan berusaha membuat mereka mengerti. Bahkan ketika ibunya secara terang-terangan merendahkanmu, laki-laki itu meminta kamu bersabar dan berjanji akan menyelesaikan semuanya. Karena itulah kamu bertahan, sekalipun berkali-kali harus menelan perlakuan yang menyakitkan dari keluarganya. Sekarang, ketika semuanya benar-benar menuntut keberanian darinya, Heeseung justru duduk di hadapanmu dan menyampaikan bahwa hubungan kalian harus berakhir, seolah empat tahun yang sudah dilewati bersama tidak cukup berarti untuk diperjuangkan. “Kenapa?” tanyamu akhirnya. “Kamu pernah bilang bakal memperjuangkan aku. Kamu sendiri yang minta aku bertahan waktu Mama kamu menghina keluargaku. Sekarang kamu malah bilang nggak punya pilihan?” Heeseung mengembuskan napas panjang. “Papa mengancam bakal mencabut posisi aku di perusahaan kalau aku menolak pernikahan ini. Semua akses yang selama ini aku punya juga bisa dicabut. Aku bisa kehilangan semuanya, yn.” Untuk beberapa saat, kamu tidak mampu menjawab. Bukan karena tidak mengerti betapa besar tekanan yang dihadapinya, melainkan karena kamu tidak pernah menyangka bahwa pada akhirnya ia akan memilih mempertahankan semua yang dimilikinya daripada memperjuangkan hubungan kalian. “Jadi cuma karena itu?” Suaramu nyaris hilang, tertahan di kerongkongan. Kamu menggelengkan kepala lambat-lambat, menatap wajah pria yang selama ini kamu anggap sebagai pelindungmu. “Bicara yang jelas sama aku, Heeseung. Jadi selama empat tahun ini, janji kamu untuk bawa aku ke depan keluarga kamu itu cuma omong kosong?” Heeseung mengalihkan pandangan ke samping, membiarkan kebisingan samar kafe sore itu mengisi kekosongan di antara kalian. “Kamu nggak tahu seberapa besar tekanan dari Papa.” “Dan kamu nggak pernah tau seberapa hancurnya aku waktu Mama kamu panggil aku sendirian cuma buat ditunjuk-tunjukkan mana kelas sosial aku dan mana kelas kalian!” Suaramu meninggi, memancing pandangan sekilas dari beberapa pengunjung lain. Kamu menunduk sejenak, mengepalkan jemari di atas pangkuan hingga kukumu menancap ke telapak tangan. “Aku bertahan di samping kamu karena kamu selalu bilang, Sabar. Tapi ternyata apa? Kamu cuma nunggu momen di mana kamu bisa nyerah tanpa kelihatan jahat.” #heeseung

About