@minjuugc: @Rom&nd US coming out with more and more lip combos everyday I can’t keep up 😭 @롬앤 romand #romand #lipduo #fallbrown #DiscoverYourGift #TikTokShopBlackFriday

Minju | K-Beauty Colorist
Minju | K-Beauty Colorist
Open In TikTok:
Region: US
Monday 19 October 2026 23:32:28 GMT
355
5
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @minjuugc, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Banyak yang mengira GERD hanyalah gangguan pencernaan biasa yang jarang terjadi. Padahal kalau dilihat dari berbagai penelitian di rumah sakit-rumah sakit Indonesia, jumlah penderitanya ternyata cukup besar, bahkan di beberapa tempat lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara Asia lainnya. Menariknya, hingga saat ini Indonesia belum memiliki data epidemiologi nasional yang pasti soal berapa banyak penduduknya yang mengidap GERD. Namun dari sejumlah penelitian berbasis rumah sakit, gambarannya cukup meyakinkan. Salah satu penelitian di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta menemukan bahwa dari seluruh pasien yang menjalani pemeriksaan endoskopi karena keluhan pencernaan, sekitar 22,8 persen di antaranya ternyata mengalami esofagitis, yaitu peradangan kerongkongan akibat refluks asam lambung yang sudah cukup parah. Sementara itu, penelitian di RSUD Dr. Soetomo Surabaya menunjukkan pola yang juga menarik, jumlah penderita GERD cenderung terus meningkat seiring pertambahan usia, terutama mulai rentang usia 31 tahun ke atas. Studi lain di kalangan pelajar bahkan menemukan angka kejadian GERD yang cukup tinggi, berkisar 30 hingga 50 persen tergantung lokasi penelitian, dengan kebiasaan konsumsi kopi kekinian disebut sebagai salah satu faktor yang berkontribusi. Dibandingkan negara-negara Asia Timur yang umumnya mencatat prevalensi GERD sekitar 2 hingga 8 persen, sejumlah data dari rumah sakit di Indonesia justru menunjukkan angka yang lebih tinggi. Hal ini diperkirakan berkaitan dengan faktor gaya hidup, pola makan, dan kebiasaan sehari-hari masyarakat yang terus berubah, mulai dari konsumsi kopi berlebihan, makanan cepat saji, hingga tingkat stres yang semakin tinggi di kalangan usia produktif. Belum adanya data nasional yang menyeluruh justru menjadi tantangan tersendiri. Tanpa gambaran pasti soal skala permasalahannya, banyak kasus GERD yang mungkin belum terdeteksi atau masih dianggap keluhan ringan yang tidak perlu diperiksakan ke dokter. Kalau kamu termasuk yang sering mengalami gejala seperti perih di ulu hati, dada terasa panas, atau mual berulang, jangan tunggu sampai jadi statistik yang terlambat tertangani. Memeriksakan diri sejak gejala awal muncul jauh lebih baik daripada menunggu kondisi memburuk. Bagikan ke orang terdekatmu, biar lebih banyak yang sadar bahwa GERD bukan masalah kecil di Indonesia. Sumber: Alomedika,
Banyak yang mengira GERD hanyalah gangguan pencernaan biasa yang jarang terjadi. Padahal kalau dilihat dari berbagai penelitian di rumah sakit-rumah sakit Indonesia, jumlah penderitanya ternyata cukup besar, bahkan di beberapa tempat lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara Asia lainnya. Menariknya, hingga saat ini Indonesia belum memiliki data epidemiologi nasional yang pasti soal berapa banyak penduduknya yang mengidap GERD. Namun dari sejumlah penelitian berbasis rumah sakit, gambarannya cukup meyakinkan. Salah satu penelitian di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta menemukan bahwa dari seluruh pasien yang menjalani pemeriksaan endoskopi karena keluhan pencernaan, sekitar 22,8 persen di antaranya ternyata mengalami esofagitis, yaitu peradangan kerongkongan akibat refluks asam lambung yang sudah cukup parah. Sementara itu, penelitian di RSUD Dr. Soetomo Surabaya menunjukkan pola yang juga menarik, jumlah penderita GERD cenderung terus meningkat seiring pertambahan usia, terutama mulai rentang usia 31 tahun ke atas. Studi lain di kalangan pelajar bahkan menemukan angka kejadian GERD yang cukup tinggi, berkisar 30 hingga 50 persen tergantung lokasi penelitian, dengan kebiasaan konsumsi kopi kekinian disebut sebagai salah satu faktor yang berkontribusi. Dibandingkan negara-negara Asia Timur yang umumnya mencatat prevalensi GERD sekitar 2 hingga 8 persen, sejumlah data dari rumah sakit di Indonesia justru menunjukkan angka yang lebih tinggi. Hal ini diperkirakan berkaitan dengan faktor gaya hidup, pola makan, dan kebiasaan sehari-hari masyarakat yang terus berubah, mulai dari konsumsi kopi berlebihan, makanan cepat saji, hingga tingkat stres yang semakin tinggi di kalangan usia produktif. Belum adanya data nasional yang menyeluruh justru menjadi tantangan tersendiri. Tanpa gambaran pasti soal skala permasalahannya, banyak kasus GERD yang mungkin belum terdeteksi atau masih dianggap keluhan ringan yang tidak perlu diperiksakan ke dokter. Kalau kamu termasuk yang sering mengalami gejala seperti perih di ulu hati, dada terasa panas, atau mual berulang, jangan tunggu sampai jadi statistik yang terlambat tertangani. Memeriksakan diri sejak gejala awal muncul jauh lebih baik daripada menunggu kondisi memburuk. Bagikan ke orang terdekatmu, biar lebih banyak yang sadar bahwa GERD bukan masalah kecil di Indonesia. Sumber: Alomedika, "Epidemiologi GERD" Jurnal Health and Science Gorontalo, prevalensi data RSUPN Cipto Mangunkusumo dan RSUD Dr. Soetomo Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan diagnosis atau saran tenaga medis profesional. #kesehatan #kesehatanindonesia #infokesehatan #edukasikesehatan #tipssehat

About