@subin_house: Đừng quên bổ sung Dầu ăn dặm cho bé nha các mom #anpaso #dauandam #dauandamchobe #andam #mebimsua

SuBin House 🥰
SuBin House 🥰
Open In TikTok:
Region: VN
Tuesday 20 October 2026 02:46:01 GMT
5
1
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @subin_house, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

.....“Pak Rey, sementara berhenti menulis dulu, ya. Beri tubuh Bapak waktu sampai kesehatannya pulih,” ujar dokter perempuan itu. Aku menatapnya, lalu melirik laptop di meja samping ranjang. “Dok, menulis refleksi dan afirmasi memang hobi saya. Tapi itu juga profesi saya. Kalau berhenti menulis, nanti saya kebingungan menebus resep Dokter… hehehe.” Suster yang sedang memeriksa infusku tersenyum. Pasien laki-laki di ranjang sebelah ikut terkekeh. “Bapak masih sempat bercanda,” katanya. “Kalau diam terus, takut kepikiran tagihan, Pak.” Tawa kecil mengisi ruangan sebelum dokter kembali bicara. “Saya mengerti pekerjaan Bapak penting. Makanya, pemulihan ini juga perlu diberi waktu.” Aku mengangguk. Mendadak kalimat itu terasa lebih panjang daripada nasihat yang biasa kutulis. “Bapak menulis tentang apa?” tanya suster. “Tentang perempuan. Sejak 2010, saya menulis refleksi tentang mereka yang dikhianati, kesepian dalam pernikahan, kehilangan seseorang, sampai ibu-ibu yang tetap mengurus semua orang meskipun dirinya kelelahan.” Pasien sebelahku menoleh. “Istri saya begitu. Kalau ditanya capek, jawabnya selalu enggak.” “Mungkin memang sedang sanggup, Pak,” jawabku. “Tapi sesekali coba tanyakan lebih jelas: bagian mana yang bisa saya bantu hari ini?” Ia terdiam, kemudian meraih ponselnya. Dokter menarik kursi mendekat. “Perempuan juga sering merasa bersalah ketika beristirahat.” “Iya, Dok. Seolah rumah harus selalu rapi sebelum mereka boleh duduk. Semua orang harus tenang sebelum mereka boleh mengakui pikirannya sendiri sedang berantakan.” Suster menghela napas. “Kadang ingin didengarkan saja, Pak. Belum tentu sedang meminta solusi.” Aku tersenyum kecil. “Itu juga yang sedang saya pelajari. Jangan sampai saya terlalu sibuk menyiapkan nasihat sampai lupa mendengarkan cerita yang belum selesai.” “Lalu perempuan yang bahagia?” tanya dokter. “Saya tulis juga. Tentang hubungan yang saling menghormati, sahabat yang tulus, pekerjaan yang diusahakan, dan kebahagiaan sederhana. Kehidupan perempuan terlalu luas kalau hanya dikenang melalui lukanya.” Aku memandang layar laptop yang belum kututup. “Semua itu ada dalam e-book terbaru saya, AKU BELUM SELESAI MENULIS TENTANGMU. Ada perjalanan menulis, pengkhianatan yang membuat seseorang meragukan dirinya, rumah yang ramai tetapi terasa sepi, kelelahan seorang ibu, dan kehilangan yang tidak selesai hanya karena kalender berganti.” “Termasuk penulis yang susah disuruh istirahat?” goda suster. Aku tertawa pelan. “Termasuk. Buku ini punya 116 halaman, 12 bab, 60 pertanyaan renungan, dan 84 afirmasi. Bagian akhirnya tentang belajar menerima perhatian dan beristirahat tanpa merasa bersalah.” Dokter melirik laptopku. “Kalau begitu, coba jalani juga kalimat yang Bapak tulis.” Tanganku berhenti di tepi layar. Selama ini aku sering mengatakan kepada perempuan bahwa mereka layak dirawat. Siang itu, aku perlu memberi tempat bagi diriku dalam kalimat yang sama. Aku menutup laptop. “Baik, Dok. Ceritanya menunggu dulu. Penulisnya mau belajar istirahat.” Untuk kamu yang sering menguatkan orang lain sambil menyimpan lelah sendiri, semoga buku ini dapat menemanimu. Dapatkan e-book “AKU BELUM SELESAI MENULIS TENTANGMU” melalui DM atau tautan di bio profilku. Salam hangat,  Rey  🔏Penulis Refleksi  🎧Pendiri Ruang Refleksi Rey Inspire  #refleksidiri #writers #sick #icu #storytelling
.....“Pak Rey, sementara berhenti menulis dulu, ya. Beri tubuh Bapak waktu sampai kesehatannya pulih,” ujar dokter perempuan itu. Aku menatapnya, lalu melirik laptop di meja samping ranjang. “Dok, menulis refleksi dan afirmasi memang hobi saya. Tapi itu juga profesi saya. Kalau berhenti menulis, nanti saya kebingungan menebus resep Dokter… hehehe.” Suster yang sedang memeriksa infusku tersenyum. Pasien laki-laki di ranjang sebelah ikut terkekeh. “Bapak masih sempat bercanda,” katanya. “Kalau diam terus, takut kepikiran tagihan, Pak.” Tawa kecil mengisi ruangan sebelum dokter kembali bicara. “Saya mengerti pekerjaan Bapak penting. Makanya, pemulihan ini juga perlu diberi waktu.” Aku mengangguk. Mendadak kalimat itu terasa lebih panjang daripada nasihat yang biasa kutulis. “Bapak menulis tentang apa?” tanya suster. “Tentang perempuan. Sejak 2010, saya menulis refleksi tentang mereka yang dikhianati, kesepian dalam pernikahan, kehilangan seseorang, sampai ibu-ibu yang tetap mengurus semua orang meskipun dirinya kelelahan.” Pasien sebelahku menoleh. “Istri saya begitu. Kalau ditanya capek, jawabnya selalu enggak.” “Mungkin memang sedang sanggup, Pak,” jawabku. “Tapi sesekali coba tanyakan lebih jelas: bagian mana yang bisa saya bantu hari ini?” Ia terdiam, kemudian meraih ponselnya. Dokter menarik kursi mendekat. “Perempuan juga sering merasa bersalah ketika beristirahat.” “Iya, Dok. Seolah rumah harus selalu rapi sebelum mereka boleh duduk. Semua orang harus tenang sebelum mereka boleh mengakui pikirannya sendiri sedang berantakan.” Suster menghela napas. “Kadang ingin didengarkan saja, Pak. Belum tentu sedang meminta solusi.” Aku tersenyum kecil. “Itu juga yang sedang saya pelajari. Jangan sampai saya terlalu sibuk menyiapkan nasihat sampai lupa mendengarkan cerita yang belum selesai.” “Lalu perempuan yang bahagia?” tanya dokter. “Saya tulis juga. Tentang hubungan yang saling menghormati, sahabat yang tulus, pekerjaan yang diusahakan, dan kebahagiaan sederhana. Kehidupan perempuan terlalu luas kalau hanya dikenang melalui lukanya.” Aku memandang layar laptop yang belum kututup. “Semua itu ada dalam e-book terbaru saya, AKU BELUM SELESAI MENULIS TENTANGMU. Ada perjalanan menulis, pengkhianatan yang membuat seseorang meragukan dirinya, rumah yang ramai tetapi terasa sepi, kelelahan seorang ibu, dan kehilangan yang tidak selesai hanya karena kalender berganti.” “Termasuk penulis yang susah disuruh istirahat?” goda suster. Aku tertawa pelan. “Termasuk. Buku ini punya 116 halaman, 12 bab, 60 pertanyaan renungan, dan 84 afirmasi. Bagian akhirnya tentang belajar menerima perhatian dan beristirahat tanpa merasa bersalah.” Dokter melirik laptopku. “Kalau begitu, coba jalani juga kalimat yang Bapak tulis.” Tanganku berhenti di tepi layar. Selama ini aku sering mengatakan kepada perempuan bahwa mereka layak dirawat. Siang itu, aku perlu memberi tempat bagi diriku dalam kalimat yang sama. Aku menutup laptop. “Baik, Dok. Ceritanya menunggu dulu. Penulisnya mau belajar istirahat.” Untuk kamu yang sering menguatkan orang lain sambil menyimpan lelah sendiri, semoga buku ini dapat menemanimu. Dapatkan e-book “AKU BELUM SELESAI MENULIS TENTANGMU” melalui DM atau tautan di bio profilku. Salam hangat, Rey 🔏Penulis Refleksi 🎧Pendiri Ruang Refleksi Rey Inspire #refleksidiri #writers #sick #icu #storytelling

About