Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
API
Home
How To Use
Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
Home
Detail
@mary_gigia: @ℳ𝒜ℛℐ𝒦𝒜🧸 @𝒢𝒾𝒶𝒹𝒶🍃
mary_gigia
Open In TikTok:
Region: IT
Tuesday 20 October 2026 13:19:19 GMT
4037
746
6
58
Music
Download
No Watermark .mp4 (
1.52MB
)
No Watermark(HD) .mp4 (
1.52MB
)
Watermark .mp4 (
0MB
)
Music .mp3
Comments
Giuseppe⚡️👾 :
2026-10-20 13:29:32
0
Sofi :
mie
2026-10-20 16:18:30
1
christian :
2026-10-20 13:33:04
0
CAPOREIZ :
e anche oggi
2026-10-20 17:38:02
1
luca000 :
ehi vedi in dm un attimo è urgente e ti riguarda personalmente
2026-10-20 20:58:57
0
To see more videos from user @mary_gigia, please go to the Tikwm homepage.
Other Videos
🍂✨ Hope everyone had a GREAT Monday and a wonderful start to the new week! ❤️☕ Here’s to fresh starts, positive vibes, and good things coming our way! 🍁🤎 #YayasPlace #MondayMotivation #FreshStart #FallVibes #SmallBusinessLove #NewWeekNewBlessings
#حسبي_الله_ونعم_الوكيل
Ketika seseorang sudah mampu membedakan dengan jelas antara objek yang diamati (pikiran, perasaan, tubuh fisik, memori, ego) dan Sang Pengamat (kesadaran murni, batin yang bening), muncullah pertanyaan besar: Lalu, di mana letak "Ketuhanan" atau Yang Ilahi di dalam realitas ini? Dalam ranah batin dan self-inquiry yang mendalam, pemahaman tentang Ketuhanan tidak lagi dicari sebagai objek di luar sana, melainkan disingkap dari struktur kesadaran itu sendiri melalui beberapa lapisan pemahaman: 1. Sang Pengamat Murni Adalah "Percikan" Ketuhanan Itu Sendiri Jika Anda terus mengamati ke dalam—menembus lapisan pikiran, menembus emosi, menembus lapisan memori dan identitas diri—pada akhirnya Anda akan sampai pada titik keheningan paling mendasar: Kesadaran itu sendiri. Kesadaran yang menyaksikan (The Witness atau The Seer) tidak memiliki bentuk, tidak memiliki warna, tidak bisa dilukai oleh kesedihan, dan tidak menua oleh waktu. Dalam berbagai tradisi kebijaksanaan, inti kesadaran murni inilah yang sering disebut sebagai Percikan Ilahi, Roh Suci, atau Atman yang menyatu dengan Brahman. Jadi, Ketuhanan bukanlah sesuatu yang diamati oleh Sang Pengamat, melainkan esensi dari Sang Pengamat itu sendiri. Anda tidak melihat Tuhan dengan mata kepala, tetapi Tuhan di dalam diri Anda bertindak sebagai kesadaran yang menyaksikan segala sesuatu. 2. Meburnya Sekat Antara "Yang Mengamati" dan "Yang Diamati" Pada tahap awal latihan, pembedaan ini mutlak diperlukan agar kita tidak terseret arus pikiran (kita merasa terpisah dari pikiran kita). Namun, jika terus didalami secara konsisten sampai ke akarnya, dualitas ini akan runtuh: Pada tingkat kesadaran tertinggi (non-dualitas atau wahdatul wujud), lambat laun disadari bahwa tidak ada lagi jarak antara pengamat dan yang diamati. Pikiran muncul dari kesadaran, berlangsung di dalam kesadaran, dan larut kembali ke dalam kesadaran. Sama seperti ombak yang pada hakikatnya adalah air itu sendiri. Ketika batasan "aku yang mengamati" dan "pikiran yang diamati" melebur, yang tersisa hanyalah Kehadiran Tunggal yang melingkupi semuanya. Pengalaman inilah yang sering dideskripsikan oleh para pencari kebenaran sebagai pengalaman "mengenal Tuhan dengan mengenal diri sendiri". 3. Ketuhanan Terlihat dari Kualitas Ruang (Space) dan Kasih Sayang Bagaimana cara mengenali dimensi Ketuhanan ini dalam kehidupan sehari-hari? Bukan dari seberapa sakti atau hebatnya seseorang, melainkan dari kualitas ruang batinnya: Ketiadaan Beban (Kebebasan): Ketuhanan tercermin dari rasa damai (peace that surpasses understanding). Sekalipun di luar sedang badai masalah atau pikiran sedang riuh, ada satu titik di dalam diri yang tetap hening, utuh, dan tidak tersentuh. Belas Kasih Tanpa Syarat (Unconditional Compassion): Ketika seseorang berakar pada kesadaran murni, ia tidak lagi mudah menghakimi orang lain. Ia melihat bahwa orang lain pun sedang digerakkan oleh pola pikiran dan penderitaan yang sama. Dari sini lahir cinta kasih yang tulus, welas asih, dan ketulusan dalam bertindak. Titik Temu Jadi, manakah yang dikatakan sebagai Ketuhanan? Ketuhanan bukanlah pikiran yang muncul, bukan pula perasaan tenang yang dirasakan. Ketuhanan adalah Kesadaran Maha Luas (Kefanaan yang Sadar) yang menjadi latar belakang tempat segala isi semesta—baik pikiran, perasaan, maupun alam raya—datang dan pergi silih berganti. Ketika Anda menyadari diri Anda sebagai Sang Pengamat yang bening, pada detik itu pula Anda sedang menyadari kehadiran Yang Ilahi di dalam diri Anda. #KesadaranMurni #KeheninganBatin #SelfInquiry #Mindfulness #InnerPeace
Huwag mo nalang hayaan
Giới thiệu với các mom “Chiến thần ngoại giao” nhà mình, anh Văn Rich #mevabe #enfaenspire #HợpTácVớiMeadJohnsonNutrition
About
Robot
API
Legal
Privacy Policy