@irwin.brandee: Explore the complexities of a relationship where separation has led to deep realizations. Discover the hopeful feelings and uncertainties that come with wanting to reconnect. What are your thoughts on rekindling connections after conflict? #RelationshipInsights #TarotReading #EmotionalHealing #Connection #Intuition

IRWIN BRANDEE
IRWIN BRANDEE
Open In TikTok:
Region: US
Tuesday 20 October 2026 16:51:30 GMT
1672
123
16
8

Music

Download

Comments

dudsargus2011
FEARLESS((DUDS) :
no improvements of this connections???
2026-10-23 13:05:42
0
jackie.abiso
Jackie Abiso :
but i don't care with her anymore
2026-10-21 01:16:50
0
heidi.k.klein
Heidi :
He have to come correct!!
2026-10-20 17:18:06
2
maureen5783
Maureen :
Come lets fix things
2026-10-21 09:33:50
0
jim.baum5
Jim Baum :
Well, it’s been 100 days and then she still hasn’t talked to me. You’re always spot on but no communication.
2026-10-20 17:06:58
0
jackietokwe619
Jackie :
he lied to me
2026-10-20 18:22:49
0
liv11691
Liv :
[Perfect score] Resonates
2026-10-20 22:42:37
0
jack.witbooi5
Jack Witbooi :
ILL. BE WAITING. FOR. THEM
2026-10-20 20:58:50
0
user1261457969525
unknown :
GRATITUDE TO THE UNIVERSE
2026-10-20 23:09:03
0
gigiasa08
user friendly :
I’m still waiting and nothing is happening 😏
2026-10-21 03:43:08
0
expensive.babe01
Expensive babe :
Thank you universe
2026-10-20 22:24:13
0
imrankaudeer4
Imraan_G7LEADER_⚔️🇦🇫🛡️🥷 :
alhamdulillah for the update messenger
2026-10-20 19:18:13
0
ricardojuan43
Ricardo :
change
2026-10-20 23:17:05
0
my.pumpkin0
my pumpkin :
he is a cheater
2026-10-20 22:22:23
0
anujthakurii1
🪐 AJ Thakurii1 ♍🇳🇵🇸🇦 :
🙏🙏🙏
2026-10-21 04:34:14
0
To see more videos from user @irwin.brandee, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Biografi Kiai Abdul Karim (1) Di balik kemegahan dan popularitas Pondok Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, tentu saja terdapat peran penting dari para pendahulunya. Melalui berbagai usaha baik secara fisik maupun spiritual, pesantren ini telah menghasilkan banyak alumni yang memberikan kontribusi signifikan bagi masyarakat. Salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam hal ini adalah KH Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Dari segi penampilan, KH Abdul Karim tidak terlihat mencolok sebagai seorang kiai besar. Beliau dikenal sebagai sosok yang mengutamakan sikap rendah hati dan gaya hidup sederhana, sehingga kesan yang muncul adalah bahwa ia tampak seperti orang biasa, bukan seorang kiai besar. Bahkan, hanya segelintir orang yang benar-benar mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. -------- Profil Singkat -------- KH. Abdul Karim atau sering disapa Mbah Manab (1856 - 1954) adalah ulama pendiri Pondok Pesantren Lirboyo yang berlokasi di Desa Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Pada tahun 1908, ia menikah dengan putri Kiai Sholeh, Banjarmlati, Kediri bernama Siti Khodijah alias Nyai Dhomroh. Kiai Abdul Karim juga dikenal berada di garda terdepan dalam melawan penjajah, salah satunya bisa dilihat saat ia mengirimkan santri-santrinya ke Pertempuran Surabaya dan perlawanan terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) di Kediri dan sekitarnya. Keturunan Ny. Hj. Salamah (Istri K.H. Manshur Anwar) Ny. Hj. Zainab (Istri K.H. Mahrus Ali) Ny. Hj. Maryam (Istri K.H. Marzuqi Dahlan) Ny. Hj. Qamariyyah (Istri K.H. Zaini Munawwir) --------- Latar Belakang Keluarga --------- Nama asli Kiai Abdul Karim adalah Manab. Beliau dilahirkan sekitar tahun 1856 di Dukuh Banar, Desa Diyangan, Kawedanan Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, sebagai anak ketiga dari pasangan Abdur Rahim dan Salamah. Selain berprofesi sebagai petani, ayah Kiai Manab juga seorang pedagang. Sepeninggal ayahnya Abdur Rahim, Kiai Manab memutuskan untuk merantau demi menuntut ilmu,  Keinginan Kiai Manab dipicu oleh kharisma para alim ulama yang merupakan pengikut Pangeran Diponegoro, seperti Kiai Imam Rofi’i dari Bagelan dan Kiai Hasan Bashori dari Banyumas. Ia tidak ingin hanya menjadi orang biasa, sehingga meskipun berasal dari keluarga petani, ia percaya bahwa keturunan yang sejati adalah yang dihasilkan oleh generasi berikutnya, bukan yang sebelumnya. Bagi Kiai Manab,  𝙜𝙖𝙧𝙞𝙨 𝙠𝙚𝙩𝙪𝙧𝙪𝙣𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙡𝙢𝙪. --------- Perjalanan Menuntut Ilmu --------- di usia 14 tahun Atas izin dari orang tua, Kiai Manab berangkat menuju Jawa Timur. Dalam perjalanan, mereka tiba di Dusun Gurah, Kediri, Di tempat tersebut, Kiai Manab mulai nyantri untuk mempelajari ilmu-ilmu dasar, seperti ilmu amaliyah, sambil membantu memanen padi sebagai buruh. Setelah dirasa cukup, Kiai Manab melanjutkan nyantri di salah satu pesantren di Cepoko,  Selanjutnya, ia berpindah ke pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono, untuk memperdalam pemahaman Al-Qur’an. Seiring dengan berjalannya waktu, Kiai Manab semakin dewasa dan terus menambah ilmunya dengan giat. Ia merasa tidak puas hanya belajar di dua pesantren, sehingga ia pindah ke pesantren Sono di Sidoarjo, yang terkenal dengan pengajaran ilmu shorof.  Setelah itu, ia melanjutkan nyantri di pesantren Kedungdoro dan kemudian ke Madura untuk belajar dari Kiai Kholil Bangkalan (wafat tahun 1923) Pada saat itu, ia sudah berusia 40 tahun dan telah menunjukkan sebagai sosok seorang kiai. Para santri menganggap Kiai Manab sebagai kiai, tempat untuk bertanya, meminta nasihat, dan belajar. Kesulitan dan Cobaan--- Saat menuntut ilmu di madura kiai manab hanya memiliki sepasang pakaian,saat beliau mandi maka pakaiannya itu dibasuh sembari Berendam menunggu keringnya pakaian beliau menghafalkan nadzam Alfiyyah Ibn Malik.... bersambung. #lirboyo #khabdulkarimlirboyo #pplirboyo #ceramahkiairahmatullohfikri #kyaifikritentangkhabdulkarim
Biografi Kiai Abdul Karim (1) Di balik kemegahan dan popularitas Pondok Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, tentu saja terdapat peran penting dari para pendahulunya. Melalui berbagai usaha baik secara fisik maupun spiritual, pesantren ini telah menghasilkan banyak alumni yang memberikan kontribusi signifikan bagi masyarakat. Salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam hal ini adalah KH Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Dari segi penampilan, KH Abdul Karim tidak terlihat mencolok sebagai seorang kiai besar. Beliau dikenal sebagai sosok yang mengutamakan sikap rendah hati dan gaya hidup sederhana, sehingga kesan yang muncul adalah bahwa ia tampak seperti orang biasa, bukan seorang kiai besar. Bahkan, hanya segelintir orang yang benar-benar mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. -------- Profil Singkat -------- KH. Abdul Karim atau sering disapa Mbah Manab (1856 - 1954) adalah ulama pendiri Pondok Pesantren Lirboyo yang berlokasi di Desa Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Pada tahun 1908, ia menikah dengan putri Kiai Sholeh, Banjarmlati, Kediri bernama Siti Khodijah alias Nyai Dhomroh. Kiai Abdul Karim juga dikenal berada di garda terdepan dalam melawan penjajah, salah satunya bisa dilihat saat ia mengirimkan santri-santrinya ke Pertempuran Surabaya dan perlawanan terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) di Kediri dan sekitarnya. Keturunan Ny. Hj. Salamah (Istri K.H. Manshur Anwar) Ny. Hj. Zainab (Istri K.H. Mahrus Ali) Ny. Hj. Maryam (Istri K.H. Marzuqi Dahlan) Ny. Hj. Qamariyyah (Istri K.H. Zaini Munawwir) --------- Latar Belakang Keluarga --------- Nama asli Kiai Abdul Karim adalah Manab. Beliau dilahirkan sekitar tahun 1856 di Dukuh Banar, Desa Diyangan, Kawedanan Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, sebagai anak ketiga dari pasangan Abdur Rahim dan Salamah. Selain berprofesi sebagai petani, ayah Kiai Manab juga seorang pedagang. Sepeninggal ayahnya Abdur Rahim, Kiai Manab memutuskan untuk merantau demi menuntut ilmu, Keinginan Kiai Manab dipicu oleh kharisma para alim ulama yang merupakan pengikut Pangeran Diponegoro, seperti Kiai Imam Rofi’i dari Bagelan dan Kiai Hasan Bashori dari Banyumas. Ia tidak ingin hanya menjadi orang biasa, sehingga meskipun berasal dari keluarga petani, ia percaya bahwa keturunan yang sejati adalah yang dihasilkan oleh generasi berikutnya, bukan yang sebelumnya. Bagi Kiai Manab, 𝙜𝙖𝙧𝙞𝙨 𝙠𝙚𝙩𝙪𝙧𝙪𝙣𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙡𝙢𝙪. --------- Perjalanan Menuntut Ilmu --------- di usia 14 tahun Atas izin dari orang tua, Kiai Manab berangkat menuju Jawa Timur. Dalam perjalanan, mereka tiba di Dusun Gurah, Kediri, Di tempat tersebut, Kiai Manab mulai nyantri untuk mempelajari ilmu-ilmu dasar, seperti ilmu amaliyah, sambil membantu memanen padi sebagai buruh. Setelah dirasa cukup, Kiai Manab melanjutkan nyantri di salah satu pesantren di Cepoko, Selanjutnya, ia berpindah ke pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono, untuk memperdalam pemahaman Al-Qur’an. Seiring dengan berjalannya waktu, Kiai Manab semakin dewasa dan terus menambah ilmunya dengan giat. Ia merasa tidak puas hanya belajar di dua pesantren, sehingga ia pindah ke pesantren Sono di Sidoarjo, yang terkenal dengan pengajaran ilmu shorof. Setelah itu, ia melanjutkan nyantri di pesantren Kedungdoro dan kemudian ke Madura untuk belajar dari Kiai Kholil Bangkalan (wafat tahun 1923) Pada saat itu, ia sudah berusia 40 tahun dan telah menunjukkan sebagai sosok seorang kiai. Para santri menganggap Kiai Manab sebagai kiai, tempat untuk bertanya, meminta nasihat, dan belajar. Kesulitan dan Cobaan--- Saat menuntut ilmu di madura kiai manab hanya memiliki sepasang pakaian,saat beliau mandi maka pakaiannya itu dibasuh sembari Berendam menunggu keringnya pakaian beliau menghafalkan nadzam Alfiyyah Ibn Malik.... bersambung. #lirboyo #khabdulkarimlirboyo #pplirboyo #ceramahkiairahmatullohfikri #kyaifikritentangkhabdulkarim

About