Peter :
Oke, Kita sama-sama lelah, sama-sama bekerja seumur hidup. Justru karena kita sama, pernyataanmu itu yang jadi salah. Kalau kita sama, kenapa lelahnya laki-laki harus kamu kecilkan dulu dengan kata "cih seolah-olah"? Kalau kita sama, bukankah seharusnya kamu akui juga kalau laki-laki itu memang lelah, tanpa harus dibanding-bandingkan sama lelahnya perempuan? Iya, kita sama-sama bekerja. Perempuan kerja di dalam dan di luar rumah, laki-laki juga. Tapi kalau kita sama, kenapa kamu anggap pekerjaan rumah tangga tidak dianggap, sementara pekerjaan laki-laki yang banting tulang di tambang, di jalan, di laut, yang kalau pulang tetap harus jadi tulang punggung, kamu anggap sebagai "seolah-olah paling menyedihkan"? Itu bukan kesetaraan, itu kompetisi penderitaan. Kamu bilang "jangan pernah lupa yang bekerja bukan hanya laki-laki saja" kami tidak pernah lupa. Kami para laki-laki justru kerja mati-matian karena tahu kalian juga bekerja, karena tahu kita sama-sama butuh hidup. Yang kami minta bukan dianggap paling sedih, tapi jangan dibikin seolah lelah kami itu drama. Jadi iya, kita sama. Sama-sama lelah, sama-sama berjuang. Makanya berhenti bikin narasi "laki-laki hidup hanya untuk bekerja itu cih". Kalau memang kita sama, hargai lelahnya sama-sama, bukan saling bantah siapa yang paling capek.
2026-10-21 09:40:20