Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
API
Home
How To Use
Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
Home
Detail
@ramsha.fatima1:
Ramsha Fatima
Open In TikTok:
Region: US
Thursday 22 October 2026 04:42:30 GMT
1
0
0
0
Music
Download
No Watermark .mp4 (
1.56MB
)
No Watermark(HD) .mp4 (
1.56MB
)
Watermark .mp4 (
0MB
)
Music .mp3
Comments
There are no more comments for this video.
To see more videos from user @ramsha.fatima1, please go to the Tikwm homepage.
Other Videos
Трек в тг: ссылка в описании профиля #музыка #песни #треки
#aopolonam #aopolonamcaocap
#khanfashionvibes #FYP #viral #TrendingNow #learnontiktok
Ibu yang Meninggal di Atas Motor Ternyata Dari Kecil Yatim Piatu Kita lanjutkan kisah Lu’lu Atunni’mah, ibu yang meninggal di atas sepeda motor. Almarhumah meninggalkan empat anak. Ternyata, beliau dari kecil juga anak yatim piatu. Simak lanjutan kisahnya sambil seruput Koptagul, wak! Ada perempuan sepanjang hidupnya seperti tak pernah diberi kesempatan untuk bernapas lega. Ketika kesedihan pertama belum sembuh, kehilangan berikutnya datang menghantam. Ia menangis, mengusap air mata, lalu kembali bekerja. Sebab, di rumah, ada empat anak harus makan. Ada masa depan harus diperjuangkan. Ada kehidupan tak boleh berhenti hanya karena hatinya berkali-kali dihancurkan. Perempuan itu bernama Lu’lu Atunni’mah. Usianya 38 tahun. Ia berasal dari Desa Jebeng, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Sejak kecil, Lu’lu sudah mengenal kehilangan. Kedua orang tuanya meninggal ketika ia masih muda. Ia kemudian diasuh Mbah Dhe, kakak dari neneknya. Masa kecil semestinya dipenuhi pelukan ayah dan ibu justru dilewatinya tanpa kehangatan mereka. Namun, Lu’lu tumbuh. Ia bersekolah di Madrasah Tsanawiyah, lalu melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah di Pondok Mayak. Ia membangun keluarga bersama Syamsuddin, yang pernah aktif dalam kepengurusan Ansor dan Banser. Barangkali, ia berharap badai kehidupannya telah berlalu. Ternyata belum. Sekitar dua tahun lalu, Syamsuddin meninggal dunia. Lu’lu kembali kehilangan orang dicintainya. Kali ini, ia bukan hanya harus menguatkan dirinya sendiri. Empat anak berdiri di belakangnya, menunggu seseorang bisa memastikan kehidupan mereka terus berjalan. Maka, ia bekerja. Apa saja yang halal, ia lakukan. Ia mencari daun pisang untuk dijual kepada pedagang dan warung makan. Ia berjualan rujak dan asinan. Ia mengumpulkan kain perca. Tak ada gengsi, tak ada pekerjaan dianggap terlalu rendah. Baginya, yang penting anak-anak bisa makan, bersekolah, dan memiliki masa depan. Nuan bayangkan. Betapa lelahnya tubuh itu. Seorang perempuan sejak kecil kehilangan orang tua, kemudian ditinggal suami, harus memikul beban keluarga dengan kedua tangannya sendiri. Ketika orang lain pulang untuk beristirahat, ia masih harus memikirkan bagaimana menyambung hidup esok hari. Tetangganya, Ahmad Iqdam Muslihuddin, mengenangnya sebagai pekerja keras. Keluarga pihak suami turut membantu, demikian pula pihak lain memberikan dukungan. Namun, Lu’lu tetap dikenal sebagai perempuan tak berhenti berjuang. Sabtu, 17 Oktober 2026, ia berpamitan untuk berobat ke bidan di Desa Gombang. Anak bungsunya, yang berusia sekitar tiga setengah tahun, ikut dibonceng. Perjalanan itu tak pernah berakhir sebagaimana yang diharapkan. Lu’lu ditemukan tak sadarkan diri di depan tempat pencucian kendaraan. Nyawanya tak tertolong. Seorang ibu berangkat untuk mengupayakan kesehatannya sendiri justru tak pernah kembali ke rumah. Kini, tiga anaknya masih menempuh pendidikan di pesantren dan Madrasah Ibtidaiyah. Si bungsu kehilangan ibu seharusnya memeluknya setiap malam. Rumah duka dipenuhi pelayat. Masyarakat berdatangan, menyampaikan belasungkawa dan dukungan. Namun, sebanyak apa pun orang hadir, tak seorang pun bisa mengembalikan sosok yang telah pergi. Kelak, ank-ank itu akan tumbuh. Mrka mungkin bertanya bagaimana ibunya dahulu bkerja, bagaimana ia mencari daun pisang, mnjajakan rujak, mengumpulkan kain perca, dan menahan lelah dmi mereka. Smga ada yang menceritakannya. Ibu kalian bukan perempuan kalah oleh kehidupan. Ia adlh pejuang terus berdiri, setelah dunia berkali-kali merobohkannya. Ya Allah, jga lh empat anak yang ditinggalkannya. Jangan biarkan mereka khilangan masa depan setelah khilangan kedua orang tua. tuk kita membaca kisah ini, jngn brhenti pda air mata. Bantulah mereka jika mampu. Sbb, perjuangan Lu’lu talk seharusnya brahir mnjdi cerita viral dilupakan esok hri. Ia telah khlngan orang tuanya, kehilangan suaminya, lalu meninggalkan empat ank yg kehilangan dirinya. Semoga dunia tdk kembali mengambil sesuatu dari mereka, ksmpatan tuk hidup dengan layak.
Nhà có trẻ con thì k thể thiếu cân đâu nha các mom👍#mebimsua #ajido #fyp #xuhuong #tiktok
About
Robot
API
Legal
Privacy Policy