@dulcineavalentin27: Kuntilanak behind filter 👻👻👻🎃🎃🎃👉#capcut #capcutpioneer

Evangeline
Evangeline
Open In TikTok:
Region: US
Thursday 22 October 2026 21:49:45 GMT
714127
24175
318
10582

Music

Download

Comments

kelliandpepper561
The Adventures of Kelli :
My absolute favorite 😂
2026-10-23 02:16:41
502
december_1.1
December :
This right here was the only response that was RIGHT
2026-10-23 01:09:58
488
the_last_braincell18
Last_Braincell :
where did he learn that language?! 😭
2026-10-23 02:45:45
12
imthegoatforever8
ℰ𝓁𝒾𝒿𝒶𝒽 𝒜𝓃𝒹ℯ𝓇𝓈ℴ𝓃 :
2026-10-22 22:29:53
149
enigma.1082
💙💙 :
The 1st kid 🤣🤣🤣🤣
2026-10-23 00:26:01
225
hope.renae
Hope Renae💙🩷💜 :
I think this trend is really mean and scary
2026-10-23 03:45:09
20
amanda_3261
AmandaGalloway :
🤣🤣🤣🤣 The first one was on point
2026-10-24 20:57:20
1
kathywatkins35
kathy :
this is terrible
2026-10-25 22:49:50
0
lucy.angel45
Lucy angel5 :
2nd girl in pink, I’m pretty sure her soul left her body😂😂😂😂
2026-10-23 00:42:37
48
mafioso90731
Mario Gutierrez :
im still dying from the 1st 1
2026-10-23 04:03:34
14
loraine913
eastbest :
Not funny at all
2026-10-23 00:14:28
23
mannoutdaway
mannoutdaway :
By far the best reaction 🤣🤣🤣
2026-10-23 01:41:56
39
day.walker75
Day Walker :
The first lil dudes reaction was cool compared to the other screaming their horrors out!😆😆😆😆
2026-10-23 02:51:20
11
lyndseyyh5
lyndseyphillips15 :
Saving this to come back and do it with my 5 year old. [Tears of joy]
2026-10-23 20:41:14
3
peggy.harbour
Peggy Harbour :
Just wrong, very wrong
2026-10-23 00:12:14
12
diva_reaux
Diva_Reaux :
Not funny
2026-10-23 00:41:09
2
aydenwaters6
⃟ :
2026-10-23 05:14:33
3
hillcountrydivadesigns
Christi@HillCountryDivaDesigns :
The first one was totally my kid. I could never prank him. He loved this shit. Still does.
2026-10-23 00:41:45
7
beaver_teats
Jaxon Haywood :
Im deceased. 😂
2026-10-24 04:15:54
3
pidge150
Pidge :
I'm sure I scarred my kid for life doing pranks on him. This one is great!
2026-10-23 02:38:20
2
lunabella9261
luna :
Not funny
2026-10-23 04:57:01
3
mekameek218
Mekameek2/18 :
not even funny
2026-10-23 02:46:43
4
dwest669
dwest :
Starting these kids off cursing. Wow
2026-10-23 00:47:47
1
asanc88
asanc88 :
Don’t scare these babies 😡
2026-10-23 02:40:30
3
mommad855
momma d :
Don’t scare kids like this!!! 😳
2026-10-24 01:56:32
2
To see more videos from user @dulcineavalentin27, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

BANYUWANGI (KM) – Gandrung Sewu merupakan salah satu ikon budaya Banyuwangi yang memiliki daya tarik besar, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan. Gelaran ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan seni, tetapi juga simbol kebanggaan daerah dan ruang promosi bagi potensi pariwisata serta ekonomi kreatif. Namun, kemegahan pertunjukan budaya tidak boleh menutup ruang publik untuk mempertanyakan transparansi pengelolaan anggaran. Dugaan adanya pemotongan Alokasi Dana Desa (ADD) sebesar Rp2 juta dari setiap desa untuk membiayai Gandrung Sewu perlu dijelaskan secara terbuka oleh pihak-pihak terkait. Ketua Aliansi Pemuda Peduli Masyarakat (APPM), Rofiq Azmi, menyampaikan bahwa masyarakat berhak mengetahui sumber pendanaan, mekanisme penghimpunan dana, serta penggunaan anggaran dalam setiap kegiatan yang melibatkan uang publik. “Gandrung Sewu adalah kebanggaan masyarakat Banyuwangi. Karena itu, pengelolaannya harus dilakukan secara transparan dan akuntabel. Jangan sampai kebanggaan terhadap budaya justru dijadikan alasan untuk mengabaikan pertanyaan publik mengenai anggaran,” ujar Rofiq Azmi saat ditemui di kediamannya, Minggu (25/10/2026). Menurutnya, apabila benar terdapat kontribusi dari pemerintah desa, maka harus ada kejelasan mengenai dasar hukum, mekanisme penganggaran, serta bentuk pertanggungjawabannya. Pemerintah desa juga tidak boleh dibebani kewajiban mengeluarkan anggaran tanpa memperoleh informasi yang memadai mengenai penggunaan dana tersebut. “Kami mempertanyakan, uang yang dihimpun dari desa itu digunakan untuk apa. Ketika sponsor berdatangan, UMKM turut berkontribusi, dan proposal sumbangan disampaikan kepada pemerintah desa, siapa sebenarnya pengelola keuangan Gandrung Sewu? Kepada siapa seluruh pemasukan dan pengeluaran itu dipertanggungjawabkan?” katanya. Rofiq juga menyoroti informasi mengenai penari yang disebut harus menanggung sendiri kebutuhan kostum dan perlengkapan. Menurutnya, persoalan tersebut perlu diklarifikasi agar tidak menimbulkan kesan bahwa beban pembiayaan justru dialihkan kepada para pelaku seni. “Para penari adalah bagian penting dari pertunjukan. Mereka tidak boleh hanya diposisikan sebagai pelengkap acara, sementara kebutuhan dasar mereka harus ditanggung sendiri. Jika ada anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan ini, maka penggunaannya harus benar-benar berpihak pada kelancaran acara dan kesejahteraan para pelaku seni,” ujarnya. APPM meminta pemerintah daerah dan pihak penyelenggara membuka dokumen anggaran, sumber pendanaan, aliran sumbangan, serta laporan pertanggungjawaban Gandrung Sewu kepada publik. Keterbukaan tersebut dinilai penting untuk mencegah munculnya dugaan penyalahgunaan anggaran sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan kegiatan budaya. Rofiq menegaskan, kritik terhadap pengelolaan anggaran tidak dapat dianggap sebagai serangan terhadap kebudayaan. Justru, pengawasan publik diperlukan agar kegiatan budaya tetap berjalan dengan tata kelola yang baik. “Kami tidak sedang menyerang budaya. Kami sedang menjaga agar kebudayaan tidak dijadikan tameng bagi ketidakjelasan anggaran. Gandrung Sewu boleh megah di panggung, tetapi pengelolaan uang rakyat harus terang-benderang dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya. Ia menambahkan, apabila benar ADD digunakan tidak sesuai peruntukannya, maka perlu dilakukan pemeriksaan oleh lembaga yang berwenang. Setiap pihak yang terlibat harus memberikan penjelasan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Transparansi anggaran bukan ancaman bagi kebudayaan. Sebaliknya, keterbukaan merupakan fondasi penting agar festival budaya dapat terus berkembang secara sehat, dipercaya masyarakat, dan tidak meninggalkan persoalan administratif maupun hukum di kemudian hari. Gandrung Sewu harus tetap menjadi kebanggaan Banyuwangi. Namun, di balik kemegahan panggung dan semarak pertunjukan, seluruh pengelolaan dana publik harus terbuka, terukur, dan dapat diaudit.
BANYUWANGI (KM) – Gandrung Sewu merupakan salah satu ikon budaya Banyuwangi yang memiliki daya tarik besar, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan. Gelaran ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan seni, tetapi juga simbol kebanggaan daerah dan ruang promosi bagi potensi pariwisata serta ekonomi kreatif. Namun, kemegahan pertunjukan budaya tidak boleh menutup ruang publik untuk mempertanyakan transparansi pengelolaan anggaran. Dugaan adanya pemotongan Alokasi Dana Desa (ADD) sebesar Rp2 juta dari setiap desa untuk membiayai Gandrung Sewu perlu dijelaskan secara terbuka oleh pihak-pihak terkait. Ketua Aliansi Pemuda Peduli Masyarakat (APPM), Rofiq Azmi, menyampaikan bahwa masyarakat berhak mengetahui sumber pendanaan, mekanisme penghimpunan dana, serta penggunaan anggaran dalam setiap kegiatan yang melibatkan uang publik. “Gandrung Sewu adalah kebanggaan masyarakat Banyuwangi. Karena itu, pengelolaannya harus dilakukan secara transparan dan akuntabel. Jangan sampai kebanggaan terhadap budaya justru dijadikan alasan untuk mengabaikan pertanyaan publik mengenai anggaran,” ujar Rofiq Azmi saat ditemui di kediamannya, Minggu (25/10/2026). Menurutnya, apabila benar terdapat kontribusi dari pemerintah desa, maka harus ada kejelasan mengenai dasar hukum, mekanisme penganggaran, serta bentuk pertanggungjawabannya. Pemerintah desa juga tidak boleh dibebani kewajiban mengeluarkan anggaran tanpa memperoleh informasi yang memadai mengenai penggunaan dana tersebut. “Kami mempertanyakan, uang yang dihimpun dari desa itu digunakan untuk apa. Ketika sponsor berdatangan, UMKM turut berkontribusi, dan proposal sumbangan disampaikan kepada pemerintah desa, siapa sebenarnya pengelola keuangan Gandrung Sewu? Kepada siapa seluruh pemasukan dan pengeluaran itu dipertanggungjawabkan?” katanya. Rofiq juga menyoroti informasi mengenai penari yang disebut harus menanggung sendiri kebutuhan kostum dan perlengkapan. Menurutnya, persoalan tersebut perlu diklarifikasi agar tidak menimbulkan kesan bahwa beban pembiayaan justru dialihkan kepada para pelaku seni. “Para penari adalah bagian penting dari pertunjukan. Mereka tidak boleh hanya diposisikan sebagai pelengkap acara, sementara kebutuhan dasar mereka harus ditanggung sendiri. Jika ada anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan ini, maka penggunaannya harus benar-benar berpihak pada kelancaran acara dan kesejahteraan para pelaku seni,” ujarnya. APPM meminta pemerintah daerah dan pihak penyelenggara membuka dokumen anggaran, sumber pendanaan, aliran sumbangan, serta laporan pertanggungjawaban Gandrung Sewu kepada publik. Keterbukaan tersebut dinilai penting untuk mencegah munculnya dugaan penyalahgunaan anggaran sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan kegiatan budaya. Rofiq menegaskan, kritik terhadap pengelolaan anggaran tidak dapat dianggap sebagai serangan terhadap kebudayaan. Justru, pengawasan publik diperlukan agar kegiatan budaya tetap berjalan dengan tata kelola yang baik. “Kami tidak sedang menyerang budaya. Kami sedang menjaga agar kebudayaan tidak dijadikan tameng bagi ketidakjelasan anggaran. Gandrung Sewu boleh megah di panggung, tetapi pengelolaan uang rakyat harus terang-benderang dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya. Ia menambahkan, apabila benar ADD digunakan tidak sesuai peruntukannya, maka perlu dilakukan pemeriksaan oleh lembaga yang berwenang. Setiap pihak yang terlibat harus memberikan penjelasan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Transparansi anggaran bukan ancaman bagi kebudayaan. Sebaliknya, keterbukaan merupakan fondasi penting agar festival budaya dapat terus berkembang secara sehat, dipercaya masyarakat, dan tidak meninggalkan persoalan administratif maupun hukum di kemudian hari. Gandrung Sewu harus tetap menjadi kebanggaan Banyuwangi. Namun, di balik kemegahan panggung dan semarak pertunjukan, seluruh pengelolaan dana publik harus terbuka, terukur, dan dapat diaudit.

About