@seabird38: #

Sea Bird 🔹
Sea Bird 🔹
Open In TikTok:
Region: KE
Saturday 24 October 2026 07:14:23 GMT
8923
1097
10
42

Music

Download

Comments

minionshanty50
Minion Shanty♥️💛💚 :
Ford mustang gt♥️😊
2026-10-24 07:23:35
2
nakhshartrahraya7
Nakhshartrah Rayannah✨💜 :
for real hawatufanyii poa😓😂😂
2026-10-24 09:05:56
1
oneseven157
Oscar Oscar jr :
so bad
2026-10-24 08:33:15
1
rotichtrade
ROTICH TRADES :
so baad asf
2026-10-24 10:13:07
0
fellexora
Fel✨||24th Dec HBD|| :
😂😂😂
2026-10-24 09:19:28
0
shania.dadys.girl
kompa gurl💋🥵🥵🥵 :
juu we hudoo😭🤣
2026-10-24 09:27:04
0
life.code01
📌LIFE CODE💚💛❤️ :
@milliechibela 🥹🥹 gotchu covered
2026-10-24 08:59:16
0
To see more videos from user @seabird38, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

KIAI ASEP DISOMASI, JUSTRU SIBUK MENCARI KELUARGA HASAN GIPO, KETUA PBNU PERTAMA! Polemik di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) kembali menjadi sorotan. Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim dikabarkan mendapat somasi dari KH Miftachul Akhyar dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul), bahkan disebut-sebut telah dilaporkan ke Bareskrim Polri. Kiai Asep sebelumnya lantang mengingatkan agar Muktamar ke-35 NU terbebas dari praktik risywah atau politik uang yang dapat mencederai marwah organisasi dan integritas para pengurusnya. Namun, bagaimana respons Kiai Asep terhadap kabar somasi tersebut? Alih-alih larut dalam polemik, Kiai Asep justru sibuk mencari keluarga KH Hasan Gipo, tokoh yang dipercaya menjadi Ketua Tanfidziyah PBNU pertama pada 1926. “Ya, alhamdulillah, keluarga Kiai Hasan Gipo sudah kita ketemukan,” ujar Kiai Asep kepada BANGSAONLINE pada Ahad malam, 18 Oktober 2026. Hasan Gipo memimpin Tanfidziyah NU pada 1926–1934, sementara Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari menjadi Rais Akbar. KH Abdul Wahab Hasbullah menjabat Katib Awal, sedangkan KH Abdul Chalim, ayahanda Kiai Asep, menjabat Katib Tsani. Langkah Kiai Asep mencari keturunan Hasan Gipo ini menarik perhatian. Di tengah polemik kepemimpinan NU, ia justru menelusuri kembali jejak sejarah dan keluarga tokoh yang ikut membangun fondasi organisasi sejak awal berdiri. Lantas, mengapa sejarah para pendiri NU perlu kembali diangkat? Apakah ini sekadar upaya menyambung silaturahmi dengan keluarga pendiri NU, atau sekaligus menjadi pengingat bahwa NU memiliki warisan sejarah, nilai, dan amanah yang harus dijaga oleh para penerusnya? Kritik Kiai Asep mengenai dugaan risywah dalam muktamar juga memunculkan pertanyaan lebih luas tentang transparansi, integritas, dan tanggung jawab moral para pemimpin NU. NU bukan milik segelintir elite. NU adalah amanah para muassis, para ulama, dan jutaan warga Nahdliyin. Siapa pun yang memimpin NU harus siap dievaluasi berdasarkan kapasitas keilmuan, keteladanan, dan integritasnya. Kritik harus dijawab dengan argumentasi dan fakta, sementara setiap dugaan pelanggaran harus diuji melalui mekanisme yang sah. Pada akhirnya, menjaga marwah NU bukan sekadar mempertahankan jabatan, melainkan merawat warisan para pendiri dan memastikan organisasi tetap berpihak pada kepentingan umat. #NU #PBNU #MuktamarNU #KiaiAsep #HasanGipo
KIAI ASEP DISOMASI, JUSTRU SIBUK MENCARI KELUARGA HASAN GIPO, KETUA PBNU PERTAMA! Polemik di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) kembali menjadi sorotan. Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim dikabarkan mendapat somasi dari KH Miftachul Akhyar dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul), bahkan disebut-sebut telah dilaporkan ke Bareskrim Polri. Kiai Asep sebelumnya lantang mengingatkan agar Muktamar ke-35 NU terbebas dari praktik risywah atau politik uang yang dapat mencederai marwah organisasi dan integritas para pengurusnya. Namun, bagaimana respons Kiai Asep terhadap kabar somasi tersebut? Alih-alih larut dalam polemik, Kiai Asep justru sibuk mencari keluarga KH Hasan Gipo, tokoh yang dipercaya menjadi Ketua Tanfidziyah PBNU pertama pada 1926. “Ya, alhamdulillah, keluarga Kiai Hasan Gipo sudah kita ketemukan,” ujar Kiai Asep kepada BANGSAONLINE pada Ahad malam, 18 Oktober 2026. Hasan Gipo memimpin Tanfidziyah NU pada 1926–1934, sementara Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari menjadi Rais Akbar. KH Abdul Wahab Hasbullah menjabat Katib Awal, sedangkan KH Abdul Chalim, ayahanda Kiai Asep, menjabat Katib Tsani. Langkah Kiai Asep mencari keturunan Hasan Gipo ini menarik perhatian. Di tengah polemik kepemimpinan NU, ia justru menelusuri kembali jejak sejarah dan keluarga tokoh yang ikut membangun fondasi organisasi sejak awal berdiri. Lantas, mengapa sejarah para pendiri NU perlu kembali diangkat? Apakah ini sekadar upaya menyambung silaturahmi dengan keluarga pendiri NU, atau sekaligus menjadi pengingat bahwa NU memiliki warisan sejarah, nilai, dan amanah yang harus dijaga oleh para penerusnya? Kritik Kiai Asep mengenai dugaan risywah dalam muktamar juga memunculkan pertanyaan lebih luas tentang transparansi, integritas, dan tanggung jawab moral para pemimpin NU. NU bukan milik segelintir elite. NU adalah amanah para muassis, para ulama, dan jutaan warga Nahdliyin. Siapa pun yang memimpin NU harus siap dievaluasi berdasarkan kapasitas keilmuan, keteladanan, dan integritasnya. Kritik harus dijawab dengan argumentasi dan fakta, sementara setiap dugaan pelanggaran harus diuji melalui mekanisme yang sah. Pada akhirnya, menjaga marwah NU bukan sekadar mempertahankan jabatan, melainkan merawat warisan para pendiri dan memastikan organisasi tetap berpihak pada kepentingan umat. #NU #PBNU #MuktamarNU #KiaiAsep #HasanGipo

About