@mylittlelionstory: #POV LOVE ME LIKE YOU HATE ME SPECIAL CHAPTER: THE LIFE WE CHOSE After everything we survived, I don't want a life without you. I want a lifetime where I get to love you the right way. 7. FOUR YEARS LATER — OUR LITTLE PRINCESS Empat tahun berlalu. Rumah yang dahulu terasa begitu sunyi kini dipenuhi suara langkah kaki kecil, tawa, tangisan, dan teriakan dua anak laki-laki yang sepertinya tidak pernah kehabisan energi. Park Siwon dan Park Seojun kini berusia empat tahun. Siwon tumbuh menjadi anak yang lebih tenang, suka membaca buku cerita bersama Y/N, dan sering duduk di pangkuan Jeongwoo ketika ayahnya membacakan dongeng sebelum tidur. Sementara Seojun? Dia adalah sumber utama kekacauan di rumah itu. Anak laki-laki tersebut mewarisi banyak tingkah Jeongwoo, terutama dalam hal keras kepala dan kemampuan berdebat. Pagi itu, Jeongwoo sedang duduk di sofa ruang tengah ketika Siwon datang membawa sebuah buku bergambar. "Ayah." Jeongwoo menoleh. "Kenapa, jagoan?" "Bacain buku." Jeongwoo tersenyum, lalu menepuk tempat kosong di sebelahnya. "Sini." Siwon langsung naik ke sofa dan duduk di sampingnya. Namun, belum sempat Jeongwoo membuka halaman pertama, Seojun datang sambil membawa mobil-mobilan. "Ayah! Lihat! Mobil aku lebih cepat daripada mobil Kakak!" Siwon langsung mengernyit. "Nggak! Mobil aku yang lebih cepat!" "Enggak!" "Iya!" Jeongwoo memejamkan mata. Ya Tuhan. Dua anak. Dua kepribadian. Dan keduanya sama-sama keras kepala. "WOI, SATU-SATU BISA NGGAK?!" Kedua anak itu langsung terdiam. Jeongwoo membuka mata dan menatap mereka bergantian. Lalu Seojun mengangkat tangan kecilnya. "Ayah." "Apa?" "Katanya nggak boleh teriak." Jeongwoo membeku. Siwon mengangguk serius. "Iya, Ayah. Kata Ibu kalau marah harus ngomong baik-baik." Jeongwoo menatap kedua putranya dengan ekspresi tidak percaya. Dua anak berusia empat tahun baru saja mengoreksi cara dirinya mengendalikan emosi. Dia menghela napas panjang. "...Iya. Ayah salah." Seojun langsung tersenyum lebar. "Berarti Ayah harus minta maaf!" Jeongwoo menatap putranya. Kemudian dia tertawa kecil. "Iya, jagoan. Ayah minta maaf." Siwon tersenyum puas. "Nah, gitu." Jeongwoo menggeleng sambil tertawa. "Astaga, anak siapa sih kalian?" Dari arah dapur, Y/N menjawab dengan santai. "ANAK KAMU, PARK JEONGWOO!" Jeongwoo langsung tertawa terbahak-bahak. "IYA, SAYANG! GUE TAHU!" Rumah itu kembali dipenuhi suara tawa. Dan Jeongwoo menyadari sesuatu. Terkadang, proses menjadi manusia yang lebih baik tidak datang melalui percakapan panjang atau kejadian besar. Terkadang, proses itu datang dari dua anak kecil yang mengingatkannya untuk tidak berteriak ketika sedang marah. Dari seorang istri yang tetap berani mengoreksinya. Dan dari rumah yang memberinya kesempatan untuk terus belajar. Pada sore yang hangat, Y/N duduk di sofa sambil memangku bayi perempuan mereka yang baru berusia beberapa bulan. Namanya Park Seol-ah (박설아). Nama yang dipilih Y/N karena terdengar lembut, anggun, dan memiliki kesan seperti salju pertama yang turun pada musim dingin. Bagi Jeongwoo, nama itu terdengar begitu indah ketika diucapkan bersama nama keluarga mereka. Seol-ah memiliki mata yang indah dan senyum kecil yang sering membuat Jeongwoo kehilangan kata-kata. Bayi perempuan itu menjadi anggota keluarga baru yang datang setelah empat tahun Siwon dan Seojun memenuhi rumah mereka dengan segala macam kekacauan. Dan sejak kelahirannya, Jeongwoo seperti memiliki pekerjaan baru. Menjadi ayah yang terlalu mudah luluh kepada putrinya sendiri. "Sayang, anak perempuan lo nangis lagi." Y/N yang sedang merapikan pakaian bayi di kamar langsung menoleh. "Jeongwoo, itu juga anak perempuan kamu!" "IYA, TAPI KENAPA DIA NANGIS SETIAP GUE BERHENTI JALAN?!" Y/N menahan tawa. "Ya digendong, dong!" "UDAH!" "Terus?" "MASIH NANGIS!" Y/N akhirnya berjalan keluar kamar dan menemukan Jeongwoo berdiri di tengah ruang keluarga sambil menggendong Seol-ah. Pria itu terlihat begitu kebingungan. lanjut di komen. #jeongwoo #treasure #teume #au
mylittlelion
Region: ID
Sunday 25 October 2026 06:54:24 GMT
Music
Download
Comments
mylittlelion :
Part 1
>Rambutnya sedikit berantakan, kausnya kusut, dan ekspresinya jauh lebih panik daripada ketika dia menghadapi masalah besar bertahun-tahun lalu.
>Y/N langsung tertawa.
>"Ya ampun, Jeongwoo."
>"Jangan ketawa! Gue serius!"
>Y/N mengambil putrinya, lalu mengayunkannya perlahan.
>Seol-ah yang tadinya menangis akhirnya diam.
>Jeongwoo menatap keduanya dengan ekspresi tidak percaya.
>"Loh?"
>Y/N tersenyum jahil.
>"Kenapa?"
>"Kok sama kamu langsung diam?"
>"Karena dia tahu siapa yang lebih jago."
>Jeongwoo menggeleng.
>"Pengkhianat kecil."
>Seolah memahami ucapan ayahnya, Seol-ah tiba-tiba tersenyum.
>Jeongwoo langsung membeku.
>Lalu seluruh ekspresinya berubah.
>"YA AMPUN, DIA SENYUM!"
>Y/N tertawa.
>"Iya, sayang. Dia senyum."
>Jeongwoo mendekat, lalu menyentuh pipi mungil putrinya dengan ujung jari.
>"Hai, putri Ayah."
>Suaranya berubah begitu lembut.
>"Kamu tahu nggak? Ayah sayang banget sama kamu."
>Seol-ah menggerakkan jemarinya, kemudian menggenggam salah satu jari Jeongwoo.
>Pria itu terdiam.
>Matanya mulai berkaca-kaca.
>Y/N memperhatikan suaminya dari samping, lalu tersenyum lembut.
>"Kenapa nangis?"
>Jeongwoo menggeleng.
>"Nggak."
>"Jeongwoo."
>Dia tertawa kecil sambil mengusap matanya.
>"Gue cuma... bahagia banget."
>Y/N mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Jeongwoo.
>Pria itu merangkul istrinya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap membiarkan Seol-ah menggenggam jarinya.
>Dari ruang tengah, terdengar suara Siwon dan Seojun yang sedang berdebat mengenai mainan.
>"Ibu! Seojun ambil mobil aku!"
>"Nggak! Ini mobil aku!"
>Y/N langsung menutup mata.
>Jeongwoo menoleh ke arah ruang tengah.
>Kemudian mereka berdua saling berpandangan.
>Satu detik.
>Dua detik.
>Lalu keduanya tertawa bersamaan.
>"Anak-anak kita," bisik Y/N.
>Jeongwoo mengecup keningnya.
>"Anak-anak kita."
>Dia menatap Siwon dan Seojun yang masih berdebat, lalu kembali menatap Seol-ah yang kini tertidur dalam pelukannya.
>Tiga anak.
>Satu rumah.
>Dan seorang perempuan yang masih berdiri di sampingnya setelah semua yang pernah mereka lalui.
>Jeongwoo menghela napas panjang, kemudian merangkul Y/N lebih erat.
2026-10-25 07:02:36
5
Nifah🍻 :
aku membayang kan sedang menemani dia rekaman, sambil menunggu. aku terus kagum akan bakat bernyanyi dan ketampanan yg tidak habis", lalu bergumam. ahhh dia kah calon suami ku[Tertawa sampai menangis]
2026-10-26 17:26:52
1
DLND :
lihat video ini di youtube yg judul nya apa teume?
2026-10-26 11:03:06
1
Ekawati 123 :
Terharu banget tau
2026-10-25 11:56:53
3
mylittlelion :
Part 2
>Dahulu, dia pernah mengira kebahagiaan adalah sesuatu yang harus direbut dengan paksa.
>Dia pernah berpikir bahwa semakin kuat dia menggenggam seseorang, semakin kecil kemungkinan orang itu akan meninggikalkannya.
>Namun, hidup mengajarinya sesuatu yang berbeda.
>Bahwa cinta tidak pernah bisa tumbuh dengan baik di bawah ancaman.
>Bahwa seseorang tidak akan merasa aman hanya karena terus-menerus dijaga.
>Dan bahwa keluarga bukanlah tempat untuk melampiaskan kemarahan, melainkan tempat untuk belajar memahami satu sama lain.
>Sekarang, Jeongwoo tidak lagi takut menghadapi hari esok.
>Dia tahu akan ada hari-hari ketika dirinya lelah.
>Akan ada saat-saat ketika dia melakukan kesalahan sebagai suami atau ayah.
>Akan ada masalah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu percakapan.
>Namun, dia juga tahu bahwa dia tidak harus kembali menjadi dirinya yang dahulu setiap kali keadaan terasa sulit.
>Dia bisa berhenti sejenak.
>Dia bisa mendengarkan.
>Dia bisa meminta maaf.
>Dan yang paling penting, dia bisa memilih untuk melakukan hal yang berbeda.
>Jeongwoo menatap Y/N yang kini tersenyum sambil mengusap punggung putri mereka.
>"Y/N?"
>"Hm?"
>"Terima kasih."
>Y/N mendongak.
>"Untuk apa?"
>Jeongwoo tersenyum lembut.
>"Untuk semua hal yang udah kita lewati. Untuk keberanian lo pergi waktu gue menyakiti lo. Untuk kesempatan yang akhirnya kita pilih bersama. Dan untuk rumah ini."
>Dia memandang ketiga anak mereka.
>"Untuk keluarga kita."
>Y/N menggenggam tangannya.
>"Kita sampai di sini karena kita sama-sama mau belajar, Jeongwoo."
>Jeongwoo mengangguk.
>"Iya."
>Dia mengecup kening istrinya.
>"Dan gue bakal terus belajar."
>Di luar jendela, matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung Seoul.
>Cahaya jingga memenuhi ruang keluarga, menyinari mainan yang berserakan di lantai, buku-buku cerita yang terbuka, dan foto keluarga yang terpajang di atas lemari.
>Dalam foto itu, Jeongwoo berdiri sambil menggendong Seol-ah. Y/N berada di sampingnya dengan Siwon dan Seojun yang memeluk kedua kaki ayah mereka.
>Senyum mereka terlihat begitu sederhana.
2026-10-25 07:05:46
5
mylittlelion :
@YoonSeoRaiia
@Ekawati 123
@Aya_nda🐶🐰
@jeojeongie🐺
Part 3
>Namun, bagi Jeongwoo, foto itu adalah bukti bahwa hidupnya tidak lagi ditentukan oleh kesalahan yang pernah dia lakukan.
>Dia tidak bisa mengubah masa lalunya.
>Dia tidak bisa menghapus rasa sakit yang pernah ditimbulkannya.
>Tetapi dia bisa memilih bagaimana dirinya menjalani hari ini.
>Dan dia bisa memastikan bahwa anak-anaknya tumbuh dengan pemahaman bahwa cinta tidak harus menyakitkan untuk menjadi berarti.
>Bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis.
>Bahwa meminta maaf bukanlah kelemahan.
>Dan bahwa mencintai seseorang tidak berarti memiliki hak atas seluruh hidupnya.
>Malam itu, ketika ketiga anak mereka akhirnya tertidur, Jeongwoo dan Y/N duduk berdampingan di balkon rumah.
>Jeongwoo menggenggam tangan istrinya.
>Tidak terlalu erat.
>Tidak pula seolah takut kehilangan.
>Hanya cukup untuk merasakan kehangatan seseorang yang memilih berada di sisinya.
>"Sayang?"
>Y/N menoleh.
>"Apa?"
>Jeongwoo tersenyum.
>"Gue bahagia."
>Y/N membalas senyumnya.
>"Gue juga."
>Jeongwoo menyandarkan kepalanya di bahu Y/N, lalu memandang langit malam yang dipenuhi bintang.
>Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak merasa harus melawan dunia.
>Dia tidak perlu membuktikan bahwa dirinya paling kuat.
>Dia tidak perlu berpura-pura bahwa dirinya tidak pernah terluka.
>Karena sekarang, dia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada semua hal yang dahulu dia kejar.
>Kedamaian.
>Rumah.
>Dan cinta yang tidak lagi meminta siapa pun untuk kehilangan dirinya sendiri.
>Kisah Park Jeongwoo dan Han Y/N mungkin dimulai dari kemarahan, ketakutan, serta luka yang hampir menghancurkan mereka. Namun, pada akhirnya, mereka belajar bahwa masa lalu tidak harus menjadi penjara bagi masa depan.
>Mereka tidak menjadi sempurna.
>Mereka hanya memilih untuk terus tumbuh.
>Dan terkadang, itulah bentuk cinta yang paling nyata.
---
2026-10-25 07:10:59
2
To see more videos from user @mylittlelionstory, please go to the Tikwm
homepage.